5 Hal untuk Membangun Persahabatan yang Awet dan Bermakna

Memiliki teman, apalagi sahabat, menjadi salah satu hal menyenangkan yang bisa terjadi dalam hidup kita. Hidup kita akan terasa berbeda, malah mungkin hampa, tanpa kehadiran seorang teman. Namun, teman pun nggak bisa sembarang teman, karena mereka akan memiliki pengaruh yang besar di dalam hidup kita, hari ini dan di masa mendatang. Jadi, bagaimana supaya kita punya persahabatan yang awet dan bermakna (meaningful)?

1. Bagaimana persahabatan dimulai.

Kamu bertemu dengan seseorang yang menarik, dan kamu ingin berteman dengan orang itu. “Persahabatan lahir ketika seorang berkata kepada yang lain, ‘Apa? Kamu juga? Kupikir hanya aku,'” menurut C. S. Lewis. Kalau saya mengingat-ingat awal pertemanan saya dengan orang-orang terdekat saat ini, kata-kata di atas memang benar. Ada yang menjadi teman karena berasal dari sekolah dasar yang sama, tinggal di daerah yang sama, atau satu mobil jemputan; beberapa orang menjadi teman karena sama-sama orang muda di grup Facebook Katolik; yang seorang menjadi teman karena menyukai penulis buku yang sama; beberapa menjadi teman karena satu komunitas dan karya kerasulan; seorang menjadi teman karena intensitas suara tawa yang kurang lebih sama.

Kita bisa mulai berteman karena memiliki kesamaan, seperti daerah tempat tinggal yang berdekatan, sekolah yang sama, kegemaran yang sama, atau “kegilaan” yang sama. Dari kesamaan, persahabatan pun berkembang. Kalau kamu ingin bersahabat dengan seseorang, cobalah untuk mencari kesamaan dengannya. Baik kalau ternyata kalian memiliki kesamaan dalam kegemaran atau gaya bercanda, tetapi yang lebih daripada itu, carilah kesamaan nilai-nilai baik (values) yang kamu pegang dalam hidupmu.

2. Niat baik adalah awal dari persahabatan yang baik.

Biasanya, kita akan mengetahui kalau seseorang mendekat kepada kita karena ada maunya atau punya niat buruk, walaupun ditutup-tutupi seperti apapun. Begitu kita mendeteksi adanya niat-niat tertentu, pastilah kita menutup diri dan menjaga jarak dengan segera. Untuk bersahabat dengan seseorang, perlulah kita memiliki niat untuk membawa kebaikan bagi temanmu melalui persahabatannya denganmu.

Berhati-hatilah terhadap mereka yang sejak awal berusaha dekat denganmu hanya demi keuntungan tertentu, atau berusaha menjerumuskanmu ke dalam hal-hal yang buruk atau dosa. Selain itu, kamu juga harus terus menerus mengingatkan dirimu untuk mempertimbangkan dan memilih apa yang baik bagi temanmu dalam hubungan kalian yang baru dimulai ini. Dari niat baik yang tulus, akan timbul kepercayaan terhadap satu sama lain yang akan menjadi dasar berkembangnya persahabatanmu.

3. Persahabatan tumbuh dengan komunikasi yang lebih sering, dalam kejujuran dan keterbukaan.

St. Fransiskus de Sales mengatakan bahwa persahabatan membutuhkan komunikasi yang dekat. Kalau nggak, persahabatan nggak akan berakar atau berlanjut. Kamu perlu mengetahui kondisi sahabatmu, yang kamu dengar langsung darinya melalui chat, telepon, atau ketemuan, dan bukan hanya dengan melihat post terbarunya di media sosial dan menebak-nebak. Dengan memberikan kabar secara langsung, masing-masing akan mengikutsertakan sahabatnya dalam perjalanan hidupnya.

Komunikasi yang diperlukan adalah komunikasi yang jujur dan terbuka. Cerita pribadi, gejolak emosi, kelemahan, kekuatan, pemikiran, kekhawatiran, kesulitan, kesenangan, keinginan, dan aksi nyata dibagikan di antara kalian. Hal ini nggak bisa terjadi kalau nggak ada kepercayaan yang mendasarinya. Nah, kalau sahabatmu sudah mempercayakanmu dengan cerita-ceritanya, penting bagimu untuk menjadi teman yang bisa dipercaya (trustworthy) dan benar-benar menjaga apa yang sudah ia percayakan kepadamu.

“Apakah kamu ingin mengetahui siapa temanmu yang sesungguhnya dan memberikan peringkat yang sesuai? Cobalah mengingat-ingat apa yang menjadi pengalamanmu yang paling rahasia dalam hidup—positif atau negatif—dan tanyakan kepada dirimu kepada siapa kamu mengungkapkannya: merekalah teman-temanmu yang sesungguhnya. Dan jika ada sesuatu di dalam hidupmu, yang sangat dalam dan kamu hanya memberitahukannya hanya kepada satu orang, orang itulah sahabat karibmu.” (Rm. Raniero Cantalamessa, OFMCap)

4. Berusahalah untuk menjadi pribadi yang lebih baik melalui persahabatanmu.

Persahabatan kita dengan orang lain nggak bisa dianggap enteng, sebab kita akan saling mempengaruhi satu sama lain, untuk menjadi lebih baik atau menjadi lebih buruk. St. Paulus mengatakan, “Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik” (1 Korintus 15:33). Bahaya muncul dari pergaulan yang buruk, karena kita lebih mudah untuk mengikuti apa yang buruk daripada yang baik. Karena itulah, menjadi penting bagimu dan temanmu untuk sama-sama berusaha menjauhi kebiasaan yang buruk dan membangun kebiasaan-kebiasaan baik dalam persahabatanmu. Misalnya, berterimakasihlah kalau temanmu nggak setuju dengan idemu yang buruk atau ketika ia menegurmu karena kebiasaan-kebiasaan burukmu; atau ingatkan temanmu untuk nggak terlalu sering bergosip tentang orang lain.

“Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang,” kata Amsal. Jika seiring perjalanan waktu, ada kebiasaan buruk yang menetap yang bisa menempatkanmu dalam bahaya, baik bahaya fisik ataupun rohani, walaupun kamu sudah berusaha untuk mengingatkan temanmu ini, mungkin ada baiknya kamu memutuskan untuk berhenti bergaul dengan dia.

5. Persahabatan yang kokoh berakar dalam Kristus

Ada macam-macam teman di dalam hidup kita. Ada yang kita kenal sebatas nama, ada teman yang cukup dekat dengan kita karena urusan sekolah, kuliah, atau pekerjaan; ada juga teman yang menempati tempat khusus di hati kita. (Baca artikel INSPIRE: 3 Jenis Pertemanan). Karena satu dan lain hal, persahabatan bisa berakhir. Namun, persahabatan yang memiliki Kristus sebagai pusatnya, akan lebih kokoh daripada persahabatan yang biasa terjadi.

Paus Benediktus XVI mengatakan bahwa persahabatan adalah “persatuan pemikiran dan kehendak.” Persahabatan yang dimulai dengan Kristus, berlanjut di dalam Kristus, dan disempurnakan dalam Kristus, akan memiliki pemikiran dan kehendak Kristus sendiri. Kalian akan saling mendukung dalam kasih dan nilai-nilai yang baik. Sahabatmu dalam Kristus adalah mereka yang bisa kamu mintai pendapat yang bijaksana, dan sebaliknya.

Ada banyak orang kudus di dalam Gereja yang bersahabat satu sama lain. Misalnya, St. Teresa Avila bersahabat dengan St. Yohanes dari Salib, St. Fransiskus Asisi bersahabat dengan St. Klara Assisi, atau persahabatan antara St. Ignatius Loyola dan St. Fransiskus Xaverius. Kalau mau, kamu pun bisa punya persahabatan yang seperti itu. Mintalah kepada Tuhan untuk mengirimkan teman-teman yang bisa menjadi sahabatmu dalam Kristus, atau bergabunglah dalam komunitas yang sungguh-sungguh ingin membantu anggotanya bertumbuh dalam Kristus.

Semoga melalui kelima hal ini, kamu bisa menemukan persahabatan yang awet dan bermakna, yang bisa membawa kebahagiaan dalam hidupmu.

About Friesca Saputra

Walaupun berprofesi sebagai dokter, Friesca adalah orang muda yang sangat mencintai segala sesuatu tentang iman Katolik sejak kepulangannya ke dalam Gereja. Baginya, ilmu pengetahuan dan iman Katolik tidaklah bertentangan, sehingga "iman dan akal budi adalah seperti dua sayap di mana roh manusia naik ke kontemplasi kebenaran," ini menjadi motto hidupnya.

Sejak tahun 2012, ia bergabung dengan karya kerasulan Youth Mission for Life (YML) yang bergerak untuk membela kehidupan, serta mempromosikan KB alamiah (KBA), yang salah satu hasilnya adalah aplikasi OVULA Women Fertility. Ia juga turut berkontribusi dalam penulisan buku Renungan Harian Perempuan "Treasuring Womanhood" bersama teman-teman perempuan lain. Karyanya di dunia maya dimulai sejak ia direkrut menjadi salah satu admin page Katolik.





One comment on “5 Hal untuk Membangun Persahabatan yang Awet dan Bermakna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top