Bagaimana Menunggu Secara Aktif?

Tidak pernah ada orang yang melatih saya dalam hal menunggu. Reaksi spontan yang muncul ketika saya harus menunggu bisa bermacam-macam. Namun demikian, semua reaksi itu punya satu ciri sama, “Saya tidak suka menunggu, karena saya seharusnya ada di titik tertentu di depan sana.” Dengan kata lain, saya terus menempatkan energi dan perhatian saya pada apa yang seharusnya ada atau terjadi, tetapi pada kenyataannya belum ada atau belum terjadi.

Sebagai orang yang punya kecenderungan perfeksionis dan obsesif kompulsif yang cukupan, menunggu memberi siksaan tersendiri. Ini semakin gawat jika saya harus menunggu karena pihak lain tidak bertindak “profesional.” Kasir itu lelet bener!┬áResepsionis ini gajebo! Mobil di depan ababil!

Hingga saya tersadarkan.

Saya mulai belajar memeluk tiap keping waktu “sekarang” dengan penuh kesadaran. Saya melatih pikiran untuk tidak terperangkap dalam angan-angan masa depan, bahkan kalau pun masa depan itu berarti sekian menit ke depan dalam sebuah antrian di depan loket. Saya menghayati hidup “sekarang” dengan penuh kesadaran, tanpa membiarkan energi saya terserap habis oleh apa yang seharusnya ada atau terjadi, tetapi pada kenyataannya belum ada atau belum terjadi.

Di tengah kegalauan itu, Tuhan menuntun mata saya pada sebuah buku: Holly W. Whitcomb, Seven Spiritual Gifts of Waiting (Minneapolis, MN: Augsburg Books, 2005). Buku itu merangkum pergulatan saya dalam menunggu. Dari sana saya menemukan semangat baru. Menunggu adalah kesempatan indah bagi saya untuk menerima anugerah istimewa Tuhan dalam bentuk:

  1. kesabaran;
  2. pembebasan dari obsesi untuk mengendalikan segalanya;
  3. kemampuan untuk menghayati pentingnya “sekarang”;
  4. kepekaan untuk berbela-rasa;
  5. rasa terima kasih;
  6. kerendahan hati; dan
  7. kepercayaan penuh penyerahan diri kepada Tuhan.

Semula saya mudah beranggapan bahwa Tuhan sering terlalu lamban dalam bertindak. Kini saya sadar, betapa kacaunya hidup saya dan seluruh dunia ini, jika Tuhan bertindak cepat mengikuti keinginan saya. Merelakan hasrat untuk bisa segera tahu hasilnya adalah sebuah pembebasan yang melegakan. Tiap detik menjadi berarti dan saya syukuri. Ini juga melatih saya untuk tidak mudah menilai orang dan tidak membanding-bandingkan. Hati saya mengalami perluasan untuk juga punya ruang bagi pergulatan batin orang-orang di sekitar saya.

Bagaimana menunggu secara aktif?

Seberapa sering kamu tertinggal angkot karena kamu sedang asik dengan HP-mu waktu menunggu? Jujur saja, saya pernah satu kali. Itu contoh jelas, bahwa menunggu secara aktif bukan berarti menciptakan distraksi atau pengalihan dari keterlibatan penuh pada “sekarang.” Dalam hidup ini, pasti kamu juga dibentuk oleh Tuhan sendiri yang mengasah kemahiranmu dalam menunggu secara aktif.

Entah menunggu sesuatu atau seseorang, entah menunggu jawaban atau campur tangan Tuhan, ini usulan praktis dari saya:

  1. Stop berangan-angan tentang apa yang seharusnya ada atau terjadi, sebaik apa pun itu. Ini akan membuatmu semakin kecewa;
  2. Pusatkan perhatian dan energimu pada “sekarang.” Inilah hidupmu yang nyata. Satu detik yang lalu sudah bukan lagi hidupmu yang nyata, dan satu detik sesudah ini belum menjadi hidupmu yang nyata;
  3. Ubah pertanyaanmu dari “Apa yang seharusnya kuperbuat?” menjadi “Apa yang sungguh-sungguh ingin kuperbuat saat ini karena aku menjadi diriku yang sejati, bukan untuk membuat orang lain senang atau asal cepat?”

Jangan menunggu sendirian. Ini berat. Kau tidak akan kuat. Tunggulah bersama Yesus!

About Tano Shirani

Tano Shirani adalah lulusan program teologi Santa Clara University, California, Amerika Serikat. Sudah sejak lama, ia memiliki mimpi untuk ikut melayani orang muda melalui tulisan-tulisan rohani. Tano telah menerbitkan buku Namaku Lazarus: Merangkul Bisikan Kerahiman (Kanisius, 2016) dan Pendosa Jadi Pendoa: Gejolak Pertobatan Tujuh Pemazmur (Kanisius, 2017). Di tengah kesibukan menulis, menerjemahkan, dan menyunting berbagai tulisan, Tano juga melatih penulis-penulis rohani dalam komunitas Domus Cordis. Ia gemar melahap buku, dan sungguh percaya akan the power of words untuk mengubah dunia dan perjalanan seluruh sejarah umat manusia.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top