Beneran open-minded, atau takut ambil risiko?

Almarhum Uskup Fulton J. Sheen pernah menulis sesuatu soal pikiran yang open-minded:

Those who boast of their open-mindedness are invariably those who love to search for truth but not to find it; they love the chase but not the capture; they admire the footprints of truth, but not catching up with it. They go through life talking about ‘widening the horizons of truth’ but without ever seeing the sun.

Diterjemahkan secara bebas, artinya begini: Mereka yang membanggakan keterbukaan pikirannya adalah mereka yang suka mencari kebenaran tetapi bukan untuk menemukannya; mereka menyukai proses ‘mengejar’ tetapi bukan untuk ‘menangkap’; mereka kagum dengan jejak kaki kebenaran, tetapi tidak menyusulnya. Mereka menjalani hidup sibuk berbicara tentang ‘memperluas cakrawala kebenaran’ tanpa pernah melihat matahari.

Kalau mau jujur, banyak dari kita seperti itu. Sibuk dengan “pencarian,” tapi begitu kebenaran yang dicari itu udah di depan mata, kita pura-pura nggak liat. Kita mau tetep “berpikiran terbuka,” mau selalu “open-minded,” padahal itu cuma topeng, karena kita nggak siap sama apa yang udah kita temukan. Parahnya lagi, kita malah bangga karena kita pilih sikap untuk “selalu terbuka” pada hal-hal baru.

Mau terbuka, malah jadi tertutup.

Waspadalah. Pikiran yang mau ‘selalu’ terbuka bisa menutup pikiran kita! Kita nggak mau “kebenaran” itu mengubah kita, karena rasanya sakit dan nggak enak bener. So, kita pura-pura asik terus mencari. Kita sibuk dengan penelitian tentang agama dan tentang Tuhan, kita buka buku-buku besar di atas meja, tapi kita nggak pernah mau denger bahwa Tuhan jauh lebih besar dari kata-kata yang tercetak di atas kertas. Kita nggak mau loncat dari meja nyaman kita, dan terjun ke jalan, melangkah bersama Tuhan yang udah sibuk bekerja di tengah umat-Nya, nggak peduli golongannya apa.

Herodes dan tim ahlinya itu tipe orang yang nyaman di meja (lih. Mat 2:1-12). Terus-terusan cari kebenaran, terus-terusan mau open-minded. Kita mungkin juga seperti itu. Doa nggak abis-abis, minta input nggak pernah berhenti, terus-terusan tanya sana-sini, tapi begitu udah ada jelas di depan mata, kita pura-pura nggak liat. Kita tanya lagi ke orang yang lebih “pinter.”

Penyataan diri Tuhan — Epifani — nggak bisa dikotakkin rapi di atas meja. Seperti tiga orang majus dari Timur itu. Mereka tau banyak, baca banyak, lama ngotak-ngatik teks-teks suci di atas meja, tapi mereka sadar kalau udah saatnya meninggalkan meja dan loncat ke jalan. Melangkah dalam gelap, cuma ada bintang penuntun. Terus melangkah. Dalam perjalanan itu, Tuhan terus menampakkan diri. Epifani terjadi kalo pikiran kita nggak lagi terkurung pada teori di atas meja, tapi membawa kita pada pribadi Tuhan yang nyata.

Kenapa sih banyak dari kita lebih asik di atas meja, comot sana-sini cuilan-cuilan kebenaran dari buku suci, tapi nggak mau turun ke jalan? Alasannya cuma satu: TAKUT! Karena takut berjalan bersama seorang pribadi, kita mengontrol teks yang mati. Daripada ambil risiko berjalan, lebih aman di meja. Daripada nyasar dan diketawain, lebih baik nggak usah ke mana-mana. Daripada memeluk kebenaran dalam bentuk seorang pribadi, lebih baik terus aja cari kebenaran-kebenaran, karena lebih mendebarkan, dan berasa lebih heroik. Kita takut melangkah, tapi kita terus mencari karena itu membuat kita merasa jadi pahlawan dalam pertempuran ciptaan kita sendiri.

Kapan mau loncat dari meja ke jalan?

 Epifani terjadi setiap saat. Tutup bukumu. Tinggalkan mejamu. Buka matamu. Ayunkan langkahmu. Di sana, di luar sana, Tuhan menyatakan diri-Nya dengan sekian banyak cara. Tenangkan hatimu. Listen! Kamu akan terkejut, bahwa yang kamu cari selama ini sudah ada di depan mata. Ingat, pikiran yang ‘selalu’ mau terbuka bisa membuntukan pikiranmu!

Selamat merayakan Pesta Penampakan Tuhan!

About Tano Shirani

Tano Shirani adalah lulusan program teologi Santa Clara University, California, Amerika Serikat. Sudah sejak lama, ia memiliki mimpi untuk ikut melayani orang muda melalui tulisan-tulisan rohani. Tano telah menerbitkan buku Namaku Lazarus: Merangkul Bisikan Kerahiman (Kanisius, 2016) dan Pendosa Jadi Pendoa: Gejolak Pertobatan Tujuh Pemazmur (Kanisius, 2017). Di tengah kesibukan menulis, menerjemahkan, dan menyunting berbagai tulisan, Tano juga melatih penulis-penulis rohani dalam komunitas Domus Cordis. Ia gemar melahap buku, dan sungguh percaya akan the power of words untuk mengubah dunia dan perjalanan seluruh sejarah umat manusia.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top