AskINSPIRE: Doa Untuk Orang Yang Sudah Meninggal

Ada pertanyaan yang masuk ke INSPIRE:

Kakak admin, apakah sebagai pengikut Tuhan kita boleh berdoa atas arwah orang yang sudah meninggal? Kalau menurut saya sendiri sih, buat apa mendoakan orang yang sudah meninggal? Nggak akan ada pengaruh karena dia sudah meninggal, dan nggak punya urusan lagi di dunia. Yang penting, sebagai saudara kita mendoakan yang ditinggalkan agar bisa menerima kematian saudara/keluarganya.

Ada tiga hal yang saling terkait yang terkandung dalam pertanyaan yang diajukan:

  1. Memanggil arwah orang yang sudah meninggal.
  2. Berdoa untuk orang yang sudah meninggal.
  3. Berdoa kepada orang yang sudah meninggal.

Memanggil Arwah Orang yang Sudah Meninggal

Melalui Musa, Tuhan menyampaikan larangan ini: “Di antaramu janganlah didapati seorangpun yang mempersembahkan anaknya laki-laki atau anaknya perempuan sebagai korban dalam api, ataupun seorang yang menjadi petenung, seorang peramal, seorang penelaah, seorang penyihir, seorang pemantera, atau pun seorang yang bertanya kepada arwah atau kepada roh peramal atau yang meminta petunjuk kepada orang mati” (Ulangan 18:10-11). Ini semua adalah praktik yang umum di kalangan bangsa-bangsa di luar Israel.

Demi sebuah kepastian, orang minta bantuan dari sesama manusia yang dianggap punya kemampuan lebih. Karena sudah melampaui batasan ruang dan waktu, orang yang sudah mati dianggap punya pengetahuan yang lebih daripada yang masih hidup. Seperti segala macam praktik sihir lainnya, praktik memanggil arwah orang mati dengan tegas dilarang dalam iman Katolik.

Berdoa untuk Orang yang Sudah Meninggal

Yudas Makabe memimpin pemberontakan. Setelah mengalahkan Gorgias, pasukannya mengumpulkan jenazah serdadu yang tewas. Tiba-tiba ada hal yang sangat mengejutkan: “Astaga, pada tiap-tiap orang yang mati itu mereka temukan di bawah jubahnya sebuah jimat dari berhala-berhala kota Yamnia. Dan ini dilarang bagi orang-orang Yahudi oleh hukum Taurat. Maka, menjadi jelaslah bagi semua orang mengapa orang-orang itu gugur” (2 Makabe 12:40).

Segera mereka tergerak untuk memanjatkan doa agar dosa-dosa para serdadu yang gugur itu dihapuskan. “Kemudian dikumpulkannya uang di tengah-tengah pasukan. Lebih kurang dua ribu dirham perak dikirimkannya ke Yerusalem untuk mempersembahkan korban penghapus dosa. Ini sungguh suatu perbuatan yang sangat baik dan tepat, oleh karena Yudas memikirkan kebangkitan” (2 Makabe 12:43). Demikian pula, iman akan kebangkitan justru mengajak kita untuk terus berdoa bagi orang yang sudah meninggal, agar dosa-dosa mereka diampuni setelah mereka meninggal.

Ketika dituduh telah mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, Yesus menegaskan bahwa tuduhan itu adalah hujatan terhadap Roh Kudus, dan tak terampuni. Lebih jauh Yesus menegaskan: “Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak” (Matius 12:31-32). Dosa penghujatan terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni, bahkan di dunia yang akan datang setelah orang meninggal. Artinya, ada dosa-dosa lain yang bisa diampuni setelah meninggal. Pengampunan Tuhan tetap ada bagi manusia setelah meninggal.

Hingga hari ini, orang Katolik berdoa bagi arwah dan memohonkan ampun atas dosa-dosa mereka. Menganggap bahwa “yang sudah mati, ya sudah,” dan menolak untuk berdoa bagi arwah adalah justru tindakan yang sangat tidak alkitabiah.

Berdoa kepada Orang yang Sudah Meninggal

Salah satu bagian Kitab Wahyu berkisah demikian: “Lalu datanglah Anak Domba itu dan menerima gulungan kitab itu dari tangan Dia yang duduk di atas takhta itu. Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk dan kedua pulu empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus” (Wahyu 5:7-8).

Yang dimaksud dengan orang kudus adalah mereka yang telah meninggal dan karena semasa hidupnya menjalani hidup yang baik mereka telah dimurnikan dan dianggap layak masuk dalam kebahagiaan surga. Secara sempit, ini berarti orang-orang kudus  yang telah secara resmi dinyatakan oleh Gereja sebagai orang kudus. Secara luas, ini berarti orang-orang beriman yang juga hidup baik. Tanpa pernah dinyatakan secara resmi oleh Gereja, mereka ini juga adalah orang-orang kudus. Para “kudus” di surga itu punya peran untuk mempersembahkan doa-doa dari para “kudus” di bumi dalam arti doa para orang beriman.

Dalam bagian lain dikisahkan demikian: “Maka datanglah seorang malaikat lain, dan ia pergi berdiri dekat mezbah dengan sebuah pendupaan emas. Dan kepadanya diberikan banyak kemenyan untuk dipersembahkannya bersama-sama dengan doa semua orang kudus di atas mezbah emas di hadapan takhta itu” (Wahyu 8:3). Asap kemenyan yang naik ke atas melambangkan naiknya semua doa itu ke hadapan Allah.

Orang yang sudah meninggal memainkan peran penting untuk menyatukan doa-doa kita dan doa-doa mereka bagi kita, serta membawa semua doa itu kepada Tuhan. Orang-orang yang sudah meninggal itu menjadi saksi “bagaikan awan yang mengelilingi kita” (Ibrani 12:1). Kematian sama sekali tidak memutus hubungan antara kita dengan mereka. Bahkan lebih lagi, hubungan dengan mereka mendapat bentuk yang baru yang lebih dalam.

Kisah dalam hidup Yesus memperlihatkan hal serupa. Dalam peristiwa transfigurasi, ketika Yesus berubah rupa dan dimuliakan di atas gunung, Yesus terlihat berbincang-bincang dengan Musa dan Elia tentang perjalanan-Nya ke Yerusalem (Lukas 9:29-31). Musa dan Elia yang sudah lama wafat tetap punya perhatian dan punya kontak dengan Yesus yang masih hidup.

Mendoakan mereka yang sudah meninggal dan memohon penyertaan mereka bagi kita yang masih hidup adalah tindakan yang sangat alkitabiah. Mengatakan bahwa mereka yang sudah mati tidak lagi punya hubungan dengan kita berarti menyepelekan peran penting mereka dalam mempersembahkan doa-doa kita kepada Allah.

Kesimpulannya

  1. Kita TIDAK BOLEH memanggil arwah orang yang sudah meninggal.
  2. Kita PERLU berdoa untuk orang yang sudah meninggal.
  3. Kita PERLU berdoa kepada orang yang sudah meninggal.

About Tano Shirani

Tano Shirani adalah lulusan program teologi Santa Clara University, California, Amerika Serikat. Sudah sejak lama, ia memiliki mimpi untuk ikut melayani orang muda melalui tulisan-tulisan rohani. Tano telah menerbitkan buku Namaku Lazarus: Merangkul Bisikan Kerahiman (Kanisius, 2016) dan Pendosa Jadi Pendoa: Gejolak Pertobatan Tujuh Pemazmur (Kanisius, 2017). Di tengah kesibukan menulis, menerjemahkan, dan menyunting berbagai tulisan, Tano juga melatih penulis-penulis rohani dalam komunitas Domus Cordis. Ia gemar melahap buku, dan sungguh percaya akan the power of words untuk mengubah dunia dan perjalanan seluruh sejarah umat manusia.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top