3 Cara Merayakan Adven: Merayakan Adven dengan Lebih Bermakna

Adven telah tiba.

Pernah ngitung udah berapa kali kamu merayakan Adven?

Sering kali orang lebih berfokus pada perayaan Natal. Salah sih nggak, tapi banyak yang melupakan pentingnya berhenti sebentar dan mulai merefleksikan pentingnya masa Adven. Gue dibaptis bukan dari bayi, tapi dari kelas dua SMP. Buat gue saat itu, masa Adven nggak punya arti karena sibuk mikirin kado Natal dan baju baru kayak apa yang bakal gue pake pas perayaan Ekaristi di Malam Natal nanti. Bahkan gue juga nggak ngerti kenapa perlu ada masa Adven dan kenapa juga nggak langsung aja masuk ke perayaan Natal. Tapi, itu dulu, sekarang masa Adven justru jadi masa yang baik buat melakukan beberapa hal yang bakal membuat perayaan Natal menjadi lebih berarti, lebih dewasa dalam iman, dan lebih punyak dampak bagi diri sendiri dan juga sesama.

Sebelum melihat 3 (tiga) cara yang ditawarkan untuk merayakan masa Adven, maka perlu memahami makna Adven terlebih dahulu. Adven, yang berarti ‘waiting’ ini memiliki pengertian bahwa kita menantikan tibanya perayaan hari kelahiran Yesus Kristus, Putera Allah yang mengambil rupa tubuh manusia, untuk menyelamatkan manusia dari segala bentuk dosa dan kelemahannya. Namun, masa Adven juga merupakan reminder buat kita, bahwa kita sebagai seorang pribadi, komunitas, dan Gereja sedang menantikan pemenuhan janji Kristus yang berkata akan datang kembali sebagai Raja di atas segala raja, saat setiap lutut akan bertelut dan setiap lidah akan mengaku bahwa Dialah Tuhan.

Dalam semangat persiapan kedatangan-Nya itulah, kita perlu melakukan beberapa cara untuk mendapatkan seluruh maksud Gereja dan rahmat yang tersedia dalam Masa Adven ini. Beberapa cara yang ditawarkan adalah berikut ini:

  1. Evaluasi diri

Bukan kebetulan masa Adven ada di penghujung tahun, sehingga menjadi waktu yang tepat untuk melakukan refleksi dan evaluasi diri kita, khususnya dalam kehidupan rohani kita. Mari kita renungkan:

  • Apakah Yesus telah sungguh-sungguh menjadi pusat dalam hidup kita: pola pikir, pola rasa, dan perilaku?
  • Apakah komitmen kita dalam berdoa, penyembahan, membaca Kitab Suci sudah berjalan dengan baik?
  • Apakah perayaan-perayaan Sakramen kita sudah dilakukan dengan ekspresi hati, motivasi, dan sikap batin yang benar?
  • Apakah dalam keputusan-keputusan yang kita buat, kita sudah belajar untuk mempertimbangkannya sesuai dengan kehendak Tuhan (melakukan discernmentyang benar)?
  • Apakah kita sudah berusaha menjalankan kemurnian hidup (chastity) dalam kehidupan, baik kita yang jomblo atau kita yang sudah menikah?
  • Apakah kita sudah memberikan diri dalam keluarga, komunitas, Gereja, dan masyarakat, dan mengusahakan supaya pemberian diri kita semakin baik, benar, dan indah?
  • Apakah kita sudah menjadi orang Kristen yang bersukacita?

Kiranya sabda Kristus ini memberi motivasi: “Bukan setiap orang yang berseru kepadaku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-ku yang di sorga,” (Mt 7:21).

  1. Evangelisasi

Gereja juga mengajak kita untuk mengingat bahwa masa Adven adalah undangan untuk melakukan evangelisasi. Mewartakan wafat dan kebangkitan Yesus Kristus dalam proses penyelamatan manusia dan dunia. Ini berlaku bukan cuma untuk Gereja dan institusi, tetapi juga untuk setiap pribadi pengikut Kristus. Iman atau kepercayaan nggak bisa cuma disimpan dalam hati saja, tetapi juga perlu diperkatakan dan diwujudkan dalam perbuatan. Dalam perayaan Ekaristi, ketika roti dan anggur diubah (dikonsekrasikan) menjadi Tubuh dan Darah Kristus, kata-kata yang kita ucapkan serempak, “kedatangan-Nya kita rindukan,” memiliki kedalaman gaung dari evangelisasi. Kita diundang menjadi para penjala manusia untuk menghantar, menemani, dan menunjukkan kepada mereka pada perjumpaan pribadi dengan Yesus Kristus yang hidup.

Rasul Paulus mengingatkan, “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan,” (Rm 10:9).

  1. Akselerasi

Untuk memastikan supaya kita mencapai dua cara di atas, maka di masa Adven ini, kita ditawarkan untuk memberi waktu setiap hari menyanyikan lagu-lagu penantian akan kedatangan Yesus yang kedua kali dalam kemuliaan-Nya, lagu-lagu yang bernafaskan perayaan perkawinan Anak Domba, antara Kristus dengan Gereja-Nya. Salah satu lirik yang sejalan dalam semangat itu adalah lirik lagu Taize berjudul “Jesus, remember me!” Jesus, remember me when You come into Your Kingdom. Jesus, remember me when You come into Your Kingdom.

Amin, datanglah, Tuhan Yesus!





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top