Apakah Dosaku Membuat Doaku Nggak Dijawab?

Kehebohan zaman now. Haruskah dilarang menggunakan headset yang menyumbat kedua telinga ketika berkendara? Menurut hak tiap orang, sebenarnya boleh-boleh saja. Namun, menurut pertimbangan keamanan si pengemudi, si pengendara, dan orang-orang lain di sekitar, hal ini bisa menjadi sangat berbahaya. Kalau kedua telinga dibisingkan oleh suara dari gawai, pengendara bisa nggak mendengar klakson, atau teriakan, atau peringatan.

Tertutup oleh bising.

Meskipun saya bukan pengguna headset—karena saya lebih senang berkontak dengan suara apa pun yang ada di sekitar saya—kehebohan itu mengingatkan sikap hati saya. Betapa seringnya saya menuduh bahwa Allah diam saja, padahal Ia sudah berusaha berbicara, tetapi kedua telinga saya diserap oleh sekian banyak bising kehidupan. Bukan Allah yang nggak berbicara, tetapi sayalah yang nggak mendengar suara-Nya.

Dua ayat kembali bergema: “. . . Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Roma 5:8), dan “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita” (1Yohanes 4:10). Tegasnya, dosa kita nggak pernah mengurangi kemampuan Allah untuk memberikan cinta-Nya kepada kita, tetapi pasti mengurangi kemampuan kita untuk menerima cinta-Nya.

Seperti headset itulah dosa kita. Allah berbicara, Allah menjawab doa kita, Allah ingin memberikan yang baik kepada kita, tetapi telinga batin kita tersumbat oleh hal-hal lain yang membuai kita.

Yang bisa kamu lakukan kalau doamu nggak dijawab.

So, kalau kamu merasa Allah nggak menjawab doamu, langkah pertama adalah memeriksa diri secara jujur. Ada kemungkinan Allah sudah menjawab doamu, tetapi dosamu membuatmu tuli, buta, tertutup.

Langkah kedua adalah memeriksa isi doamu. Satu ayat lagi: “Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu nggak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu” (Yakobus 4:3). Jika dalam doamu itu kamu menyampaikan permohonan hanya demi kepentinganmu sendiri dan bahkan mungkin akan merugikan orang lain, ubahlah permohonan doamu.

Kadang ada situasi yang nggak mudah. Ada berita bahwa kantormu akan memecat banyak pegawai. Kamu segera berdoa, agar kamu nggak termasuk yang dipecat. Artinya, biarlah orang lain saja yang dipecat. Pusing kan? Nah, dalam situasi seperti ini yang penting kamu tulus dalam doamu. Selanjutnya, itu tugas Allah untuk memutuskan apa yang ingin Ia berikan kepadamu.

Namun demikian, bisa jadi masih ada langkah ketiga yang harus kamu ambil. Kamu sudah melepas dosa, seperti headset tadi, yang menyumbat telinga batinmu, dan doamu nggak berpusat pada kepentingan diri, tetapi doamu nggak juga dijawab. Kalau ini yang terjadi, mungkin memang Allah bermaksud melatih otot imanmu untuk semakin kuat dan bersedia bertahan dalam kesabaran. Jadi, langkah ketiga adalah: terus berdoa, terus berserah, terus memohon.

Setelah ini, kamu akan semakin mampu mendengar, melihat, dan menerima, dan karenanya doamu menjadi perjalanan iman. Pengalamanmu akan Allah menjadi sangat personal. Pada akhirnya, entah doamu dijawab sesuai keinginan, atau berbeda, atau bahkan berlawanan sama sekali, pengalaman personal akan Allah itu menjadi bekal berharga.

Kamu berdosa atau nggak, kamu berdoa atau nggak, Allah selalu mencintaimu. Dosamu nggak menyebabkan doamu tak dijawab, tetapi dosamu membuatmu nggak mampu menerima jawaban Allah atas doamu. Seperti headset tadi, dosa membuatmu tuli.

About Tano Shirani

Tano Shirani adalah lulusan program teologi Santa Clara University, California, Amerika Serikat. Sudah sejak lama, ia memiliki mimpi untuk ikut melayani orang muda melalui tulisan-tulisan rohani. Tano telah menerbitkan buku Namaku Lazarus: Merangkul Bisikan Kerahiman (Kanisius, 2016) dan Pendosa Jadi Pendoa: Gejolak Pertobatan Tujuh Pemazmur (Kanisius, 2017). Di tengah kesibukan menulis, menerjemahkan, dan menyunting berbagai tulisan, Tano juga melatih penulis-penulis rohani dalam komunitas Domus Cordis. Ia gemar melahap buku, dan sungguh percaya akan the power of words untuk mengubah dunia dan perjalanan seluruh sejarah umat manusia.





3 comments on Apakah Dosaku Membuat Doaku Nggak Dijawab?

  1. Andry says:

    mantap nih post an nya. terimakasih sangat membantu

  2. aris says:

    Boleh saya share? Thanks

    1. INSPIRE says:

      Halo, Aris!
      Tentu saja boleh 🙂 Silakan ya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top