Apakah Menstruasi Menjadikan Perempuan Katolik Haram?

Ada pertanyaan yang masuk ke laman INSPIRE, kira-kira seperti ini bunyinya: “Apakah perempuan Katolik yang sedang mengalami datang bulan tidak diperkenankan puasa, menyambut Komuni, dan menerima abu?”

Untuk menjawab itu, kita perlu melihat hukum dalam Perjanjian Lama yang terkait dengan layak-tidaknya orang ikut dalam upacara liturgi. Selain banyak aturan rumit terkait dengan hal-hal praktis tata liturgi dan para pelayan liturgi, setidaknya ada tiga area besar yang dipandang membuat orang haram untuk ikut dalam sebuah ritual keagamaan.

Tiga area besar dalam hukum Perjanjian Lama yang mengharamkan seseorang ikut dalam sebuah ritual keagamaan.

Pertama, penyakit. Ketika ilmu kedokteran belum berkembang seperti sekarang, penyakit yang tidak terobati memastikan bahwa orang yang menderita penyakit itu akan mati. Misalnya, penyakit kusta. Karena sudah dipastikan akan mati, orang kusta dengan sendirinya dianggap sudah tidak lagi terikat pada perjanjian dengan Tuhan. Agar tidak membuat yang lain ikut haram, orang yang sakit kusta harus disingkirkan.

Kedua, kematian. Ada rincian yang beragam, tetapi semua mengatakan bahwa orang yang menyentuh kematian dalam bentuk jasad orang mati, atau bangkai binatang, dengan sendirinya tidak layak untuk ikut serta dalam ritual. Apa yang sudah mati dianggap masih punya daya untuk menyalurkan daya kematian itu pada orang yang masih hidup. Menyentuh kematian berarti melawan Allah, Sang Sumber Hidup.

Ketiga, terkait dengan seksualitas. Untuk lelaki, ada saat ketika alat kelaminnya mengeluarkan lelehan, dan untuk perempuan, ada saat ketika ia mengalami datang bulan, baru saja melahirkan, atau pendarahan tanpa sebab. Tertumpahnya lelehan lelaki berarti terbuangnya kemungkinan adanya benih hidup baru. Perempuan yang sedang mengalami menstruasi tidak bisa menerima benih, sehingga tidak ada pembuahan hidup baru. Sesudah melahirkan, dibutuhkan waktu hingga tubuh perempuan siap lagi memulai siklus reproduksi. Dalam kasus pendarahan, jelas, tidak mungkin ada pembuahan baru. (Untuk memberi wawasan, bacalah seluruh Bab 15 Kitab Imamat).

Dengan demikian, baik lelaki maupun perempuan, prinsipnya sama. Ada kondisi yang membuat mereka tidak terbuka pada anugerah hidup baru. Ingatlah, Allah adalah sumber hidup. Menutup diri terhadap kemungkinan hidup baru berarti menutup diri terhadap Allah. Dalam kaitan dengan ini, situasi perempuan yang sedang datang bulan, atau dalam Alkitab disebut sebagai perempuan yang sedang “cemar kain,” menjadi metafora tentang ketertutupan hati manusia, baik lelaki maupun perempuan, terhadap Allah sendiri (lih. Yehezkiel 36:17).

Bagaimana dengan Perjanjian Baru?

Yesus membongkar pagar ketat yang memisahkan kekudusan dari kedosaan, yang bersih dari yang kotor, yang halal dari yang haram. Yesus menyentuh orang kusta, tetapi Ia tidak terkena daya kematian penyakit kusta. Sebaliknya, kesucian-Nya menahirkannya. Yesus menyentuh orang mati, tetapi Ia tidak terkontaminasi oleh kematian. Sebaliknya, Ia menghidupkannya. Yesus disentuh oleh perempuan yang sakit pendarahan, tetapi kesucian-Nya tidak berkurang. Sebaliknya, daya Ilahi-Nya mengalir keluar menghentikan pendarahan yang sudah diderita bertahun-tahun. Yesus diurapi perempuan berdosa, tetapi Ia tidak tertular kotor menjadi ikut berdosa. Sebaliknya, kekudusan-Nya mengampuni bahkan menyucikan orang berdosa.

Jadi, Yesus tidak akan melarang perempuan yang sedang datang bulan untuk berpuasa atau menerima abu atau menyambut Komuni atau ikut dalam ritual keagamaan. Yesus memperlihatkan bahwa yang di mata manusia dianggap tidak layak akan selalu dilihat-Nya dengan penuh cinta dan kerahiman. Yang penting, hati manusia terbuka pada-Nya secara penuh.

Menstruasi tidak menjadikan seorang perempuan Katolik haram.

Menstruasi adalah gema indah bahwa Allah Sang Sumber Hidup masih terus bekerja dalam siklus tubuh perempuan. Alih-alih mengharamkan, menstruasi justru mengagungkan martabat perempuan yang telah dipercaya oleh Allah Sang Sumber Hidup untuk menyalurkan kehidupan-kehidupan baru.

Namun, kembali ke metafora “cemar kain,” tidak ada salahnya juga kalau kita, baik lelaki maupun perempuan, bertanya kepada diri kita sendiri: jangan-jangan selama ini kita malah memiliki sikap tertutup pada Allah, sebagaimana halnya perempuan yang sedang datang bulan tidak akan mungkin menerima benih bagi pembuahan hidup baru.

About Tano Shirani

Tano Shirani adalah lulusan program teologi Santa Clara University, California, Amerika Serikat. Sudah sejak lama, ia memiliki mimpi untuk ikut melayani orang muda melalui tulisan-tulisan rohani. Tano telah menerbitkan buku Namaku Lazarus: Merangkul Bisikan Kerahiman (Kanisius, 2016) dan Pendosa Jadi Pendoa: Gejolak Pertobatan Tujuh Pemazmur (Kanisius, 2017). Di tengah kesibukan menulis, menerjemahkan, dan menyunting berbagai tulisan, Tano juga melatih penulis-penulis rohani dalam komunitas Domus Cordis. Ia gemar melahap buku, dan sungguh percaya akan the power of words untuk mengubah dunia dan perjalanan seluruh sejarah umat manusia.





6 comments on Apakah Menstruasi Menjadikan Perempuan Katolik Haram?

  1. Ike wicaksari says:

    Bagaimana caranya bergabung dlm komunitas Domus Cordis?? Trima kasih

    1. INSPIRE says:

      Hi, Ike. Untuk cara bergabung dengan komunitas Domus Cordis akan kami email secara pribadi yah. Thank you!

  2. Novena A R says:

    tulisannya bagus banget. indah dan mudah dipahami. terimakasih ya! 😀

  3. Rose says:

    Saya juga ingin mendapatkan hal-hal informasi yang sangat membantu saya. apakah bisa di email pribadi? ini email saya
    Sangat mengharapkan informasi yang bisa meningkatkan ke imanan katolik,, karena pada saat ini jujur saya mendapatkan kendala2 yang menggoyangkan iman saya.
    mohon bantuanya dan terima kasih.
    Good Blees Us

    1. INSPIRE says:

      Hi, Rose!
      Silakan mendaftarkan diri melalui tautan ini: http://www.letsinspire.co/subscribe/
      Untuk konsultasi secara pribadi, bisa menghubungi kami melalui email info@letsinspire.co ya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top