Aku Malu!

Arrrgghhh rasanya memalukan. Kok bisa ya gue ngomong begitu di depan orang banyak? Omongan yang ga penting banget. Duh, mana semua yang dilakukan sepertinya ga ada yang berhasil. Banyak gagal. Ga ada yang bisa dibanggakan. Malu bangetttt!

Pernah muncul pikiran seperti di atas?

Malu sebenarnya adalah perasaan yang wajar dan sangat universal. Semua orang punya perasaan malu. Justru kalau ga punya rasa malu, malahan orang akan cenderung sulit berempati pada orang lain. Brene Brown, penulis buku The Gifts of Imperfection serta ahli riset dari University of Houston, mengatakan bahwa rasa malu adalah perasaan atau pengalaman menyakitkan yang membuat kita percaya bahwa kita ga sempurna. Sebagai orang muda, selama ini pasti ada banyak pengalaman yang kita dapatkan. Ada yang bagus, ada juga yang kurang bagus. Seringkali yang kurang bagus menimbulkan luka atau trauma, yang menjadikan kita lebih negatif dalam memandang diri sendiri.

Nah, it’s okay lho untuk merasa malu. Namun, kalau sampai rasa malu itu menjadi terlalu berlebihan, tentunya ga akan baik. Rasa malu itu bisa membuat diri kita jadi lumpuh dan ga berani untuk melakukan sesuatu.

Sebenarnya, kenapa sih kita suka malu terhadap diri kita sendiri?

Bagus kalau kita coba untuk menelusuri unsur “kenapa”-nya. Bisa mulai dengan bertanya pada diri sendiri. Sejak kapan sih kita mulai merasa malu yang berlebihan? Apa sih penyebabnya? Dari situ kita bisa coba cari cara dan mengenali perasaan malu itu. Bisa saja karena ada luka, karena ada pengalaman-pengalaman di masa lalu yang membuat kita seakan tidak berharga. Entah dalam bentuk bullying, atau pengalaman kegagalan yang akhirnya menorehkan cap “gagal” yang kuat dalam diri sendiri. Atau perasaan berbeda karena diri sendiri tidak seperti orang lainnya, misalnya saja orang lain kayaknya lebih aktif, trendy, selalu penuh semangat, bahkan sukses.

Kalau kita tarik lebih dalam, rasa malu sangat berkaitan dengan yang namanya “takut”. Ketakutan bahwa orang lain ga akan menyukai atau menerima kita apa adanya. Ketakutan mengecewakan orang-orang yang kita kasihi. Ketakutan untuk menjadi berbeda. Dan kalau didiamkan, rasa malu itu bisa menggerogoti diri kita.

Ingatlah apa yang Tuhan katakan.

Setiap kali gue merasa malu secara kebangetan, gue selalu mencoba untuk ingat apa sih yang Tuhan katakan mengenai diri gue, kalau Tuhan sangat menghargai dan mengasihi anak-anak-Nya. Misalnya, “Oleh karena engkau berharga di mata-Ku, dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau,” (Yesaya 43:4a). Bagi Tuhan, kita sangatlah berharga. Bahkan dari semula, Dia menciptakan kita seturut dengan gambar dan rupa-Nya. Kita diberi akal budi, kemampuan untuk mengatur segala ciptaan-Nya, bumi beserta segala isinya. Kita perlu ingat janji Tuhan itu supaya ga terlalu terbawa perasaan, dan kita bisa menghargai diri sendiri dengan lebih baik. Selain itu, kalau kita punya teman untuk bercerita dan mendukung secara positif, tentu akan sangat membantu.

“Oleh karena engkau berharga di mata-Ku, dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau,”
(Yesaya 43:4a)

Kita perlu tetap melangkah maju meskipun kita merasa malu.

Melatih diri sendiri untuk lebih menerima kelebihan dan kekurangan diri. Kelebihannya tentu untuk ditingkatkan, sedangkan kekurangan bisa jadi hint buat kita untuk cari solusi memperbaikinya.

So, semangat dan dan selalu ingat kalau apapun yang terjadi, diri loe, diri gue, diri kita semua berharga di mata Tuhan.

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top