AskINSPIRE: Bagaimana Berhenti Pornografi tanpa Supresi (Ditekan/Dikekang)?

Ada pertanyaan yang masuk ke INSPIRE:

Terima kasih, Kak, atas video dan penjelasannya yang sangat bermanfaat sekali. Zaman sekarang, pornografi sudah menjadi jerat yang mematikan sekali untuk generasi ini. Saya juga seorang pecandu yang sedang berusaha lepas dari pergumulan ini, dan video Kakak membuat saya yakin bahwa saya bisa melaluinya. Namun, yang ingin saya tanyakan, Kakak bilang bahwa untuk berhenti nonton porno itu bukan disupresi (ditekan/dikekang). Jadi, kalau nggak disupresi, lalu bagaimana cara untuk berhenti?

Hi! Thanks untuk feedback baik darimu.

Untuk menjawab pertanyaanmu, sebetulnya dibutuhkan sesi yang lumayan panjang dan sedikit lebih mendalam. Saya coba jawab secara singkat:

1. Mesupresi berarti mengekang tindakan, padahal ada keinginan untuk mengkonsumsi pornografi.

Kalau kita supresi, suatu saat kita keinginan tersebut bisa meledak, atau malah keluar dalam bentuk adiksi yang lain. Jadi, sebetulnya sasaran kita bukanlah supresi, melainkan bagaimana kita bisa membebaskan hati kita dari keinginan untuk mengkonsumsi pornografi.

Langkah pertama yang bisa kita lakukan ketika keinginan itu muncul adalah dengan mempersembahkannya kepada Tuhan, yang bisa dilakukan dengan cara sesederhana berkata, “Tuhan, saat ini keinginan untuk mengkonsumsi pornografi muncul di dalam diriku. Aku mempersembahkan keinginan itu kepada-Mu. Terimalah, kasihanilah, dan bantulah aku ya, Tuhan!” Tuhan akan menerima persembahanmu itu dan menggantikannya dengan rahmat yang cukup bagimu.

2. Sikap hati yang tidak ingin mengkonsumsi pornografi itu pada dasarnya adalah sikap hati yang tidak menginginkan pemenuhan pemuasan diri.

Pemuasan diri yang seperti apa? Pemuasan diri melalui penyalahgunaan seks, atau juga tindakan-tindakan lain.

3. Dengan demikian, diperlukan pembentukan sikap hati yang benar.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan, salah satunya adalah melatih pengendalian diri. Pengendalian diri, atau self-mastery itulah esensi dari berpantang atau berpuasa. Berpantang dan berpuasa, bahkan selepas masa puasa. Dan nggak harus puasa pornografi saja, bisa juga memilih puasa dari hal yang kita sangat inginkan, misalnya puasa gadget, puasa ngemil, puasa merokok, dan sebagainya. Tujuannya adalah untuk melatih pengendalian diri dan pengendalian keinginan.

Selain itu, untuk membentuk sikap hati supaya semakin baik, kita harus belajar dari hal-hal yang baik pula: semakin seringlah berdoa (Rosario sangat membantu lho), bacalah Kitab Suci, pahami ajaran Gereja Katolik yang benar mengenai seksualitas (kamu bisa cek teologitubuh.com), seringlah memeriksa batin dan menerima Sakramen Tobat, serta Sakramen Ekaristi. Mungkin kamu tidak menyadarinya, tetapi semakin sering kamu bersentuhan dengan hal-hal ini, kamu sebenarnya sedang membentuk hatimu supaya menjadi semakin murni.

4. Cara “pemuasan diri.”

Mengenai pemuasan diri, ada 3 (tiga) hal yang kita pikir kalau kita miliki atau peroleh, kita akan semakin puas, tetapi kenyataannya malah kita merasa semakin haus. Apa saja hal itu? Pada dasarnya adalah kekuasaan atau kekayaan, kehormatan, dan kenikmatan (coba lihat di 1Yoh 2:16).

Kalau hal tersebut di atas itu palsu, hal apa yang benar-benar bisa membuat manusia merasa puas? Yaitu yang berhubungan dengan mencintai dan dicintai dengan otentik. Jadi, kamu perlu berusaha mencari makna cinta yang sejati supaya bisa benar-benar happy.

(Kamu bisa menemukan topik-topik mengenai happiness atau topik terkait di Channel INSPIRE)

5. Menelusuri akar masalahnya.

Cara telusuri, apakah kamu pernah mengalami luka atau penolakan di masa lalu. Pengalaman saya sendiri, kecanduan pornografi saya dimulai ketika saya pernah mengalami perundungan (bullying), sehingga saya merasa nggak akan ada cewek yang mau sama saya. Karena kejadian itu, saya merasa seakan-akan cewek di balik pixel layar komputer itu menerima dan nggak akan pernah menolak saya. Padahal, semua itu adalah ilusi. Jadi, yang sebenarnya saya cari adalah pengalaman untuk diterima (the experience of being accepted), dan sungguh-sungguh dikasihi (truly loved), bukan pornografinya.

So, coba telusuri pengalaman masa lalu, dan coba berdamai dengan hal tersebut.

Kalau kamu punya pertanyaan yang ingin kamu tanyakan ke INSPIRE,
silakan email ke info@letsinspire.co
#AskINSPIRE

About Violison Martheo

Violison adalah seorang ayah, suami, dan entrepreneur yang telah melayani orang muda dan Gereja sejak tahun 2000 di bidang musik, pewartaan, manajemen, dan pengembangan kepemimpinan. Ia pernah berkarya menjadi Ketua Seksi Kerasulan Kitab Suci di Paroki St. Bonaventura, Pulomas, dan juga dipercaya untuk mendampingi Bidang Pewartaan dan Wilayah dalam kapasitasnya sebagai anggota Dewan Paroki Harian Paroki Pulomas. Sebagai mantan porn-addict yang telah mengalami cinta dan pembebasan Tuhan, tanpa kenal lelah, ia memperjuangkan karya evangelisasi yang kreatif, kekinian, dan kontekstual kepada remaja, serta pengembangan pendampingan remaja dalam karyanya sebagai Ketua Life Teen Indonesia. Selain gemar bermain gitar dan bass, di waktu luangnya ia doyan kongkow sambil cari kangtaw.





2 comments on AskINSPIRE: Bagaimana Berhenti Pornografi tanpa Supresi (Ditekan/Dikekang)?

  1. Andry says:

    terimakasih. sangat bermanfaat

  2. Elfrid says:

    Terimakasih, sangat membantu,tingkatkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top