AskINSPIRE: Apakah Dosa Menghambat Terkabulnya Doa?

Ada pertanyaan yang masuk ke INSPIRE:

Apakah dosa bisa jadi penghambat terkabulnya doa kita?

Kalau mau dijelaskan secara sangat sederhana, jawabannya iya. Ada ayat-ayat Alkitab yang menyatakan bahwa dosa membuat Allah tidak mendengarkan doa-doa kita. Misalnya Yes 59:1-2, Mzm 66:18, Ams 28:9, Yoh 9:31, dan masih ada yang lain lagi.

Kita tahu, bahwa Allah tidak mendengarkan orang-orang berdosa, melainkan orang-orang yang saleh dan yang melakukan kehendak-Nya.” (Yoh 9:31)

Apa itu dosa?

Katekismus Gereja Katolik menjelaskan definisi tentang dosa, bisa dibaca di sini. Namun, kalau ingin disederhanakan, seperti yang pernah diucapkan juga oleh St. Padre Pio bahwa ketimbang mengenai pelanggaran hukum, dosa adalah “pelanggaran, pengkhianatan cinta,” karena bertentangan dengan Allah dan perintah-perintah-Nya yang adalah kasih itu sendiri.

Seorang imam bernama Pater Eusebio Notte menceritakan kisah ini.

Suatu ketika, situasi berbalik: Padre Pio ingin aku (Eusebio Notte) mendengar pengakuan dosanya. Ketika aku berusaha untuk menghindar (karena aku masih seorang imam muda), ia sudah memulai: “Saya mengaku…” dan aku harus berhenti. Setelah ia telah selesai menyatakan dosa-dosanya, sesuatu yang benar-benar menggelisahkan terjadi: Padre Pio menangis tersedu-sedu. Aku berusaha menghiburnya dengan berkata bahwa ia tidak memiliki alasan untuk menangis, karena kesalahan-kesalahan yang tidak berarti. Padre Pio menyahut: “Anakku, engkau juga tampaknya berpikir bahwa dosa adalah pelanggaran hukum. Tetapi bukan itu! Dosa adalah pengkhianatan cinta. Pikirkan apa yang telah Tuhan lakukan bagiku: apa yang sudah aku lakukan bagi Dia?”

Manusia diciptakan dalam gambar dan rupa Allah (Kej 1:26) yang adalah kasih (1Yoh 4:8), sehingga manusia memang diciptakan untuk mengasihi seperti Allah sendiri, yaitu Pribadi-pribadi yang saling mengasihi dengan luar biasa dalam persekutuan diri-Nya yang adalah Tritunggal Mahakudus. Kasih Allah adalah kasih yang memberikan diri, kasih yang memancar ke luar, dan manusia telah diciptakan dengan modal kemampuan yang sama. Namun, ketika kita berdosa, yang kita lakukan bukanlah kasih yang memberikan diri atau memperhatikan orang lain, melainkan tindakan yang mengambil sesuatu, merugikan, melukai orang lain demi kepentingan kita sendiri. Dosa terjadi ketika kita hanya terfokus kepada diri kita sendiri dan gagal mengasihi Allah dan sesama.

Bobot dosa: dosa berat dan dosa ringan.

Gereja mengajarkan kalau dosa perlu dinilai berdasarkan bobotnya. Ada yang disebut dosa berat, ada yang disebut dosa ringan. “Dosa berat merusakkan kasih di dalam hati manusia oleh satu pelanggaran berat melawan hukum Allah,” (KGK 1855).

Dalam dosa berat, manusia sudah memilih untuk menolak Allah secara sadar. Seseorang melakukan dosa berat kalau ia dengan pengetahuan dan kesadaran penuh, sengaja dan mau melakukan hal-hal yang serius yang bertentangan dengan hukum Tuhan yang adalah kasih. Hal-hal yang tergolong berat (serius), secara singkat ditandai dengan pelanggaran terhadap sepuluh perintah Allah dan turunannya. Dengan dosa berat, jiwa seseorang “mati” di hadapan Allah, sehingga semua doa-doa dan tindakan-tindakan bisa dikatakan juga “mati” dan tidak dapat menyelamatkan kita, kecuali jika jiwa kita “dihidupkan” kembali ke dalam persatuan dengan Allah melalui rahmat Sakramen Tobat.

Dosa ringan membiarkan kasih tetap ada, walaupun ia telah melanggarnya dan melukainya. Dengan dosa ringan, jiwa seseorang “terluka”, menjadi “lemah”, tetapi masih dapat diperbaiki. Namun, perlu tetap berhati-hati, karena kalau dosa ringan dilakukan dengan sadar dan tidak disesalkan, perlahan-lahan bisa membawa kita melakukan dosa berat.

Apakah Allah sama sekali tidak mendengar doa-doa orang berdosa?

Kenyataannya, kita semua adalah orang berdosa. Jika Allah sama sekali tidak mendengar doa orang berdosa, ia tidak akan mendengarkan doa seorang pun. Kita bisa melihat di dalam cerita-cerita Kitab Suci atau para kudus, bahwa Allah mendengarkan doa-doa orang berdosa. Ketika masih hidup, orang kudus juga dulunya orang berdosa. Namun, tetap benar, kalau kita hidup dalam dosa yang disadari tanpa niat untuk memperbaiki diri, hal tersebut bisa menghambat doa-doa kita di hadapan Allah.

Di sisi lain, pengabulan doa adalah ranah kasih, kebijaksanaan, dan kekuasaan Tuhan. Yang pasti, Tuhan selalu ingin memberikan apa yang baik kepada manusia. Jika kita berada dalam keadaan dosa berat, Tuhan sebenarnya tidak memiliki kewajiban untuk mendengarnya, karena seseorang yang berada dalam keadaan dosa berat artinya berada dalam keterpisahan dari Tuhan, karena sudah memilih berada di sisi kejahatan atau iblis. Namun, ada kisah-kisah Allah mendengar doa orang berdosa. Dalam kasus-kasus tersebut, dorongan atau motivasi untuk berdoa mungkin saja merupakan rahmat dari Allah yang diberikan kepada kita.

Mengapa dosa bisa menghambat doa-doa kita?

Dosa menunjukkan kalau kita belum benar-benar mengerti kehendak Allah, sementara doa yang dikabulkan oleh Tuhan sebenarnya mengenai hal-hal yang berkenan kepada-Nya dan sesuai dengan kehendak-Nya, yang adalah kasih. (Baca juga: Bagaimana Cara Agar Doa Dikabulkan Tuhan?)

“Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa. Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu. Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.” (Yak 4:1-4)

Pertobatan dan menjauhi dosa adalah langkah awal.

Bertobat dan menjauhi dosa adalah langkah awal untuk belajar semakin mengenali yang mana kehendak Tuhan, yang mana yang bukan kehendak-Nya. Sakramen Tobat dan doa adalah dua hal yang perlu supaya kita bisa berhenti berdosa, karena berdoa dan berdosa tidak bisa berjalan bersamaan. Doa dan dosa mengarahkan kita ke tujuan yang berbeda: doa mengarahkan kita mendekat kepada Allah, sementara dosa mengarahkan kita menjauh dari Allah, sehingga kita perlu berdoa supaya berhenti berdosa, dan sebaliknya, dosa bisa membuat kita berhenti berdoa.

Waktu kita sudah semakin mengenal Tuhan dan kehendak-Nya dengan hati yang tulus, pasti kita akan berusaha melakukan hal-hal yang berkenan di hadapan-Nya dan sesuai dengan kehendak-Nya. Itulah sebab mengapa doa-doa orang kudus terkabul, yaitu karena mereka begitu dekat dengan Tuhan, mereka bisa mengetahui dan menerima kehendak-Nya. Dengan kata lain, kehendak orang-orang kudus ini adalah supaya kehendak Allah yang terlaksana.

Jadi, kalau kita ingin doa-doa yang dikabulkan, berusahalah untuk semakin mengenal dan dekat dengan Tuhan, dan mengenali kehendak-Nya. (Baca juga: 5 Cara untuk Belajar Percaya kepada Tuhan)

“Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya,” (Yak 5:16).

About Friesca Saputra

Walaupun berprofesi sebagai dokter, Friesca adalah orang muda yang sangat mencintai segala sesuatu tentang iman Katolik sejak kepulangannya ke dalam Gereja. Baginya, ilmu pengetahuan dan iman Katolik tidaklah bertentangan, sehingga "iman dan akal budi adalah seperti dua sayap di mana roh manusia naik ke kontemplasi kebenaran," ini menjadi motto hidupnya.

Sejak tahun 2012, ia bergabung dengan karya kerasulan Youth Mission for Life (YML) yang bergerak untuk membela kehidupan, serta mempromosikan KB alamiah (KBA), yang salah satu hasilnya adalah aplikasi OVULA Women Fertility. Ia juga turut berkontribusi dalam penulisan buku Renungan Harian Perempuan "Treasuring Womanhood" bersama teman-teman perempuan lain. Karyanya di dunia maya dimulai sejak ia direkrut menjadi salah satu admin page Katolik.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top