3 Hal yang Perlu Dihindari dalam Sebuah Hubungan

Waktu kita ketemu seseorang dan merasa sensasi berbunga-bunga, kita cenderung buru-buru bilang kalau kita “mencintai” orang itu. Bahkan, ada yang langsung menilai “ini jodohku” dan sebagainya. Padahal, mungkin sebetulnya bukan orang itu yang kita sukai, melainkan gambaran tertentu tentang dia yang ada di pikiran kita. So, ini dia hal-hal yang perlu kita hindari supaya kita punya hubungan yang sehat.

1. Hindari: Membuat Keputusan Ketika Kamu Jatuh Cinta

Kadang-kadang jatuh cinta sama serangan jantung beda tipis: yang satu gak bisa tidur, yang lainnya gak bisa hidup. Waktu jatuh cinta, pas kita di-SMS pagi, siang, malam, ditanyain sudah makan belum, sudah mandi belum, sudah minum belum, dikasih perhatian, rasanya semua itu bikin hati berbunga-bunga.

Eits, tetep aja, jangan bikin keputusan ketika jatuh cinta. Pada saat jatuh cinta, kita dipengaruhi oleh perubahan hormon di dalam tubuh. Naik turunnya hormon tersebut bisa membuat kita mempertimbangkan sesuatu dengan nggak jernih.

Bedakan Antara Jatuh Cinta dan Mencintai!

Kita harus bisa membedakan antara jatuh cinta dengan mencintai. Dari kata-katanya saja, kita bisa melihat bedanya.

  • Jatuh Cinta. Nggak ada orang yang memilih jatuh, “Eh, gue jatuh dulu ya.” Jatuh cinta itu bukan karena pilihan. Menurut penelitian, masa berbunga-bunga waktu jatuh cinta itu cuma sebentar, yaitu sekitar 3-18 bulan.
  • Mencintai. Mencintai merupakan kata kerja dengan imbuhan me- i. Kata kerja berarti sebuah kegiatan atau kerja, tindakan aktif. Mencintai dilakukan atas keputusan atau pilihan (choice), ada usaha di dalamnya (effort), disertai pula dengan ketahanan (endurance).

Apa contoh mencintai? Contohnya, walaupun Mama lagi sebel banget sama saya, dia tetep bikin sarapan.

  1. Pilihan
    Itu adalah pilihan Mama untuk tetap membuatkan saya sarapan.
  2. Usaha
    Beliau tetap berusaha bangun pagi-pagi untuk motong bawang, masak, dan menghidangkannya di meja supaya saya bisa langsung makan.
  3. Ketahanan
    Hal itu dilakukannya hampir setiap hari , kecuali kalau beliau sakit.

Setelah melalui sensasi berbunga-bunga di masa jatuh cinta, baru kita bisa melihat “belang”-nya seseorang yang kita sukai. Misalnya, kita baru tahu kalau ternyata dia sering nggak mandi kalau pagi; atau kalau pulang langsung tidur, nggak cuci kaki dan sikat gigi dulu; atau ternyata dia suka nyolong mangga tetangga dan maling ayam orang. Inilah saatnya kita memilih (by choice), apakah mau lanjut penjajakan atau nggak.

Itulah sebabnya kenapa PDKT nggak boleh hanya satu sampai tiga bulan, karena sebuah hubungan itu harus cinta dan cocok.

2. Hindari: Masuk ke Dalam Hubungan Untuk Mengubah Seseorang

Kita nggak masuk ke dalam sebuah hubungan untuk mengubah seseorang. Kita bukan superhero yang bertugas memperbaiki pasangan kita. Walaupun memang ada satu kasus dibanding banyak kasus pasangannya bisa berubah jadi lebih baik, tetapi belum tentu hal yang sama terjadi pada kita.

Mencintai itu soal memberi, bukan soal mengubah (dan hubungan seksual di luar pernikahan itu bukan memberikan diri, melainkan menggunakan orang lain untuk kesenangan kita). Inilah saatnya mempertanyakan kepada diri kita sendiri, kualitas seperti apa yang kita inginkan dari hubungan kita.

Pada akhirnya, sebuah hubungan bisa bertahan karena ada dua orang yang memilih untuk menjaga, memperjuangkan, dan mengusahakannya.

3. Hindari: Takut Buat Putus

Kalau hubunganmu nggak berjalan dengan baik dan perlu mengakhiri hubungan, jangan takut buat putus.

Bagi pasangan yang sudah pernah melakukan hubungan seksual pranikah, keputusan buat putus mungkin akan menjadi sedikit lebih sulit. Hubungan seksual itu kayak super glue yang ditempel ke kulit. Bisa dilepas, tapi severely damaging the skin, melukai kulit dengan hebat, dan butuh waktu yang sangat lama untuk menyembuhkan luka-lukanya. Kadang-kadang ada orang yang berusaha menghibur diri dengan bilang, “So what, semua orang juga melakukannya?” Coba jujur pada diri sendiri, apakah semua itu memang menyenangkan, atau sebenarnya kamu pun nggak ingin melakukannya.

Kalau kamu putus, bukan artinya kamu perlu baikan lagi. Kadang-kadang sebuah hubungan berakhir untuk menyadarkan kita. Kadang-kadang, setelah putus, mata kita baru terbuka lebar dan kita baru sadar kalau kita memang nggak cocok dengan dia.

Young people, tiga hal inilah yang perlu kamu hindari kalau kamu pengen punya hubungan yang sehat, happy, dan tanpa penyesalan. Kalau kamu punya pertanyaan soal relationship, feel free buat #AskINSPIRE melalui kolom komentar atau email ke info@letsinspire.co.

About Riko Ariefano

Riko Ariefano adalah seorang suami dan wirausahawan yang telah melayani orang muda lebih dari 20 tahun.

Sejak menjadi pembicara di usia 19 tahun, ia telah diundang ke berbagai negara untuk mewartakan Kabar Gembira, khususnya tentang iman Katolik, panggilan hidup orang muda, servant leadership, serta Teologi Tubuh dan aplikasinya, terkait identitas lelaki dan relationship.

Ia mendirikan komunitas Domus Cordis pada akhir tahun 2007 dan kerinduannya adalah melihat Gereja Katolik dipenuhi dengan orang-orang muda yang menjadi santo-santa modern. Di sela-sela kesibukannya, ia biasa dijumpai sedang duduk menikmati secangkir kopi, sambil ngebales e-mail, atau nge-like foto istrinya di Facebook!





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top