AskINSPIRE: Takut Gagal Lagi

Ada curhatan yang masuk ke INSPIRE:

Hai, Kak, mungkin aku mau sedikit curhat dan meminta pendapat.

SBMPTN yang telah berlalu menyisakan luka dalam diriku, sama seperti cerita pada artikel yang kubaca tentang kegagalan. Aku sudah mencoba berbagai tes masuk ke perguruan tinggi kedinasan di dua instansi yang berbeda. Satu kali tes tertulis beasiswa di salah satu PTS Kristen, dan yang terakhir SBMPTN. Total empat kali aku mengikuti tes dan saya selalu gagal.

Pada saat saya mengikuti tes beasiswa full PTS tersebut, aku harus pergi ke tempat tes yang cukup jauh, tetapi aku tetap berdoa. Pada saat tes, aku memohon kepada Tuhan, apabila memang ini jalanku, aku akan berhasil, tetapi kalau aku gagal aku menginformasikan kepada ayahku. Aku percaya Tuhan pasti punya alasan atas kegagalan yang aku alami. Akupun mengikuti tes kembali di kedinasan, tetapi aku gagal untuk ketiga kalinya. Air mata itupun kembali berlinang.

Aku selalu berdoa novena, mengikuti doa Rosario di gereja, menjalani bimbel di luar kota, aku selalu berusaha pergi ke gereja dengan gigih, setiap Minggu aku selalu pergi ke sebuah wisata rohani Katolik. Di tempat ini berdoa memohon pada Tuhan.

Setelah SBM, aku pulang ke rumah membawa senyum harapan. Seminggu sebelum pegumuman rasanya aku pesimis dan berserah kepada Tuhan saja, dan tiba saat pengumuman. Ayahku yang membuka pengumuman, sementara aku berdiam di kamar menunggu mukjizat Tuhan. Dan benar, aku gagal untuk yang keempat kalinya.

Air mata pun sepertinya sudah bosan keluar dari mataku. Aku hanya diam menyendiri mengecek teman-teman yang berhasil. Ketika ditanyai oleh teman, aku merasa putus asa dan stres. Aku melihat temanku yang berhasil itu usahanya tak seberapa, pergi ke gereja juga jarang.

Aku mulai bertanya pada Tuhan, apakah usahaku kurang? Rosario yang dulu kupakai, kini kulepas dari leherku, karena aku merasa itu sia-sia belaka. Sekarang ujian-ujian mandiri bertebaran, tapi aku takut kegagalan itu terulang lagi dan menambah panjang daftar kegagalanku.

Apakah aku perlu tetap mencoba ujian, Kak? Bagaimana cara mengatasi ketakutan ini?

Mencoba dan Gagal

Terima kasih untuk curhatanmu. Saya bisa ikut merasakan kepedihanmu.

Di tengah ketakutanmu untuk gagal lagi, baiklah menimbang-nimbang hal ini:
Banyak orang yang sekarang sukses, dulunya juga pernah mengalami kegagalan bertubi-tubi. Tapi, mereka selalu yakin bahwa penyesalan karena “tidak mencoba” akan jauh lebih pedih daripada penyesalan karena “mencoba” dan gagal. Kalau tidak mencoba lagi, bagaimana mereka akan tahu apakah mereka berhasil atau gagal. Kegagalan setelah mencoba jauh lebih mudah diatasi daripada tidak tahu sama sekali apakah gagal atau berhasil karena tidak berani mencoba.

Maka, coba bayangkan saja, suatu hari kisah apa yang ingin kamu bagikan? Semoga kamu bisa lebih memilih rasa sakit karena mencoba lagi dan gagal lagi, mencoba lagi dan gagal lagi, daripada tidak mencoba lagi karena takut gagal lagi.

Ingat ini:

  1. Tiap orang punya rasa takut, terlebih lagi saat berhadapan dengan ketidakpastian dan kemungkinan gagal.
  2. Maka, jangan lari dari rasa takut itu, melainkan rasakanlah sungguh-sungguh rasa takut itu, dan lakukanlah hal yang menimbulkan rasa takut itu.
  3. Rasa tak berdaya dan takut gagal saat ini akan jauh lebih besar selama kamu tidak meneruskan langkahmu dan mencobanya lagi dan lagi.

Dalam doamu, mohonlah rahmat untuk berani memeluk rasa takutmu dan terus mencoba lagi dan lagi dan lagi. Jangan patah semangat, dan percayalah pada Tuhan. Tuhan tidak memberimu “ikan” saat ini, karena Tuhan sedang melatihmu membuat “pancing” untuk bisa memperoleh lebih banyak ikan lagi.

Semoga ini membantu. Kami menemanimu dalam doa.

About Tano Shirani

Tano Shirani adalah lulusan program teologi Santa Clara University, California, Amerika Serikat. Sudah sejak lama, ia memiliki mimpi untuk ikut melayani orang muda melalui tulisan-tulisan rohani. Tano telah menerbitkan buku Namaku Lazarus: Merangkul Bisikan Kerahiman (Kanisius, 2016) dan Pendosa Jadi Pendoa: Gejolak Pertobatan Tujuh Pemazmur (Kanisius, 2017). Di tengah kesibukan menulis, menerjemahkan, dan menyunting berbagai tulisan, Tano juga melatih penulis-penulis rohani dalam komunitas Domus Cordis. Ia gemar melahap buku, dan sungguh percaya akan the power of words untuk mengubah dunia dan perjalanan seluruh sejarah umat manusia.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top