Bagaimana Berlatih Mematahkan Belenggu Kenyamanan?

“Hidup adalah sebuah perjalanan.” Begitu kata pepatah. Setiap kali melakukan perjalanan, salah satu hal pertama yang harus kita putuskan adalah hal yang sangat praktis, yaitu menjawab pertanyaan, ‘Aku harus membawa apa?’ Tergantung dari tujuan, musim, lamanya perjalanan, serta kegiatan selama perjalanan, kita mulai memilih sebagian kecil saja dari seluruh milik kita. [Kalau kita membawa semua milik kita, itu berarti kita pindahan.]

Jujur saja, tiap kali melakukan perjalanan, kita “dipaksa” untuk membebaskan diri dari belenggu kenyamanan yang sangat melekat pada apa yang menjadi milik kita. Selama perjalanan, kita kembali disadarkan, bahwa meskipun tidak nyaman, kita tetap bisa bertahan hidup dengan sebagian kecil saja dari seluruh milik kita. Ini memperlihatkan dengan sangat jelas, bahwa semakin banyak yang kita miliki, semakin besar pula belenggu kenyamanan yang membatasi gerak kita.

Melepaskan Milik Kita

“Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya,” demikian kata Yesus dalam Matius 8:20. Penegasan itu disampaikan untuk menanggapi orang-orang yang berhasrat untuk mengikuti Yesus ke mana pun Ia pergi. Dengan kata lain, orang-orang itu ingin melakukan perjalanan bersama Yesus, dan jawaban Yesus yang menohok itu dimaksudkan untuk menyoroti secara tajam keterikatan banyak orang pada apa yang menjadi milik mereka.

Praktisnya, Yesus menantang mereka dan kita semua, “Kalau sungguh ingin ikut dalam perjalanan bersama-Ku, kamu harus melepaskan diri dari banyak hal yang kamu miliki.” Sama seperti kata pepatah tadi, kalau ingin melakukan perjalanan sebagai murid Yesus, kita harus membebaskan diri dari belenggu kenyamanan yang sangat ditentukan oleh banyaknya milik kita. Semakin banyak kita melepaskan apa yang menjadi milik kita, semakin berkuranglah daya cengkeram belenggu kenyamanan, dan semakin bebas pula kita melangkah dalam perjalanan sebagai murid Yesus.

“Dunia ini adalah perahumu dan bukan rumahmu.” (St. Theresia Lisieux)

Tentu kita tidak perlu langsung bertindak ekstrem, misalnya dengan langsung membagi-bagikan semua milik kita begitu saja. [Kalau memang kamu tergerak untuk melakukan itu, tolong beritahu saya ya]. Yang jauh lebih penting adalah membangun sikap hati dengan secara sadar melatih diri.

Latihan Sederhana untuk Melepaskan Diri dari Belenggu Kenyamanan

Ada dua yang saya usulkan di sini. Pertama, coba bereksperimen dengan “hidup dari koper” selama satu bulan. Bayangkan kamu melakukan perjalanan selama sebulan. Pilihlah pakaian, sepatu, dan apa pun yang ingin kamu bawa. Masukkan ke dalam koper. Lalu, dengan tetap di kamarmu, bertahanlah hanya dengan yang sudah kamu masukkan ke dalam kopermu.

Kedua, coba bereksperimen dengan “satu barang untuk tiap jenis saja.” Misalnya, di lacimu ada dua pemotong kuku. Pilih salah satu, dan simpan yang satunya lagi di kotak “pembuangan sementara.” Ada beberapa sepatu olahraga di kamarmu. Pilih sepasang saja, dan masukkan semua yang lain ke kotak “pembuangan sementara.” Demikian pelan-pelan kamu lakukan untuk semua milikmu yang jumlahnya lebih dari satu. Lakukan ini selama sebulan.

Selama sebulan itu buatlah catatan harian. Amati perasaan-perasaan yang muncul. Setelah sebulan, mungkin kamu akan melihat, bahwa ada sekian banyak dari antara milikmu yang sebenarnya bisa kamu lepaskan agar kamu perlahan-lahan semakin terlatih untuk siap membebaskan diri dari belenggu kenyamanan.

Ingat, “Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Bagi Yesus, “bantal” untuk kepala adalah simbol kemapanan dan kenyamanan. Apa saja dari antara milikmu yang harus kamu lepaskan agar kamu terbebas dari cengkeraman kenyamanan yang mengerdilkan kamu?

About Tano Shirani

Tano Shirani adalah lulusan program teologi Santa Clara University, California, Amerika Serikat. Sudah sejak lama, ia memiliki mimpi untuk ikut melayani orang muda melalui tulisan-tulisan rohani. Tano telah menerbitkan buku Namaku Lazarus: Merangkul Bisikan Kerahiman (Kanisius, 2016) dan Pendosa Jadi Pendoa: Gejolak Pertobatan Tujuh Pemazmur (Kanisius, 2017). Di tengah kesibukan menulis, menerjemahkan, dan menyunting berbagai tulisan, Tano juga melatih penulis-penulis rohani dalam komunitas Domus Cordis. Ia gemar melahap buku, dan sungguh percaya akan the power of words untuk mengubah dunia dan perjalanan seluruh sejarah umat manusia.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top