3 Hal Untuk Temanmu Yang Putus Cinta

Kamu pernah ada dalam keadaan saat kita harus menemani sahabat yang patah hati? Entah diputusin atau baru saja mutusin pacarnya, dan dia dalam keadaan putus asa, dan kita sedih banget melihat sahabat kita ada dalam kondisi seperti itu. Apa yang harus kita lakukan? Mungkin kita sudah ada di samping mereka, berusaha menghibur atau mendukung mereka. Selain itu, apa lagi yang bisa kita tawarkan kepadanya? Ini dia tiga hal yang bisa kamu berikan untuk temanmu yang putus cinta.

“Kalau kamu harus menangis, menangislah!” Tawarkan kepadanya untuk menangis.

Sewaktu kita menghadapi kenyataan kalau sebuah hubungan tidak berjalan dengan baik, dan kita harus mengakhirinya, sudah pasti kita akan merasakan “sakitnya tuh di sini”. Memang benar sakit banget. Sekalipun kamu sebagai teman mungkin melihat kalau mantan dari sahabatmu itu bukanlah orang yang tepat baginya. Kalau sahabatmu termasuk tipe yang mudah menangis, hadirlah bersamanya; kalau sahabatmu termasuk yang agak jaga image, kita bisa mengatakan kalau, “It’s ok to cry, each tear will cleanse your heart” (tahu nggak, air mata mengandung garam, salah satu jenis bahan antiseptik pembersih luka); tetapi untuk sahabat yang memang sangat mellow, ada baiknya kita membantu mereka menentukan timeout atau deadline sebelum mereka menghabiskan jatah 1,2 ml produksi air mata dalam satu hari.

Ada waktunya dalam hidup dimana kita terus tertawa dan merasa bahagia, tetapi ada masanya kita menangis (Pengkhotbah 3:4), and it’s ok karena Allah menampung air mata kita. Air mata menjadi sebuah cerita kehidupan. Bawalah setiap air mata kepada Tuhan karena Ia telah berjanji: “Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.” (Mazmur 126:5)

“Bukan melulu salahmu, dan bukan melulu salah mantan.” Ingatkan dia untuk melihat sesuatu pada porsinya.

Sewaktu saya menemani salah satu sahabat saya yang baru putus, pertanyaan yang sering dia lontarkan adalah, “Gue salah apa ya? Apa gue kurang cantik?” Atau salah seorang teman cowok saya terus mempertanyakan, “Apa gue kurang kaya ya? Apa gue ngga bisa dipercaya buat kerja keras?” Hal itu adalah pertanyaan yang wajar akan muncul ketika kita belum bisa berdamai dengan kenyataan. “Things happen and it’s ok,” adalah hal yang perlu diingat oleh sahabatmu. Ia perlu dibantu agar tidak menganalisa situasi dengan berlebihan, untuk percaya bahwa hal-hal terjadi demi sebuah alasan yang lebih baik, yang mungkin belum terlihat saat ini karena tertutup oleh rasa sakit.

Ingatkan dia untuk tidak mengikuti dorongan blame game. Apa yang terjadi memang menyebalkan dan menyakitnya. Bisa saja, memang terlalu banyak kebobrokan yang terjadi dalam hubungan ini. Namun, melemparkan penyebab rusaknya hubungan melulu kepada diri sendiri atau ke diri pasangan pun tidak akan membawa kebaikan, malah mungkin akan menanamkan bibit kepahitan yang akan merugikan diri sendiri. Apapun alasannya, jangan izinkan biarkan sahabatmu terbenam ke dalam lumpur keputusasaan, tetapi ingatkan dia untuk melihat segala sesuatu pada porsinya, serta temani dan ajak dia untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi daripada sebelumnya.

“The night comes for a hope of a new day. Sun will rise again tomorrow.” Ingatkan dia untuk tetap berharap.

Saya pernah ada dalam keadaan dimana saya harus menjaga ibu saya yang sedang sakit. Rasa takut kehilangan, rasa tanpa harapan, rasa ketakutan kalau-kalau malam ini berlalu, kalau-kalau ibu saya tidak akan bisa melewatinya. Malam menjadi sesuatu yang gelap, tanpa harapan, rasanya sesak dan dingin. Saat itu, luka terasa sangat menyakitkan dan tidak berujung. Kalau sahabat kita juga merasakan hal yang sama, ingatkan dia bahwa selama kita hidup di dunia, matahari akan bersinar lagi esok hari. Akan ada hari yang baru, hidup yang baru, dan Allah yang selalu memberikan kita rahmat dan kekuatan. Segala yang baru setiap pagi. Hari esok ada karena ada hari ini.

Seburuk apapun yang terjadi dalam hidup kita, hari ini akan membawa kebaikan untuk hidup kita. Allah tidak menjanjikan langit selalu biru, tetapi Ia berkata: “Aku ini mengetahui rancangan-rancangan  apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11)

Dan ajak sahabatmu mendekat kepada Yesus.

Setelah putus dari sesuatu yang rasanya ‘kepastian’ dalam hidup kita, hidup memang rasanya terombang-ambing dan tidak menentu arah. But it’s ok. Kita punya Allah yang besar, yang juga pernah terluka, disalib, bahkan sampai mati, karena cinta-Nya ditolak oleh kita umat-Nya. Ajaklah sahabatmu untuk kembali kepada Yesus, yang pasti paling mengerti keadaan hatinya. Mintalah kepada Yesus untuk menyembuhkan hatimu yang hancur dan terluka, minta bantuan-Nya supaya tetap percaya dan dekat dengan-Nya, dan yang terbaik akan terjadi dalam hidup kita.

Kita bisa saja menjadi teman yang ikut menemani bergosip atau berbicara buruk tentang mantan, seolah-olah kita jadi pembela sahabat kita yang utama. Namun, melakukan hal itu tidak membuat kondisi sahabatmu menjadi lebih baik, bisa jadi membuat lukanya tambah buruk dan mengakar. Kita bisa memilih untuk menjadi sahabat yang memberikan tough love, cinta dan perhatian yang kuat, dengan tantangan untuk memilih tetap percaya pada cinta—dan cinta itu adalah cinta Kristus, yang pada saatnya akan membuat kita mencapai kebahagiaan yang sejati.

About Lia Ariefano

Lia Ariefano adalah seorang dokter dan profesional medis di bidang kedokteran komplementer (biophysic medicine). Ia bekerja di sebuah perusahaan teknologi medis. Passion-nya adalah mewartakan harapan yang terpancar melalui anugerah kehidupan, serta penghayatan hidup sebagai perempuan. Bersama beberapa penulis perempuan, Lia berkontribusi dalam Renungan Harian Wanita Treasuring Womanhood. Ia juga salah satu penulis buku "You Deserve The Truth, Sexy and Holy, dan Wake Up Princess. Selain menulis, Lia juga mengajar di kelas Theology of The Body Insight (TOBIT), khususnya seputar issue identitas perempuan, relationship, dan anugerah kehidupan. Hobby-nya adalah traveling, coffee, dan bakmi! Saat ini, Lia tinggal di Jakarta, bersama suaminya, Riko Ariefano, dan kedua ekor anjingnya, Bella and Prince 🙂





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top