Berani Mengakui Dosamu

Saya berusaha untuk mengaku dosa rutin, meski saya ga tau apakah sudah cukup sering atau belum. Yang jelas, saya bisa bilang, ngaku dosa rutin itu banyak manfaatnya. Bukan, bukan melulu berhubungan dengan perasaan lega atau hepi sesudahnya. Ya, ada sih, beberapa kali sesi pengakuan yang menghasilkan kelegaan yang terasa banget. Tapi percaya deh, mostly ga ada rasa apa-apa. Yang gak-ada-rasanya ini bisa jadi latihan buat kita, supaya iman jadi dewasa, iman yang ga melulu bergantung pada emosi atau perasaan sesaat.

Trus, apa dong manfaatnya?

Manfaat utama dari mengaku dosa rutin adalah, kita belajar menilik hidup kita dari perspektif Allah. Proses ini sudah dimulai sejak sesi pemeriksaan batin sebelum mengaku dosa. Kita belajar untuk mencintai apa yang Allah cintai, dan membenci apa yang Ia benci. Love transforms the lover into the beloved. Cinta kasih Allah kepada kita sudah pernah membuat-Nya menjadi manusia, dan kini giliran kita membiarkan cinta membuat kita “menjadi” Allah, dalam arti kita berpikir, bertindak, dan memandang segalanya dengan cara Allah. Nantinya ini bakal kelihatan dari hidup kita sehari-hari lho! Kita akan punya kemampuan menilai yang lebih tajam, lebih bijak, lebih sensitif; kemampuan mengasihi dengan lebih sungguh-sungguh; dan kekuatan yang lebih besar untuk melawan godaan. Selain itu, andaikan kita ini tempayan kotor, maka pengakuan dosa adalah membersihkan tempayan itu supaya bisa menampung lebih banyak air (rahmat Allah) untuk diri sendiri dan untuk dibagikan kepada orang lain. Indah banget kan?

Saya punya setidaknya dua pengalaman menohok di bilik pengakuan.

Pertama, adalah saat ngaku dosa pertama kali pas baru tobat dulu. Saya selalu Katolik, tetapi dulu hidup semaunya dan enggak musingin hal-hal rohani. Nah, pas ngaku dosa lagi setelah 6+ tahun absen, romonya bilang begini: “Kamu ini putri raja, anaknya Tuhan. Kamu harus berperilaku seperti seorang putri.” (jleb #1)

Pengalaman kedua baru terjadi minggu lalu. Nasihat yang saya dapat begini: “Kalau kita tidak menyediakan waktu rutin untuk berdoa setiap hari, maka hal mengikuti Tuhan itu hanya teori saja.” (jleb #2)

Itu dua macam jleb asik yang saya dapat gara-gara pengakuan dosa.

Tuhan Yesus selalu siap berbicara secara pribadi kepada saya dan dalam kerahiman-Nya Ia siap mengampuni saya. Mosok saya gak mau “rakus” memanfaatkan kehadiran-Nya itu? Mumpung Dia belum datang kembali sebagai Hakim yang Adil kan.. 😉

Sharing tamu dari Anna Elissa, O.P. (27 tahun)
Dominikan Awam
Penulis buku “Mantilla: Kerudung Mempelai Kristus”





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top