7 Hal yang Perlu Kamu Ketahui tentang Kepemimpinan

Di satu titik dalam hidup kita, kita akan perlu memimpin. Kita berperan sebagai pemimpin di dalam hidup kita sehari-hari, di dalam keluarga kita, di dalam komunitas, di dalam pekerjaan kita. Bagi banyak orang, menjadi pemimpin berarti memiliki kuasa untuk mengendalikan orang lain. Bagi orang lain lagi, menjadi pemimpin berarti memiliki otoritas. Padahal, seseorang bisa menjadi pemimpin walaupun ia berada di posisi terbawah. Jadi, apa saja yang perlu kita ketahui tentang kepemimpinan, terutama kita sebagai orang beriman Katolik?

1. Kepemimpinan adalah soal pengaruh.

Kepemimpinan adalah kemampuanmu untuk mempengaruhi mereka yang mengikutimu. Bisa di dalam usaha, bahkan untuk hidup pribadimu. Kepemimpinan dalam hidup pribadi, personal leadership, berarti mempengaruhi dirimu sendiri untuk mengikuti dirimu dan apa yang kamu inginkan sebagai versi terbaik dari dirimu sendiri, misalnya ketika kita ingin memimpin diri kita untuk lebih disiplin, lebih kudus, atau apapun itu. Kita diciptakan untuk menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri (Mat 5:48), tetapi banyak sisi dari diri kita yang menolak untuk menjadi versi terbaik itu. Personal leadership juga merupakan salah satu tipe kepemimpinan, yaitu ketika sisi terbaik dari kita yang diciptakan dengan baik oleh Tuhan (Kej 1:26,31) berusaha mempengaruhi bagian lainnya dari diri kita supaya mengikuti pengaruh tersebut, dan menjadi versi yang terbaik dari diri kita.

2. Kepemimpinan bisa dipelajari.

Setiap dari kita perlu mengambil lebih banyak waktu untuk mempelajari tentang kepemimpinan. Mempelajari tentang kepemimpinan tidak akan ada habisnya, selalu ada hal baru yang bisa kita pelajari, karena ada banyak hal dari diri kita yang bisa ditingkatkan menjadi lebih baik lagi. Beberapa orang mungkin terlahir dengan bakat kepemimpinan. Namun, jumlahnya hanya sedikit. Hanya sedikit orang yang benar-benar otomatis bisa langsung memimpin tanpa pelatihan tertentu, hanya sedikit sekali yang tidak pernah belajar apa-apa tentang kepemimpinan, tetapi bisa langsung mempraktikkannya. Sepanjang karir saya, saya menemukan bahwa semua pemimpin yang baik sudah pernah benar-benar mengambil waktu dan menjalani hidup mereka untuk belajar menjadi pemimpin yang baik.

3. Penting untuk menjadi pengikut dulu, sebelum menjadi pemimpin.

Salah satu alasan penting mengapa kamu perlu menjadi pengikut yang baik, yaitu kamu akan memiliki empati untuk orang-orang yang akan mengikutimu kelak. Empati sangat penting sebagai seorang pemimpin, karena terkadang memiliki kepemimpinan dan kuasa bisa menjadikanmu arogan, sombong, kehilangan dirimu, atau kehilangan niat baikmu yang ada di awal. Dengan menjadi seorang pengikut, kamu bisa merasakan apa rasanya dipimpin. Kamu juga bisa melihat contoh-contoh kepemimpinan. Kamu tahu dan bisa merasakan seperti apa kepemimpinan yang baik, seperti apa kepemimpinan yang buruk.

4. Personal leadership sangat penting untuk kita miliki.

Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, kepemimpinan adalah mengenai pengaruh. Kamu akan bisa mempengaruhi orang lain dengan lebih baik, kalau kamu menjalankan apa yang kamu katakan. Bisa kamu bayangkan, kalau orang tidak akan mengikuti saran untuk berolahraga lebih sering kalau ia yang memberikan saran pun bermasalah dengan berat badannya, tidak pernah berolahraga, dan hidup dengan tidak sehat. Contoh yang sederhana ada di Injil Lukas 6:39-42.

5. Pemimpin Katolik perlu menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Kata “Katolik” artinya universal. Iman Katolik kita bisa menolong kita menjadi pemimpin baik, karena nilai-nilai iman kita berlaku universal. Dalam iman kita, kasih bukan melulu mengenai sopan santun, tetapi mengenai memberi, berkorban, dan sekaligus mengusahakan apa yang baik dan benar bagi orang lain. Kita juga diajarkan bahwa dosa sebenarnya merupakan tanda bahwa kita masih egois karena mengambil sesuatu, memanfaatkan orang lain demi kepentingan kita sendiri. Ada juga tentang teguran persaudaraan, kebajikan-kebajikan utama, dan lain-lain. Kita diajarkan bahwa semua orang setara di mata Tuhan, terlepas dari suku, agama, ras, dan golongan, sehingga kita bisa menerima semua orang dari berbagai macam latar belakang. Kita juga diajarkan untuk mengasihi orang yang bersalah, tanpa harus membenarkan kesalahan yang mereka perbuat, sehingga kita bisa bertindak dengan kasih dan keadilan kepada orang-orang yang bekerja sama dengan kita. Ketika posisi pemimpin dipercayakan kepada kita, kita bisa menginspirasi orang lain untuk menjadi orang kudus, menggunakan kuasa itu demi kesejahteraan orang lain, dan memuliakan Tuhan melalui apa yang kita lakukan.

6. Tiga hal yang perlu kita usahakan dalam diri kita sendiri untuk menjadi pemimpin yang baik: tujuan, keterampilan, dan waktu.

Supaya bisa menjadi pemimpin yang baik, setidaknya ada tiga hal yang perlu kamu kerjakan dalam dirimu sendiri. Yang pertama adalah tujuan (purpose). Kenapa kamu mau menjadi pemimpin? Banyak orang mau menjadi pemimpin karena uang, posisi, kekuasaan, atau pengakuan. Hal-hal tersebut adalah alasan yang salah untuk menjadi seorang pemimpin, dan itulah yang menjadi sebab kamu frustrasi dengan timmu, karena kamu sebenarnya tidak benar-benar punya gairah (passion) untuk mengembangkan orang lain, kamu juga tidak punya gairah untuk membuat perubahan, kamu hanya ingin dikenal dan dihargai. Kalau kepemimpinan hanya mengenai apakah kamu dihargai, kamu melewatkan intinya. Kamu menjadi egois, dan orang-orang egois biasanya tidak memperoleh dukungan dari orang lain.

Yang kedua yang perlu kamu kerjakan adalah keterampilan (skills). Keterampilan yang kamu miliki menjadi penting, karena dalam posisi sebagai pengikut, kamu akan telah terbiasa untuk menggunakan beberapa keterampilan tertentu, misalnya menyelesaikan pekerjaanmu, mengatur waktumu, dan lain-lain. Namun, ketika kamu menjadi pemimpin, hal-hal sudah tidak lagi mengenai dirimu. Ketika kamu menjadi pemimpin, kamu akan perlu memastikan supaya pekerjaan bersama bisa selesai, agar pekerjaan bisa diselesaikan dengan baik oleh timmu, agar timmu bisa bekerja produktif dengan waktu yang tersedia. Keterampilan yang terkait kepemimpinan berhubungan dengan delegasi, perencanaan, dan melatih orang lain, hal-hal yang berbeda dengan saat-saat ketika hanya kamu sendiri yang menyelesaikan pekerjaanmu.

Hal ketiga adalah bagaimana kamu menggunakan waktumu (time). Ketika kamu hanya seorang pengikut, kamu banyak menggunakan waktumu untuk dirimu sendiri. Namun, kalau kamu adalah seorang pemimpin, kamu harus mengalokasikan waktumu untuk menolong orang lain, mengurus orang lain, melakukan strategic thinking, dan bukan hanya memikirkan performa dirimu sendiri.

(Baca juga: Menjadi Pemimpin yang Tegas)

7. Mentor, coach, dan pergaulanmu menjadi aspek penting supaya kamu bisa menjadi pemimpin yang baik.

Seorang mentor sudah pernah melakukan apa yang kamu lakukan, apa yang ingin kamu lakukan, dan dapat memberikanmu saran dan arahan. Seorang coach bisa membantumu bertanggung jawab dengan cara yang detail dan terstruktur. Mentor dan coach menjadi bagian besar dengan siapa kamu bergaul, bagian besar yang mempengaruhimu. Mentor juga bisa menjadi teladan dan acuan kita. Saya pernah memiliki klien yang meneladani Hitler, Stalin, Elon Musk, dan karenanya tidak heran kalau dia memperlakukan bawahannya dengan dingin, karena demikianlah orang-orang yang ia teladani. Dengan kata lain, kamu adalah hasil dari dengan siapa kamu bergaul. “Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan,” (Amsal 19:20)

About Cynthia Wihardja

Cynthia adalah seorang top-ranked international business coach yang memiliki misi menuntun orang muda menjadi pemimpin-pemimpin yang sukses. Ia percaya bahwa kepemimpinan adalah sebuah panggilan, bukan hanya sebuah pekerjaan. Keahliannya di bidang bisnis dan psikologi akan menolongmu melihat banyak hal, seperti tujuan personal, life balance, komunikasi, pengelolaan emosi, dan performa yang tinggi, dari sudut pandang yang lebih kaya.

Saat ini, Cynthia melayani sebagai Board Member in the British Chamber of Commerce di Indonesia dan melayani komunitas-komunitas nirlaba. Iman Katolik menolongnya menemukan tujuan, kepenuhan, dan kedamaian hidup. Melalui pengalaman-pengalaman dalam hidupnya, ia mulai mengerti kenapa Tuhan memberikannya talenta yang demikian, serta mempertemukannya dengan orang-orang di sekelilingnya. Cynthia juga percaya kalau ajaran Gereja dan bisnis bisa berjalan bersamaan, karena menolong orang lain akan membutuhkan uang dan perbaikan sistem.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top