AskINSPIRE: Pacar Minta Ciuman

Ada pertanyaan yang masuk ke INSPIRE:

Bagaimana pendapatnya jika ada seorang laki-laki yang merasa sakit hati ketika pasangannya yang perempuan tidak mengizinkan ciuman di antara mereka? Perempuan itu sudah berkomitmen untuk tidak melakukan ciuman sejak dulu, dan komitmen tersebut juga sudah dikomunikasikan kepada pihak laki-laki. Pada akhirnya, perempuan itu memenuhi permintaan itu untuk menghilangkan rasa sakit hati prianya. Apakah laki-laki itu benar-benar mencintai perempuan itu? Karena ia sudah membuat wanita itu melanggar komitmennya sendiri demi dirinya.

Hi! Thanks untuk pertanyaanmu. Ada beberapa hal yang perlu dipahami terkait pertanyaanmu.

Memahami laki-laki dan hasrat terdalamnya.

Laki-laki yang merasa sakit hati karena keinginannya tidak dituruti itu mungkin saja ia merasa “powerless”, atau tidak berdaya, karena apa yang ia mau, tidak diperoleh. Mungkin saja egonya tersentil. Hal ini disebabkan karena, secara alamiah, hasrat terdalam di dalam hati laki-laki adalah untuk merasa mampu, berdaya, dan bisa mencapai sesuatu. Oleh karena itu, di dalam setiap hati laki-laki, ada sebuah “pertempuran” yang ingin ia menangkan. Jadi, wajar saja, laki-laki tidak suka untuk merasa kalah, tidak mampu, dan tidak berdaya.

Panggilan Tuhan untuk laki-laki.

Tuhan memanggil laki-laki untuk bertempur pada sebuah pertempuran untuk memperjuangkan apa yang benar, baik, dan indah. Sayangnya, dalam kasus ini, laki-laki tersebut bertempur untuk pertempuran yang keliru. Apa yang ia perjuangkan adalah hal yang bertentangan dengan apa yang benar, baik, dan indah. Kalau melihat dari kasus ini, secara nyata, pelanggaran sebuah komitmen untuk mencapai hal yang baik adalah sebuah hal yang tidak baik. Mungkin saja di awalnya, pasangan ini menganggap, bahwa “tidak berciuman” merupakan salah satu cara yang mereka sepakati untuk membantu menjaga kemurnian hubungannya, untuk mencegah kejatuhan pada dosa seksual yang lebih serius.

Apa motivasi dan maksud di balik ciuman yang dilakukan?

Dalam hal ini, sebenarnya, bukan ciumannya yang salah, tetapi apa maksud yang ada di balik ciuman itu. Kalau ciumannya adalah kecupan sayang secara singkat dan bertujuan untuk memberikan kasih tanpa ada udang di balik bakmi, itu harusnya tidak apa-apa. Dan kita tahu, bahwa kasih itu tidak pernah memaksa, dan tidak pernah tergesa-gesa. Jadi, kalau itu adalah ciuman yang bermotifkan kasih, harusnya kalau nggak diijinkan karena menjaga komitmen, ya harusnya cowoknya “woles aje, cyn.” Namun, kalau ada reaksi marah, bisa saja motif ciumannya berbeda, dan kemungkinan besar bermotifkan pemuasan diri, alias lust.

Membedakan antara love (cinta) danĀ lust (nafsu).

Lust sendiri bukanlah love. Lust adalah bentuk pemuasan hasrat seksual dengan cara yang abusive. Istilah abusive mungkin berlebihan, tetapi maksud yang dapat saya katakan, abusive itu berarti menggunakan sesuatu untuk pemuasan diri, tanpa mempedulikan dampak kerugian yang ditimbulkan bagi diri sendiri / orang lain / lingkungan sekitar. Dan lust ini merupakah salah satu dari 7 dosa maut.

Jadi, panggilan sebagai laki-laki adalah untuk memenangkan pertempuran yang benar, baik, dan indah. Bukankah lebih mulia untuk “mati” dalam pertempuran yang “worth our life”? Dan salah satu hal yang benar, baik, dan indah, adalah pertempuran untuk menjaga martabat seorang perempuan, yang memang pada dasarnya memberikan gambaran akan keindahan Tuhan. Oleh karena itu, sebagai laki-laki sejati, kita perlu memilih pertempuran yang worth our life, bukan pertempuran yang konyol, karena nanti malah jadi mati konyol.

Dan sebagai perempuan, panggilannya salah satunya adalah untuk menyingkapkan keindahan Tuhan yang sempurna, dan “diselamatkan” oleh laki-laki yang memperjuangkan martabat diri perempuan itu. Oleh karena itu, jangan mudah menyerah (give in) untuk hal yang akan merusak martabat dan keindahanmu yang sempurna dari Tuhan. Bukankah kemurnian itu indah, dan merupakan hal yang baik dan benar dan layak untuk diperjuangkan, hingga suatu saat nanti dapat diberikan kepada dia yang layak menerima hidupmu yang kamu berikan kepadanya?

Bagaimana kalau sudah pernah kebablasan? Apakah saya menjadi sudah tidak murni? Rahmat Tuhan selalu cukup untuk mengampuni dosa, dan memulihkan nilai kemurnian kita, asalkan kita bertobat dan berkomitmen untuk menjaga kemurnian ke depannya, karena setiap orang kudus (alias santo dan santa) punya masa lalu, dan setiap orang berdosa juga punya masa depan.

Kalau kamu punya pertanyaan yang ingin kamu tanyakan ke INSPIRE,
silakan email ke info@letsinspire.co
#AskINSPIRE

About Violison Martheo

Violison adalah seorang ayah, suami, dan entrepreneur yang telah melayani orang muda dan Gereja sejak tahun 2000 di bidang musik, pewartaan, manajemen, dan pengembangan kepemimpinan. Ia pernah berkarya menjadi Ketua Seksi Kerasulan Kitab Suci di Paroki St. Bonaventura, Pulomas, dan juga dipercaya untuk mendampingi Bidang Pewartaan dan Wilayah dalam kapasitasnya sebagai anggota Dewan Paroki Harian Paroki Pulomas. Sebagai mantan porn-addict yang telah mengalami cinta dan pembebasan Tuhan, tanpa kenal lelah, ia memperjuangkan karya evangelisasi yang kreatif, kekinian, dan kontekstual kepada remaja, serta pengembangan pendampingan remaja dalam karyanya sebagai Ketua Life Teen Indonesia. Selain gemar bermain gitar dan bass, di waktu luangnya ia doyan kongkow sambil cari kangtaw.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top