Apakah Setiap Penderitaan adalah Salib?

Mengapa saya?

Ketika sedang beruntung, terberkati, segalanya berjalan baik, sukses, gembira, sehat, tidak banyak orang yang bertanya, “Mengapa saya?” Namun, ketika sedang gagal, sakit, sedih, ditolak, dikhianati, malang, terpuruk, mengalami penderitaan, tiba-tiba banyak orang bertanya, “Mengapa saya?” Ketika sedang “baik”, tak banyak yang bertanya, “Di manakah Tuhan?” Tiba-tiba, ketika sedang “buruk”, orang berbondong-bondong bertanya , “Di manakah Tuhan?”

Orang bertanya, “Kalau Tuhan beneran ada, kenapa kok ada penderitaan?” Lucunya, kita jarang dengar orang bertanya, “Kalau Tuhan beneran ada, kenapa kok ada kebahagiaan?” Artinya, ketika nggak ada penderitaan, Tuhan dilupakan, tetapi ketika ada penderitaan, tiba-tiba Tuhan yang disalahkan.

Salib

Memanggul Salib

Banyak orang mudah menggunakan kata “salib” untuk setiap kesulitan yang dialami dalam hidup. Coba kita lihat Yesus terlebih dahulu. Dia mengingatkan, “Yang ingin mengikuti Aku, harus bersedia memikul salib.” Dalam pengalaman Yesus sendiri, Dia menaati kehendak Bapa-Nya, melakukan hal-hal baik, mengasihi semua orang, setia pada panggilan-Nya, dan yang didapat-Nya adalah salib.

Jadi, singkatnya, yang disebut sebagai salib adalah penderitaan atau kesulitan yang kita pikul, karena kita setia pada panggilan kita dalam mengikuti Yesus dan menaati apa yang Dia kehendaki.

Contoh kasus

Obat-obatan

Ada yang nggak memperhatikan anaknya, lalu setelah anaknya kena narkoba, mereka bilang, “Ini salib saya.” Ada yang curang, lalu setelah dipenjarakan, mereka bilang, “Ini salib saya.” Ada yang memalsukan karya tulis, lalu setelah terbongkar dan gelar sarjananya dicabut, mereka bilang, “Ini salib saya.” Ada yang sudah diingatkan untuk menjaga makanannya karena kolesterol tinggi, tetapi baru setelah terkena stroke mereka bilang, “Ini salib saya.” Sungguhkah penderitaan mereka ini salib?

Namun demikian, ada yang jujur di kantor, lalu dimusuhi. Itu salibnya. Gara-gara jadi pengikut Yesus, orang disingkirkan secara curang. Itu salibnya. Ada yang digencet dalam pertarungan pemilihan pemimpin karena ia seorang Kristiani. Itu salibnya. Ada yang terus setia mencintai suami yang tidak setia. Itu salibnya. Ada yang belajar keras agar berhasil dalam studi. Itu salibnya.

Singkatnya, salib yang sejati adalah penderitaan yang dialami karena melakukan hal yang baik dan benar yang dikehendaki Tuhan. Tidak berarti setiap kesulitan dan penderitaan merupakan salib yang sejati.

Contoh yang lebih berat

Sakit

Yang lebih berat adalah saat kita mengalami penderitaan yang terasa sungguh tidak layak kita alami. Bayi harus menjalani banyak operasi karena organ tubuhnya bermasalah. Orang baik yang aktif melayani Tuhan tiba-tiba didiagnosis menderita kanker ganas. Pemuda yang baik, santun, taat beribadah, rajin menolong orang, tertimpa pohon tumbang, sehingga ia lumpuh selamanya.

Ada banyak penderitaan dan kemalangan yang menimpa manusia yang memang sungguh sulit dipahami. Kita pun bertanya, “Kenapa kok bukan penjahat, bukan koruptor, bukan politikus munafik, bukan juragan pelit, yang mengalami derita seperti itu?”

Menjawab pertanyaan “Mengapa?”

Pertanyaan “mengapa” yang terkait dengan penderitaan orang yang tak bersalah mungkin tidak akan pernah bisa dijawab. Kita tidak punya jawaban untuk pertanyaan “mengapa” dalam situasi seperti itu. Namun, kita punya jawaban untuk pertanyaan “bagaimana”. Yesus, seorang yang tak bersalah, menderita, memanggul salib, dan mati. Dengan itu, kita mendapat jawaban atas pertanyaan, “Bagaimana kita bertahan saat kita mengalami penderitaan yang terasa tidak adil, sementara kita tahu bahwa kita tidak bersalah?”

Salib Kristus

Jawabnya mungkin hanya bisa kita dengar dalam hening, dan suara Yesus akan bergema lagi, “Aku tahu apa rasanya. Aku sudah mengalaminya. Izinkan Aku ikut memikul salibmu.”

Selamat Minggu Palma. Selamat berziarah selama Pekan Suci.

About Tano Shirani

Tano Shirani adalah lulusan program teologi Santa Clara University, California, Amerika Serikat. Sudah sejak lama, ia memiliki mimpi untuk ikut melayani orang muda melalui tulisan-tulisan rohani. Tano telah menerbitkan buku Namaku Lazarus: Merangkul Bisikan Kerahiman (Kanisius, 2016) dan Pendosa Jadi Pendoa: Gejolak Pertobatan Tujuh Pemazmur (Kanisius, 2017). Di tengah kesibukan menulis, menerjemahkan, dan menyunting berbagai tulisan, Tano juga melatih penulis-penulis rohani dalam komunitas Domus Cordis. Ia gemar melahap buku, dan sungguh percaya akan the power of words untuk mengubah dunia dan perjalanan seluruh sejarah umat manusia.





2 comments on Apakah Setiap Penderitaan adalah Salib?

  1. eni naiborhu says:

    Aminn amin
    Semoga masalah yang saya alami,saat ini suatu saat menjadi sukacita dalam hidup saya

  2. Roswita says:

    syukur pada Mu Tuhan,thanks ulasannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top