Apa yang Kamu Baca?

Young people, inget nggak? Tahun 2015 yang lalu, sebuah novel romantis nan misterius berjudul keabu-abuan dirilis. Novel itu langsung menjadi best seller di mana-mana. Penggemar novel romansa pasti nggak ketinggalan membaca buku ini, termasuk Sheila (bukan nama sebenarnya), yang memang sudah rajin membaca novel romansa. Sayangnya, saat itu kehidupan keluarga baru Sheila sedang memasuki masa “bosan”. Daniel, suami Sheila, setiap hari sibuk dengan pekerjaannya. Pulang kerja boro-boro mencari Sheila, menatapnya dengan romantis, dan memberikan kecupan manis, Daniel malah menatap televisi dan menonton acara TV cable favoritnya. Kurangnya komunikasi dan usaha untuk menghangatkan cinta di antara mereka membuat mereka semakin menjauh satu sama lain. Sheila pun semakin ilfil melihat Daniel, setelah gambaran cowok perfect masuk ke pikirannya melalui novel yang dia baca itu. Kebetulan, Garry, teman kantor Sheila yang memang ganteng dan punya body bagus, juga membaca novel yang sama. Garry pun merasa kalau dia bisa menjadi seperti tokoh laki-laki dalam novel tersebut dan bisa menaklukkan banyak cewek, mulai dari Sheila. Sheila menemukan sosok pria idamannya bukan lagi pada suaminya, tetapi pada teman kantornya tersebut. Bahtera rumah tangga Daniel dan Sheila berakhir pada tuntutan kasus perselingkuhan di pengadilan.

You Are What You Eat!

Tanpa kita sadari, apa yang kita konsumsi lewat bacaan sebenarnya membentuk pola pikir, ide, dan keinginan kita, karena buku itu memang powerful! Coba bayangkan apa yang terjadi dengan Sheila dan Daniel kalau mereka memutuskan membaca buku The Joy of Love yang ditulis oleh Paus Fransiskus. Bisa jadi hubungan mereka terus bertumbuh, bahkan semakin romantis dan mesra, berkat pesan-pesan Paus tentang bagaimana pasangan harus menyediakan waktu bagi satu sama lain, dan juga bagaimana pasangan menghadapi tantangan hidup berkeluarga di zaman sekarang ini.

Sekali lagi, you are what you eat! Apa yang ada di pikiran kita sekarang tentang masa depan, tentang kehidupan, dan juga tentang Tuhan tergantung dari informasi apa yang kita terima setiap harinya. Sama seperti memutuskan mau makan apa yang baik dan cocok untuk tubuh ketika kita sedang dalam program diet atau pembentukan badan, jiwa rohani kita pun perlu makanan yang tepat. Apalagi kalau kita ingin jiwa kita tetap sehat dan rohani kita bertumbuh semakin dekat dengan Tuhan. Maka, bohong kalau ada orang yang bilang bahwa dia ingin dekat dengan Tuhan, tetapi dia nggak mau membaca Firman Tuhan atau bacaan rohani lainnya.

Bacaan untuk Jiwa

Sabda Tuhan yang tertulis di Alkitab adalah bacaan utama bagi jiwa rohani kita. Untungnya, Gereja Katolik sudah punya sistem penanggalan liturgi, yang membantu kita membaca Kitab Suci setiap hari. Perikop-perikop sesuai masa liturgi, misalnya Prapaskah atau Natal, sudah disediakan. Bahkan, tahukah kamu, kalau kita membaca bacaan harian dari kalender liturgi selama 3 tahun, kita sebenarnya sudah membaca seluruh Alkitab! (Buat cewek-cewek yang belum subscribe ke renungan harian, bisa klik di sini untuk bacaan harian wanita hanya 30rb untuk bacaan hingga akhir tahun.)

Selain Kitab Suci, Gereja juga yakin bahwa karya-karya rohani bisa membantu kita mengisi keingintahuan spiritual kita, seperti tulisan dari para kudus (santo-santa), dokumen Gereja, dan juga ensiklik dari para Paus. Di samping itu, masih banyak pilihan buku-buku rohani karya para biarawan-biarawati maupun awam (dan juga orang muda) Katolik.

Buat kamu yang baru mau mulai membaca buku rohani, pilihlah topik yang menarik dan ada di sekitar kamu. Misalnya, kalau kamu suka berdoa kepada Bunda Maria, kamu bisa mulai dengan mencari buku-buku tentang Bunda Maria dan mempelajari tentang Maria lebih jauh.

Saya sendiri merasakan bagaimana buku rohani membuat jiwa saya bertumbuh. Niat mulai membaca buku rohani dimulai ketika saya kelas 3 SMA. Di dunia saya saat itu, yang sedang ngetrend adalah pembahasan tentang Gereja Katolik vs. Protestan, sehingga saya pun tertarik untuk mengetahui apa sih kebenarannya. Saya pun memutuskan untuk googling, dan menemukan nama Scott Hahn, seorang penulis Katolik ex-pendeta Presbyterian. Maka, datanglah saya ke toko buku dan akhirnya mencoba membaca salah satu buku yang ia tulis. Memang, agak awkward rasanya saat pertama kali beli buku rohani. Namun, mulai dari sana, saya berniat membaca lebih banyak buku hingga saat ini. Walaupun saat itu saya masih SMA dan belum punya uang sendiri, saya akhirnya meminjam buku dari teman-teman saya. Untungnya mereka mau meminjamkannya.

So, setiap kali kita memutuskan mau membeli buku, jangan lupa dulu diperhatikan, apakah buku-buku itu akan membawa nilai positif bagi hidup kita atau nggak. Yang pasti, buku-buku terbitan Flamma Publishing bisa membuat kamu terinspirasi untuk jadi orang muda Katolik yang semakin happy dan holy!

Ditulis oleh: Monica





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top