AskINSPIRE: Bagaimana Cara Agar Doa Dikabulkan Tuhan?

Ada curhat yang masuk ke INSPIRE:

Kak, aku pengen curhat nih tentang masalahku. Sekarang ini, aku bingung dan takut. Aku merasa seperti diabaikan Tuhan. Aku sudah mencoba berbagai jalur untuk masuk PTN, tapi tidak ada yang keterima sama sekali. Aku sempat down banget, Kak. Aku merasa sudah berusaha semampuku untuk bisa lulus. Aku sudah tekun berdoa novena Santo Yudas Tadeus, novena Hati Kudus Yesus, doa Rosario, dan doa Koronka, tapi kok Tuhan belum jawab doaku sampai sekarang?

Sekarang aku mau mencoba bangkit lagi, dan berusaha untuk lulus di jalur mandiri, tapi aku masih merasakan kegagalan itu. Aku juga takut. Aku menangis. Kak, sebenarnya Tuhan mendengarkan doaku atau tidak? Rasanya sakit banget setelah mengalami semua kegagalan itu. Aku seperti nggak ada gairah dan semangat lagi untuk hidup. Aku takut semuanya ini sia-sia.

Tolong bantu aku, Kak, bagaimana caranya agar doa kita bisa dikabulkan Tuhan?

Pertama-tama, beribu maaf, karena tanggapan terhadap pertanyaanmu tertunda sekian lama. Jujur saja, pertanyaanmu itu memaksa saya untuk menengok kembali pengalaman-pengalaman pribadi saya tentang doa yang dikabulkan, dan doa yang tidak atau belum dikabulkan Tuhan. Ingin rasanya bisa memberi jawaban yang praktis, yang bisa membawamu pada pengalaman permohonan-permohonanmu dikabulkan oleh Tuhan. Namun, yang bisa saya bagikan di sini adalah pengalaman saya yang terbatas. Orang lain tentu punya pengalaman yang berbeda.

Sabda dan Janji Tuhan

Saya tahu bahwa Yesus telah bersabda, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu,” (Matius 7:7) dan Bapa di sorga “akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya” (Matius 7:11). Ayat seperti inilah yang membuat saya berusaha untuk tidak mudah menyerah ketika memiliki permohonan tertentu. Saya akan terus memohon kepada Tuhan. Dalam proses itu, ketika rasanya tidak kunjung dikabulkan, saya harus memberi perhatian lebih pada sabda Yesus itu. Kriteria apa yang “baik” itu ditentukan oleh Bapa. Jika permohonan saya itu “baik” di mata Tuhan, permohonan saya akan dikabulkan. Di sinilah kadang saya mengalami frutrasi, karena apa yang “baik” menurut saya tidaklah selalu “baik” menurut Tuhan.

Saya juga tahu, bahwa Yesus bahkan memberi janji yang sangat meyakinkan. Tampaknya sangat sederhana. Yang penting, harus sungguh beriman. Yesus mengutuk pohon ara sehingga mati. Itu jadi kesempatan bagi Yesus untuk mengajar tentang pentingnya iman. Dengan iman, saya bisa melakukan hal-hal yang tampaknya mustahil. Di bagian akhir ajaran-Nya, Yesus berkata: “Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dan dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya” (Mat 21:22). Jadi, patokannya sangat jelas: doa harus berdasar pada iman yang kokoh. Saat saya berdoa, saya harus juga sudah meyakinkan diri kita bahwa tidak ada satu pun yang mustahil bagi orang beriman yang berdasar pada Tuhan. Namun demikian, bahkan sesudah saya mengandalkan seluruh iman yang saya punya, permohonan tetap juga tidak dikabulkan. Saya bisa juga frustrasi.

Beberapa Hal Tentang Pengabulan Doa

Saya tidak tahu persis, berapa kali permohonan saya dikabulkan, dan berapa kali tidak dikabulkan. Sudah sering juga saya merasa frustrasi, bahkan merasa “ditipu” oleh nasihat-nasihat indah Yesus tentang doa. Dari pengalaman-pengalaman itu, inilah beberapa hal yang saya pelajari, yang bisa saya bagikan di sini.

Pertama, sikap hati saya adalah “terus memohon hingga dikabulkan”. Ketika berdoa untuk orang sakit, atau menemani sahabat berdoa bagi kerabat yang sakit, saya akan berdoa sekuat tenaga memohonkan kesembuhan bagi orang itu. Meskipun demikian, setelah sekian lama, ada satu titik yang akhirnya membuat saya merasa bahwa doa saya harus diubah. Ada bisikan sangat halus dan lembut dalam hati saya yang mengatakan bahwa saya harus mulai memohonkan bagi orang itu sebuah proses menuju akhir hidupnya yang sungguh indah. Saya pun berdoa sekuat tenaga, agar orang itu sungguh disiapkan untuk akhirnya berjumpa secara pribadi dengan Sang Pencipta. Mungkin sikap ini akan dianggap sebagai sikap kurang beriman. Beberapa pihak dari aliran tertentu akan bersikeras untuk terus berdoa mohon kesembuhan. Jadi, saya hanya bisa mengatakan: berdoalah terus sekuat tenaga hingga dikabulkan, atau hingga kamu melihat secara lebih jelas, bahwa Tuhan sendiri menghendaki agar permohonan dalam doamu itu diubah.

Kedua, saya yakin bahwa orangtua yang baik bukanlah orangtua yang selalu mengabulkan apa yang diminta oleh anak mereka. Orangtua yang baik bahkan harus sesekali menolak apa yang diminta oleh anaknya. Meskipun tahu bahwa anaknya mungkin akan sangat sedih, kecewa, bahkan marah atau “ngambek,” dan mungkin merasa tidak lagi dicintai oleh orangtuanya, jika memang permohonan harus ditolak, tetaplah orangtua yang baik itu harus mengatakan “tidak.” Saya tahu, ini pun berat dan tidak jarang sungguh terasa pedih dalam hati orangtua. Cinta orangtua terhadap anak kadang harus diungkapkan dengan berkata “tidak” terhadap permohonan anaknya. Ketika masih seorang anak kecil dulu, tak bisa saya memahami. Setelah menjadi dewasa, barulah saya mengerti, bahwa jawaban “tidak” justru kadang menjadi jawaban cinta yang bertanggung jawab. Saya juga percaya, seperti itulah Tuhan terhadap sekian banyak permohonan manusia.

“Kamu tidak bisa selalu berharap doamu dijawab dalam cara yang kamu inginkan, tetapi kamu bisa selalu berharap kepada Allah, Bapa pengasih yang seringkali menolak hal-hal yang pada akhirnya terbukti akan berbahaya bagi kita. Setiap anak laki-laki menginginkan pistol pada usia empat tahun, dan tidak ada ayah yang pernah mengabulkan permintaan itu. Mengapa kita berpikir Allah kurang bijaksana? Suatu hari kita akan berterima kasih kepada Allah bukan hanya untuk apa yang Ia berikan kepada kita, tetapi juga untuk hal-hal yang tidak Ia kabulkan.” (Uskup Agung Fulton J. Sheen)

Ketiga, saya tahu bahwa saya harus bekerja keras mengejar mimpi sebagai ungkapan passion saya yang paling jujur, agar dengan itu saya bisa menjadi “the best version of myself” sesuai dengan rencana Tuhan. Saya tahu talenta saya, saya tahu apa yang harus saya lakukan, saya tahu apa mimpi saya, saya tahu bahwa dengan semuanya itu, saya akan bisa menjadi berkat bagi banyak orang. Ketika permohonan dalam doa saya terkait dengan hal yang sangat mendasar demi kepenuhan realisasi seluruh talenta yang diberikan Tuhan, yang bukan melulu demi diri saya sendiri, melainkan juga demi banyak orang, saya tidak akan mudah menyerah. Saya akan terus berdoa, kalau pun harus menempuh waktu yang lama, dan kadang membuat diri saya sendiri ragu.

Keempat, saya belajar membedakan antara need (kebutuhan) dan want (keinginan). Contoh paling jelas adalah saat ada sale di mal. Tanpa saya sadari, want bisa seketika seolah menjadi need. “Keinginan” saya untuk punya baju baru tiba-tiba menjadi “kebutuhan” saya akan baju baru. Tidak jarang, permohonan dalam doa saya lebih berdasar pada want, bukan need. Saya pun belajar percaya, bahwa Tuhan tidak akan selalu mengabulkan apa yang saya inginkan (want), tetapi Tuhan tidak pernah gagal memberikan apa yang saya butuhkan (need).

Kelima, saya belajar membedakan antara “tujuan” dan “cara”. Sebagai contoh, kalau saya harus pergi ke sebuah mal, saya bisa memilih untuk naik bus atau taksi. Kalau bus tak kunjung tiba, sementara waktu terus berjalan, mulai ada rintik hujan, dan kemudian saya melihat sebuah taksi datang ke arah saya, pada saat itu saya harus bersikap bijaksana. Mungkin saya akan ambil taksi itu. Ini bukan “cara” yang saya mau, karena pasti lebih mahal, tapi pada situasi semacam tadi, taksi itu adalah “cara” terbaik sampai ke “tujuan”. Seperti itulah permohonan doa saya. Kadang saya terjebak dalam permohonan akan sebuah “cara” tertentu agar sampai ke “tujuan” tertentu. Akibatnya, saya tidak pernah sampai pada “tujuan” yang ingin saya capai. Contoh paling jelas telah diberikan oleh Yesus sendiri. Di taman Getsemani, Yesus berdoa memohon agar piala itu berlalu tanpa Ia harus meminumnya. Yesus punya “tujuan” jelas untuk menuntaskan tugas dari Bapa-Nya. Ia melihat bahwa masih banyak hal yang harus dikerjakan. Di mata Yesus, “cara” untuk itu adalah lebih lama hidup dan lebih lama berkarya. Namun, tidak demikian halnya di mata Bapa-Nya. Yesus harus menerima kenyataan bahwa di mata Bapa-Nya, “cara” untuk mencapai “tujuan” itu adalah dengan meminum piala. Yesus berani jujur mengungkapan apa yang Ia mau sebagai “cara” untuk mencapai “tujuan”, tetapi Ia tidak terperangkap hanya dalam satu “cara” yang dipikirkan-Nya. Ia bisa terus juga berserah, “Terjadilah bukan kehendak-Ku, tetapi kehendak-Mu, Bapa.” Saya sendiri sering sekali menjadi orang yang sibuk menanti dan mengetuk pintu yang terkunci, sementara kalau saya mau menoleh sedikit saja, terlihat ada pintu yang terbuka. Saya sering terjebak dalam keyakinan kalau pintu yang terkunci itu harus terbuka, karena itulah satu-satunya “cara”, sehingga saya kehilangan kesempatan untuk sampai ke “tujuan” yang sama karena saya tak mau masuk lewat “cara” lain, dalam bentuk pintu lain yang telah terbuka lebar itu,

Belajar dari Injil

Kalau ingin sebuah contoh patokan dari Injil, saya ingin mengajakmu melihat ini.  Yesus pernah berjanji, “Mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya” (Yohanes 15:7b). Namun, kita sering lupa kalau ayat itu diawali dengan satu prasyarat, “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, . . .” (Yohanes 15:7a)

Kenyataannya, meskipun kita sudah cukup setia tinggal di dalam Yesus, dan firman-Nya sudah tinggal di dalam kita, permohonan kita belum juga dikabulkan. Ayat selanjutnya perlu kita ingat: “Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku” (Yoh 15:8).

Dengan demikian, ada tiga hal yang menjadi patokan:
a) Apakah dengan dikabulkannya permohonanku itu, Bapa dimuliakan?
b) Apakah dengan dikabulkannya permohonanku itu, aku berbuah banyak menghasilkan kebaikan?
c) Apakah dengan dikabulkannya permohonanku itu, aku akan semakin dikenal sebagai murid Yesus?

Catatan Akhir

Sekali lagi, beribu maaf, saya tidak punya resep jitu yang menjamin agar permohonanmu bisa pasti dikabulkan. Tuhan selalu lebih besar dari keinginan dan pemahaman saya. Dua hal ini ingin saya tambahkan sebagai catatan akhir:

  1. Cobalah temukan bersama Tuhan, pertempuran apa yang Tuhan kehendaki untuk kamu masuki. Fight the right battle! Jangan bertempur di peperangan yang salah. Jangan bersikeras memohon sesuatu yang mungkin sebenarnya adalah suatu pertempuran yang tidak Tuhan inginkan untuk kamu masuki.
  2. Banyak orang sukses dan bahagia bukan dengan “Opsi A” hidup mereka, tetapi justru dengan “Opsi B”. Permohonan yang tidak dikabulkan oleh Tuhan mungkin justru menjadi tawaran untuk bertumbuh dalam “Opsi B”.

Pada akhirnya, sama seperti seorang dokter yang merawat saya berkata kepada keluarga saya tentang segala keinginan saya, “Berilah saja apa saja yang ia mau,” itu berarti jelas bahwa ajal saya sudah dekat. Tidak ada lagi harapan. Maka, permohonan saya yang tidak dikabulkan oleh Tuhan menunjukkan bahwa Tuhan masih punya banyak harapan tentang diri saya. Dengan demikian, pengalaman bahwa permohonan saya ditolak oleh Tuhan adalah sungguh good news, kabar gembira!

About Tano Shirani

Tano Shirani adalah lulusan program teologi Santa Clara University, California, Amerika Serikat. Sudah sejak lama, ia memiliki mimpi untuk ikut melayani orang muda melalui tulisan-tulisan rohani. Tano telah menerbitkan buku Namaku Lazarus: Merangkul Bisikan Kerahiman (Kanisius, 2016) dan Pendosa Jadi Pendoa: Gejolak Pertobatan Tujuh Pemazmur (Kanisius, 2017). Di tengah kesibukan menulis, menerjemahkan, dan menyunting berbagai tulisan, Tano juga melatih penulis-penulis rohani dalam komunitas Domus Cordis. Ia gemar melahap buku, dan sungguh percaya akan the power of words untuk mengubah dunia dan perjalanan seluruh sejarah umat manusia.





5 comments on AskINSPIRE: Bagaimana Cara Agar Doa Dikabulkan Tuhan?

  1. ronalmaramis says:

    terimakasih banyak. mungkin ini juga jawaban atas doa saya. semoga. amin

  2. Senja wijaya says:

    Sangat menarik,terimakasih, Tuhan memberkati

  3. Harri Purwanto says:

    KEKUATAN DOA. Ini pengalaman saya. Sudah hampir beberapa tahun yang lalu, saya mempunyai benjolan daging di belahan p.n.t saya sebelah kanan. Benjolan itu kecil, tetapi setelah setahun semakin membesar dan rasanya gatal. Ketika diurut hilang, tapi beberapa bulan kemudian muncul lagi. Memang tidak kelihatan dari luar, tetapi kadang saya merasa susah untuk duduk. Saya ketakutan bahwa itu tumor, karena dua orang adik saya meninggal karena tumor. Untuk ke dokter dan pasti dibedah kecil, saya takut dengan biayanya. Dan beberapa tahun yang lalu, sekarang saya sadar bahwa itu Tuhan yang menyuruh, maka saya berdoa meminta kepadanya. Setiap hari, setiap pagi dan malam, setiap ibadah di gereja saya selalu berdoa. Doa saya mulai dari Bapa Kami, Salam Maria dan Kemuliaan, karena doa itu yang saya hafal. Setelah selesai dengan ketiga doa tersebut, saya meminta kepada Tuhan: Ya Tuhan aku ucapkan terimakasih atas rejekimu hari ini, semoga besok aku lebih banyak lagi berbakti kepadaMu, ya Tuhan sembuhkanlah penyakitku ku ini. Amin. Itu saya lakukan dari lima tahun yang lalu sampai sekarang, setiap hari. Dan Tuhan mengabulkan permintaan saya. Memang tidak langsung hilang sama sekali, tapi yang saya rasakan secara sedikit demi sedikit penyakit itu menghilang. Saya sampai sekarang tidak pernah berhenti untuk berdoa seperti itu. Karena saya percaya, bahwa Tuhan akan memberikan apa yang saya perlukan.

  4. Maria Santisima says:

    renungan sederhana namun mampu memberi makna mendalam. terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top