Cinta Kasih Bukan Berarti Diam Saja

Setelah Roh Kudus turun, para murid menjadi berani. Petrus bangkit, bersuara lantang, berkhotbah. Menjelang akhir khotbahnya, ia berujar: “Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus” (Kis. 2:36). Ini adalah sebuah kritik pedas. Petrus tak segan-segan menegur, bahwa banyak orang sebangsanya telah bersikap sungguh amat bodoh!

Reaksi dari pendengar sungguh luar biasa. Kritik pedas yang tanpa basa-basi itu menukik tajam masuk ke hati mereka. Sebagai rangkuman, Petrus dengan tegas mengingatkan mereka: “Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini” (Kis. 2:40). Demikianlah, mereka yang mendengarkan Petrus itu memberi diri untuk dibaptis, sehingga “pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa” (Kis. 2:41).

Keberanian tak lagi terbendung. Di depan pintu gerbang indah Bait Allah, Petrus dan Yohanes berkata kepada orang lumpuh, “Demi Nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!” (Kis. 3:6). Terjadilah demikian, dan Petrus memikat banyak orang dengan khotbahnya. Sekali lagi, tanpa basa-basi, Petrus berkata: “Tetapi kamu telah menolak Yang Kudus dan Benar, serta menghendaki seorang pembunuh sebagai hadiahmu” (Kis. 3:14).

Petrus masih berkhotbah, ketika tiba-tiba ia digerebek imam-imam, kepala pengawal Bait Allah dan orang Saduki. Petrus dan Yohanes langsung dipenjara. Dalam interogasi, keberanian mereka tidak surut. Mereka bahkan berani menantang: “Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah” (Kis. 4:19). Akhirnya, mereka dibebaskan.

Jemaat langsung berkumpul untuk berdoa. Tak ada basa-basi dalam doa mereka: “Dan sekarang, ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami dan berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian untuk memberitakan firman-Mu. Ulurkanlah tangan-Mu untuk menyembuhkan orang, dan adakanlah tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat oleh nama Yesus, Hamba-Mu yang kudus” (Kis. 4:29-30). Saat mereka berdoa, bergoncanglah tempat itu. Penuhlah mereka kembali dengan Roh Kudus. Terjadilah Pentakosta kedua!

Bersuara Atas Nama Kasih

Aku merasa ditampar kembali. Para murid pasti digerakkan oleh pesan-pesan kasih yang ditanamkan oleh Yesus. Mereka pasti disemangati untuk berkorban demi cinta kasih agar orang bisa diselamatkan. Namun demikian, mereka adalah orang yang tetap berani berkata terus terang, memberi kritik pedas, menegur tanpa harus berkata santun. Justru dengan itulah mereka semakin dihormati, dan hari demi hari jumlah mereka terus bertambah.

Muncul kegelisahan dalam batinku. Sungguhkah kita yang merasa sebagai penerus generasi pertama Kekristenan itu senang menipu diri? Berhadapan dengan kesalahan yang harus ditegur, kita memilih membungkusnya dengan sikap manis, sehingga kritik kita tidak didengar. Atas nama cinta kasih, kita memilih untuk diam, sehingga sekarang banyak orang gila menguasai dunia. Cinta kasih menjadi tameng aman yang melindungi rasa pengecut kita. Roh Kudus kita batasi geraknya hanya dalam kebaktian, dalam bentuk rasa manis rohani belaka, tetapi tak pernah kita minta agar memberanikan kita untuk membongkar kepalsuan dan kejahatan di sekitar kita.

Dunia menanti dari kita sebuah bukti Pentakosta yang nyata. Jangan gunakan cinta kasih untuk membenarkan ketakutan kita. Berbicaralah. Keras. Tegas. Pedas. Ikutlah bergerak. Bergabunglah dengan partai yang benar. Berbarislah melawan ketakutan. Berserulah dalam kesatuan dengan berbagai koalisi rakyat.

Buktikanlah, bahwa Roh Kudus itu nyata! Perlihatkanlah sebuah Pentakosta yang sungguh membakar hati kita dan menghanguskan kejahatan!

About Tano Shirani

Tano Shirani adalah lulusan program teologi Santa Clara University, California, Amerika Serikat. Sudah sejak lama, ia memiliki mimpi untuk ikut melayani orang muda melalui tulisan-tulisan rohani. Tano telah menerbitkan buku Namaku Lazarus: Merangkul Bisikan Kerahiman (Kanisius, 2016) dan Pendosa Jadi Pendoa: Gejolak Pertobatan Tujuh Pemazmur (Kanisius, 2017). Di tengah kesibukan menulis, menerjemahkan, dan menyunting berbagai tulisan, Tano juga melatih penulis-penulis rohani dalam komunitas Domus Cordis. Ia gemar melahap buku, dan sungguh percaya akan the power of words untuk mengubah dunia dan perjalanan seluruh sejarah umat manusia.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top