3 Jenis Pertemanan: Mana Yang Sejati?

Pertemanan yang sejati? Suatu hari, seorang teman lama menghubungi gue dan ngajak ketemuan. Excited, gue langsung menandai kalender, sambil berharap pertemuan nanti bisa seseru pertemuan-pertemuan kita dulu. Pada harinya, kita ketemu dan ngobrol-ngobrol asyik banget selama beberapa menit pertama. Lalu, dia mulai nanya “Apa sih mimpi lo?” Sambil gue mikir, dia mulai bicara panjang lebar tentang rencana hidupnya untuk jadi seorang bilyuner yang bisa keliling dunia … dan akhirnya dia menawarkan gue buat jadi downline dia di sebuah bisnis MLM! Kelanjutan ceritanya nggak usah diceritain ya?

Soal friendship, hidup kita hari ini nggak pernah lepas dari yang namanya teman. Ada teman sekolah, teman kuliah, teman hobi, teman gereja, teman tapi mesra, teman tapi mantan, teman tapi tukang tikung, teman tapi *prettt*, dan lain-lain. Nggak sedikit juga dari kita yang pernah kecewa dengan berbagai situasi pertemanan ini. Pertanyaannya, gimana caranya menguji sebuah persahabatan, supaya kita bisa benar-benar yakin kalau teman-teman kita ini adalah real friends atau teman yang sejati?

Isu tentang pertemanan bukan hal baru, karena, ribuan tahun yang lalu, seorang filsuf bernama Aristoteles pernah menulis tentang 3 (tiga) jenis pertemanan, yaitu pertemanan yang pleasant (menyenangkan), useful (bermanfaat), dan virtuous (berkebajikan).

Pertemanan Yang Pleasant (Menyenangkan)

Jenis ini biasanya terjadi pada situasi tertentu, sehingga jangka waktunya relatif pendek. Misalnya, teman-teman yang kita kenal di resepsi perkawinan sepupu, atau klub kebugaran, sehingga pertemanan yang terjadi berkisar di obrolan tentang hal-hal yang umum saja. Misalnya, “Hari ini panas banget ya!” Atau, “Taplak mejanya bagus!” Ya, gitu deh.

Pertemanan Yang Useful (Bermanfaat)

Tipe ini yang memiliki manfaat atau keuntungan juga sangat tergantung pada situasi pertemuannya. Contohnya, teman belajar di kampus yang ketemu karena cuma butuh bantuan dia aja. Atau kalau di kantor, dia bisa jadi client atau customer yang membantu kita menutup target jualan bulan ini. Seperti pertemanan yang pleasant, pertemanan seperti ini juga biasanya punya jangka waktu yang relatif pendek, hanya seiring manfaat yang bisa diperoleh satu sama lain.

Pertemanan Yang Virtuous (Berkebajikan)

Jenis yang satu ini beda dari yang lain, karena sejak awal pertemanan ini memiliki tujuan untuk mengusahakan kebaikan bagi yang lain. Bisa saja, situasi awal pertemanannya seperti pertemanan yang pleasant dan useful, tapi motivasi atau tujuan pertemanan tersebut berbeda, yaitu membantu satu sama lain untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dalam konteks iman Kristiani, jenis ini didasari pada nilai-nilai iman dan moral yang teguh, sehingga bisa membantu sesama teman untuk menjadi pengikut Kristus yang lebih setia. Mereka yang berteman secara virtuous akan berani jujur demi kebaikan satu sama lain. Mereka nggak ragu-ragu untuk bilang, “Nyet, gigi lo ada cabenya tuh, terus itu kelakuan lo kok minus banget? But, dengan rahmat Tuhan, gue tetap percaya elo bisa jadi seorang santo!”

Nah, kalau kita sudah paham tentang ketiga jenis pertemanan ini, so what? Pertemanan yang pleasant dan useful bukan berarti harus dihentikan, karena memang seringkali perlu dijalin demi studi, pekerjaan, dan sebagainya. Namun, dengan memahami jenis-jenis pertemanan, kita bisa menempatkan orang-orang di sekitar kita pada kerangka relasi yang lebih sesuai, sehingga kita nggak kecewa karena salah ekspektasi.

Di mana kita bisa menemukan pertemanan yang virtuous?

Buat gue pribadi, pemahaman ini mengajarkan akan pentingnya memiliki komunitas pertemanan di dalam Tuhan, komunitas yang di dalamnya gue dan teman-teman gue bisa saling menghibur dan menguatkan di dalam Tuhan. Di antara teman-teman komunitas, gue menemukan real friends, yaitu mereka berteman dengan gue bukan dengan basa-basi, atau karena ada maunya, melainkan sungguh tulus dan jujur untuk membantu gue jadi orang yang lebih baik di dalam Yesus. Orang-orang di dalam komunitas Kristiani memang bukan orang-orang suci, tapi karena kita sadar akan kerapuhan dan keberdosaan kitalah, kita mau membangun persahabatan yang jujur dan saling menolong. Sama-sama berdosa, tapi sama-sama juga berjuang hidup benar!

So, buat yang belum punya pertemanan dan komunitas di dalam Yesus, coba deh cari di paroki atau lingkungan kamu. Atau, bisa juga hubungi tim Inspire ini, yang pasti bisa bantu kita semua menemukan komunitas yang positif, yang virtuous, walaupun saling “Nyet”, “Pret”, tapi tetap “Puji Tuhan!”

P.S. Ehm.. Sebagai informasi, gue sih dulu ketemu calon istri gue di komunitas Katolik.

About Riko Ariefano

Riko Ariefano adalah seorang suami dan wirausahawan yang telah melayani orang muda lebih dari 20 tahun.

Sejak menjadi pembicara di usia 19 tahun, ia telah diundang ke berbagai negara untuk mewartakan Kabar Gembira, khususnya tentang iman Katolik, panggilan hidup orang muda, servant leadership, serta Teologi Tubuh dan aplikasinya, terkait identitas lelaki dan relationship.

Ia mendirikan komunitas Domus Cordis pada akhir tahun 2007 dan kerinduannya adalah melihat Gereja Katolik dipenuhi dengan orang-orang muda yang menjadi santo-santa modern. Di sela-sela kesibukannya, ia biasa dijumpai sedang duduk menikmati secangkir kopi, sambil ngebales e-mail, atau nge-like foto istrinya di Facebook!





One comment on “3 Jenis Pertemanan: Mana Yang Sejati?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top