Aku haus, Tuhan!

Masa Prapaskah belum selesai, baru setengah jalan. Pada Prapaskah di minggu yang keempat, yang juga dikenal sebagai Minggu Laetare (Minggu Sukacita), beberapa paroki telah mengumumkan jadwal pengakuan dosa. Di waktu-waktu ini, orang-orang akan datang berbondong-bondong antri mengaku dosa, mencari pengampunan.

Apa yang kita cari dari Sakramen Rekonsiliasi?

Saya senang dan bersyukur melihat antrian pengakuan dosa yang panjang! Namun, saya juga merenungkan, apa yang membuat kita akhirnya mau repot-repot antri untuk mengakui dosa-dosa kita? Karena takut masuk neraka atau api penyucian? Atau karena menyesal sudah melukai hati Tuhan yang begitu baik pada kita? Atau sekadar bersih-bersih, diandaikan seperti rumah yang harus dibersihkan secara rutin supaya tidak ada debu yang menumpuk di sana-sini.

Alasan kita membutuhkan Sakramen Rekonsiliasi adalah karena semua manusia telah berdosa, baik besar atau pun kecil, dan hal ini adalah kenyataan pahit yang harus ditelan semua orang hari ini (bdk. 1 Yoh 1:8). Setelah kisah penciptaan, sejak manusia pertama memilih untuk tidak percaya seutuhnya pada Allah sebagai Bapanya, terjadi sebuah kekosongan di dalam hati manusia, sebuah kekosongan akibat apa yang tadinya berisi cinta, sekarang menjadi hampa.

Lost or Love

Kehampaan di dalam hati manusia menjadi tarikan untuk berdosa.

Kita menjadi tertarik untuk berdosa, karena kita ingin mengisi kehampaan dalam hati kita dengan berbagai macam hal yang tampaknya bisa memberikan kesenangan dengan segera. Contohnya, uang, kenikmatan seksual, judi, mabuk, obat-obatan terlarang, kekerasan dalam rumah tangga, gila hormat, dan semua hal “membahagiakan” lai yang bukan Allah.

C.S. Lewis pernah berkata,

“Sejarah manusia adalah kisah panjang mengerikan tentang bagaimana manusia mencari hal-hal selain Allah yang akan membuatnya bahagia.”

Hal ini terjadi karena kehampaan itu begitu menggigit, mencekam, dan rasanya seperti kehausan karena sudah tiga hari tidak minum air. Singkatnya, kita kehausan cinta Tuhan dan kita cenderung minum “air kotor”.

Kotor

Mengisi hatimu.

Sakramen Rekonsiliasi adalah tempat kita menerima “air bersih dan sehat” yang cocok untuk kita yang kehausan. Kita harus mengakui terlebih dahulu kalau kita memang haus, dan perlu untuk minum yang sehat. Kita kadang gengsi untuk mengakuinya, mengakui kalau kita haus akan cinta Tuhan, gengsi untuk mengakui dosa kita, apalagi kalau kemudian dosanya kita anggap menjijikkan. Namun, kalau kita gengsi untuk mengakuinya, kita sulit mendapatkan air bersih itu, sulit mendapatkan pengampunan.

Seorang penulis bernama Peter Kreeft mengatakan demikian dalam bukunya:

Ada dua bagian dari pengampunan dosa: pemberian Allah dan penerimaan kita. Pengampunan adalah karunia, dan seperti karunia lainnya, hal tersebut harus secara bebas diberikan dan secara bebas diterima. Allah selalu memberikannya. Namun, kita tidak selalu menerimanya. Penerimaan kita bergantung pada (1) pertobatan kita, (2) pengakuan kita, dan (3) iman kita.

Mengapa ketiga hal ini penting? Karena jika saya menawarkan kepada Anda sebuah pengampunan, Anda tidak akan mendapatkannya jika (1) Anda tidak menginginkannya, atau jika (2) Anda berpikir Anda tidak memerlukannya, atau jika (3) Anda tidak cukup percaya kepada saya untuk menerimanya.

Sama halnya dengan pengampunan Allah bagi dosa-dosa kita: kita tidak akan menerimanya jika (1) kita lebih menginginkan dosanya ketimbang ingin berbalik dari dosa dari berpaling pada Allah (yang merupakan maksud dari “pertobatan”); atau jika (2) kita tidak mengakui bahwa kita membutuhkannya (yang merupakan maksud dari “pengakuan dosa”); atau jika (3) kita tidak percaya pada Dia yang memberikannya (yang merupakan maksud dari “iman”). Allah tidak pernah menutup tangan-Nya, tetapi kita terkadang menutup tangan kita.

Pertobatan, pengakuan, dan iman tidak menambahkan pengampunan Allah; tetapi membiarkannya masuk.

Biarkan Allah menyambutmu pulang dan memberimu air-Nya.

Tuhan tidak pernah melihat betapa menjijikkannya hidup kita, betapa kotornya hidup kita. Seperti kisah anak yang hilang, Allah Bapa kita seperti sang Bapa yang selalu menanti anaknya datang kepadanya. Yang perlu kita lakukan adalah menyambut panggilan Bapa untuk terus pulang.

Bukan hanya kepulangan yang tampak secara lahiriah, seperti pantang dan puasa, tetapi terutama yang berasal dari hati dan batin kita, yang kemudian diwujudkan dalam laku tobat. Mintalah kepada Yesus untuk memberikanmu rahmat untuk menyesali dosa-dosamu dengan sungguh. Hanya karena rahmat, kita bisa sungguh menyesali dosa kesalahan kita dan bertobat.

Air yang menyegarkanSaat kita yang kehausan ini pulang kepada Dia dan berkata, “Aku haus, Tuhan,” sudah pasti Dia akan memberi kita minum Air yang akan memuaskan kita.

 

 

 

 

 

 





One comment on “Aku haus, Tuhan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top