AskINSPIRE: Cinta Sesama Jenis

Ada pertanyaan yang masuk ke INSPIRE:

  1. Bagaimana ketika seseorang mencintai secara romantik (tapi no sexual desire) sesama jenisnya? Apakah itu boleh?
  2. Bisakah diceritakan tentang persahabatan antara Raja Daud dan Pangeran Yonathan?
  3. Bolehkah dijelaskan perbedaan kasih philia dan eros?

Empat Macam Cinta

Supaya lebih gampang, kita mulai dengan pertanyaan nomor tiga.
Gini, ada banyak kata dalam bahasa Yunani untuk menggambarkan “cinta.” Kita lihat saja empat.

  • Ada kata storgē. Ini cinta dalam arti yang paling umum. Termasuk di sini kalo kamu cinta sama kerjaan kamu, cinta sama menu makanan tertentu di resto tertentu, cinta sama seleb pujaanmu, cinta sama tim bola andalanmu.
  • Terus, ada kata eros. Gampangnya, eros adalah bentuk cinta yang berpusat pada diri. Jalan pikirnya, me me megue gue gue… Efek buruknya, terdorong oleh eros, orang bisa memanfaatkan orang lain demi diri sendiri.
  • Lalu, ada kata philia. Ini adalah cinta yang umum terjadi di antara sesama teman. Meskipun tidak lagi gue gue gue, bentuk cinta philia mengandaikan adanya timbal-balik. Gue care sama elo, dan gue harap elo juga care sama gue. Masih ada pamrih. Elo sahabat gue. Gue cinta sama elo, tapi gue harap juga elo cinta sama gue sebagai sahabat lo.
  • Nah, akhirnya ada agapē. Di sini gak ada lagi pamrih. Gue cinta sama elo, terserah elo mau cinta balik ke gue apa nggak. Ini cinta Tuhan terhadap manusia. Ini cinta ibu terhadap bayinya. Kenyataannya, dalam hubungan antara dua orang, keempat bentuk cinta itu bisa ada silih berganti.

Maka, penting aja ngenalin, elo sedang digerakkan oleh storgē, eros, philia, atau agape.

Daud dan Yonathan

Nah, sekarang tentang persahabatan antara Daud dan Yonathan di pertanyaan nomor dua. Ada pihak yang punya agenda untuk membela homoseksualitas dengan berusaha membuktikan bahwa antara Daud dan Yonathan ada cinta yang bersifat homoseksual. Menurut saya sih, ini cuma berusaha mencocokkan teks yang ada untuk mendukung agenda yang sedang diusung. Cinta antara Daud dan Yonathan mungkin lebih dekat ke bentuk philia. Ada sebuah persahabatan, kesetiaan timbal-balik, kesediaan untuk saling berkorban. Sama sekali bukan cinta romantis-erotis homoseksual seperti kata beberapa orang itu.

Cinta Sesama Jenis

Untuk menjawab pertanyaan nomor satu, kita perlu kembali ke empat kemungkinan bentuk cinta tadi. Dalam hubungan antar sesama jenis, hal yang sama juga berlaku. Perlu diwaspadai, apakah cinta kita itu lebih berupa eros, yang berpusat pada gue gue gue. Ini bisa jadi masalah, baik dalam relasi heteroseksual, maupun homoseksual. Cinta antara cowok dan cowok atau cewek dan cewek bisa dikembangkan sebagai bentuk philia, atau bahkan bisa ditingkatkan hingga agapē.

Dengan catatan ini, mari kita bayangin aja cinta romantis yang dibina antara dua manusia itu seperti orang buat fondasi sebuah bangunan. Proses pacaran yang digerakkan oleh cinta romantis yang sehat adalah sebuah tahap membuat fondasi. Bangunan yang kelak akan berdiri adalah pernikahan. Dalam keyakinan Katolik, pernikahan harus selalu terbuka pada adanya kehidupan baru; dari pernikahan itu diharapkan akan lahir anak. Konsekuensinya, pernikahan hanya bisa dibangun antara seorang cowok dan seorang cewek. Maka, jika bangunan itu adalah pernikahan antara seorang cowok dan seorang cewek, fondasi yang disiapkan ya harus sama. Cinta yang bersifat romantis yang mewarnai masa pacaran adalah juga cinta yang bersifat romantis antara cowok dan cewek. Konsekuensinya, membangun cinta yang bersifat romantis antar sesama cowok atau sesama cewek berarti sama saja dengan melanjutkan membuat fondasi untuk sebuah bangunan yang kita tahu nggak akan pernah kita dirikan. Bukankah ini lalu berarti tindakan menipu diri, atau bahkan tindakan saling menipu? Jika sudah tahu bahwa bangunan itu nggak bakalan pernah kita bangun, janganlah terus buat fondasi.

Kejujuran juga Berlaku dalam Hubungan Berbeda Jenis

Kejujuran ini berlaku tidak hanya dalam konteks hubungan antar sesama cowok atau sesama cewek, tapi juga antara  cowok dan cewek. Jika dua orang ini terus membina cinta romantis tapi juga tahu bahwa mereka nggak bakalan menikah, berarti mereka sebenarnya sedang saling menggunakan satu sama lain. Meskipun mungkin tidak ada ungkapan erotis secara fisik, di lapisan terdalam ini sebenarnya adalah sebuah bentuk eros, dan eros tidak pernah bisa jadi bahan baku yang kuat untuk membuat fondasi sebuah pernikahan.

Jadi, pertanyaannya, bukan soal boleh nggak boleh, tapi soal keberanian untuk tidak saling menggunakan.

Tentu ruang di sini sangat terbatas untuk membahas lebih jauh. Jika ada pertanyaan, mungkin bisa diatur lewat forum INSPIRE ini untuk sekali-sekali kita ketemu langsung dan ngobrol tentang ini dengan teman-teman lain yang mungkin juga punya pertanyaan-pertanyaan serupa.

Kita terus melangkah bersama Tuhan di tengah sekian banyak pertanyaan hidup kita.

About Tano Shirani

Tano Shirani adalah lulusan program teologi Santa Clara University, California, Amerika Serikat. Sudah sejak lama, ia memiliki mimpi untuk ikut melayani orang muda melalui tulisan-tulisan rohani. Tano telah menerbitkan buku Namaku Lazarus: Merangkul Bisikan Kerahiman (Kanisius, 2016) dan Pendosa Jadi Pendoa: Gejolak Pertobatan Tujuh Pemazmur (Kanisius, 2017). Di tengah kesibukan menulis, menerjemahkan, dan menyunting berbagai tulisan, Tano juga melatih penulis-penulis rohani dalam komunitas Domus Cordis. Ia gemar melahap buku, dan sungguh percaya akan the power of words untuk mengubah dunia dan perjalanan seluruh sejarah umat manusia.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top