Bolehkah Mempertanyakan Iman?

Salah satu dari kesulitan umum yang saya hadapi saat berurusan dengan sesama teman Katolik adalah bahwa mereka sering merasa bersalah karena meragukan imannya sendiri. Ketika saya mulai mengajukan berbagai pertanyaan mengenai masalah tersebut, saya menemukan bahwa seringkali mereka bukannya meragukan imannya. Mereka hanya mengajukan pertanyaan yang jujur. Mereka mengalami kesulitan, bukan keraguan.

Kesulitan VS Keraguan

Kesulitan dalam iman terjadi ketika seseorang benar-benar mencari jawaban – entah untuk menjawab pertanyaan doktrin atau pun pengajaran moral. Kesulitan tersebut berbeda dengan keraguan. Keraguan adalah ketika seseorang berkata dengan sinis, “Itu nggak mungkin benar!” sedangkan kesulitan adalah ketika seseorang merenung dan kemudian berkata, “Bagaimana hal tersebut bisa terjadi?” Pernyataan pertama menggambarkan penolakan iman. Sedangkan yang kedua adalah sebuah pertanyaan yang muncul sebagai hasil penjelajahan iman. Yang pertama merupakan dosa. Sedangkan yang kedua, bukanlah dosa.

Selain bukan merupakan dosa, mempertanyakan iman dalam cara yang tepat malah dianjurkan. Orang Katolik tidak seharusnya menjadi umat yang taat beragama secara membabi buta tanpa memikirkannya. Kita tidak diharapkan menjadi robot-robot religius, tetapi anggota keluarga yang terlibat dan aktif. Jujur saja, hal-hal yang perlu kita percayai dan cara-cara yang perlu kita jalani dalam bertingkah laku tidaklah mudah. Maka, saya tidak punya masalah dengan orang-orang Katolik yang memiliki kesulitan dalam beriman. Saya punya masalah dengan mereka yang tidak memiliki kesulitan.

Kamu Serius Dengan Imanmu?

Orang Katolik yang tidak pernah mengalami kesulitan dalam imannya kemungkinan besar belum menanggapi imannya dengan serius. Jika kita benar-benar terlibat dalam iman kita, maka seharusnya ada banyak waktu ketika kita jadi garuk-garuk kepala dan bertanya, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi?” alias “Kok bisa begitu?” Kita harus ingat bahwa di dalam Injil, Bunda Maria pun mengajukan pertanyaan sejenis pada malaikat Gabriel. Ketika malaikat memberitahukan bahwa dia akan melahirkan seorang anak, Bunda Maria menanggapi, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi?” Ketika kita dihadapkan dengan tuntutan yang ajaib, sebuah dogma yang sulit dipahami atau ajaran moral yang terkesan mustahil atau tidak adil, kita berhak untuk berkata, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi?”

Hanya ketika kita bertanya, barulah kita bisa menemukan jawabannya. Memang sebaiknya kita menjadi orang Katolik yang memiliki rasa ingin tahu, penasaran, atau kalau dalam bahasa gaulnya, “kepo”. Dengan tetap waspada dan penasaran, kita perlu mempertimbangkan setiap aspek dari iman kita diiringi dengan doa – selalulah berusaha mencari tahu dan memahaminya lebih lagi. Kita perlu menanyakan pertanyaan yang tepat, dan untuk melakukan hal itu, kita perlu melibatkan tubuh, akal budi, serta roh kita.

Libatkan Akal Budi, Roh, dan Tubuh Kita Dalam Iman

Mudah dipahami kalau kita perlu melibatkan akal budi kita demi mendapatkan pengertian yang lebih baik. Kita perlu membaca Kitab Suci setiap hari. Ada media-media yang mempublikasikan bacaan-bacaan dari doa ofisi (brevir) dan Misa harian. Kita juga perlu memiliki dan membaca buku-buku Katolik yang bagus setiap saat.

Beberapa penerbit Katolik yang solid memproduksi berbagai buku sebagai sumber yang bermutu, baik dalam jenis fiksi maupun nonfiksi. Di masa modern ini, kita juga memiliki berbagai sumber lain yang tersedia, seperti buku elektronik (e-book), website, siaran radio, podcast, YouTube channel, dan masih banyak lagi. Di masa sekarang ini, konten-konten yang demikian tersedia dan sangat mudah ditemukan. Maka, jadilah orang Katolik yang penasaran dan libatkan akal budimu dimulai dari awal tahun ini.

Kita juga perlu melibatkan hati kita di dalam pencarian akan pengalaman iman yang lebih dalam. Berarti kita perlu memperbaharui komitmen akan doa, penyembahan, dan adorasi. Melalui doalah, materi yang kita pelajari melalui akal budi melakukan perjalanan panjang dari kepala menuju hati. Di seminari, para imam diajarkan untuk “mendoakan teologi mereka”. Dengan kata lain, hati perlu lebih terbuka seiring dengan keterlibatan akal budi. Dengan cara ini, kebenaran serta nilai-nilai yang kita pahami dengan akal budi, dapat tertanam di dalam hati, lalu berbuah menjadi tindakan. Pepatah tua dari Rusia mengatakan bahwa “hati menggerakkan kaki.” Kita paling termotivasi untuk bertindak bukan hanya berkat pemikiran saja, melainkan melalui kombinasi perasaan dan pikiran.

Terakhir, kita perlu melibatkan tubuh kita. Iman tanpa perbuatan adalah mati, tapi ketika iman menjadi tindakan, maka iman menjadi nyata. Melibatkan tubuh dalam karya iman meliputi beberapa hal. Pertama, kita perlu mendisiplinkan keinginan tubuh. Makan dan minum yang terlalu banyak, kurang berolahraga, pengunaan obat-obatan terlarang dan rokok, serta kurangnya waktu untuk beristirahat dan bersantai dapat mempengaruhi bukan hanya kesehatan fisik, melainkan juga kesehatan spiritual kita. Jalan spiritual telah selalu mengikutsertakan disiplin diri secara fisik. Kedua, untuk menjadi “orang Katolik yang penasaran” adalah dengan melatih diri kita untuk keluar dan berhubungan dengan sesama – membantu, melayani, merangkul, dan membantu mereka yang membutuhkan. Sebagaimana kita terlibat dengan orang lain secara fisik, mental, dan spiritual, kita semua semakin bertumbuh lebih dekat dengan satu sama lain dan dengan Tuhan, dan dengan demikian menguatkan dan mengukuhkan iman kita.

Orang Katolik yang penasaran nggak akan mudah berpuas diri, malas, atau melakukan segala sesuatu hanya karena rutinitas belaka. Sebaliknya, ia menjadi waspada dan lebih hidup – selalu terlibat dalam tubuh, akal budi, dan rohnya untuk memahami segala sesuatu, dan semakin dekat pada kepenuhan hidup, seperti yang dijanjikan Kristus di dalam Injil.

Diterjemahkan secara bebas, dengan sedikit perubahan, dari tulisan Pater Dwight Longenecker:
Aleteia English. On Being a Curious Catholic.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top