Di Manakah Kebenaran? Mencari Daniel di Negeri Bhinneka Tunggal Ika

Kisah Susana

Susana adalah perempuan muda yang “amat sangat cantik dan takut akan Tuhan” (Daniel 13:2). Yoyakim adalah orang yang amat dihormati. Ialah lelaki beruntung yang bisa memperisteri Susana.

Di luar sana ada dua orang yang sudah tidak lagi muda, yang dianggap bijak, cukup kenyang makan asam garam kehidupan, dan dipercaya untuk menjadi hakim bagi seluruh bangsa. Tragisnya, tentang dua orang itu Tuhan telah memberi peringatan, bahwa sudah datanglah kefasikan “dari kaum tua-tua, dari para hakim yang berlagak pengemudi rakyat” (Daniel 13:5).

Keduanya tergiur oleh kemolekan Susana. Dengan akses mudah sebagai penentu keadilan di negeri itu, mereka bisa datang setiap saat ke rumah Yoyakim. Tujuan sebenarnya hanya satu: memuaskan nafsu memandang kecantikan Susana, seraya bermimpi kapan bisa menidurinya. Keduanya saling mengakui adanya nafsu bejat. Rencana jitu disusun. Kebusukan bisa dipoles suci tanpa pernah terbongkar.

Susanna and the Elders, Rembrandt (1647)

Demikianlah, keduanya mengendap ke dalam taman. Susana sedang mandi. Pengawal tak ada di situ. Tanpa sungkan, berkatalah kedua orang tua itu kepada Susana: “… Kami sangat cinta berahi kepadamu. Berikanlah hati saja dan tidurlah bersama-sama dengan kami” (Daniel 13:20). Susana menolak tunduk pada ancaman. Ia berteriak. Ia selamat.

Namun demikian, tibalah saatnya melaksanakan rencana B. Karena tak berhasil memuaskan ambisi berahi, mereka memberi kesaksian palsu agar Susana dihukum mati. Mereka berkata bahwa mereka telah memergoki Susana sedang berasyik masyuk dengan seorang pemuda yang sayangnya telah berhasil melarikan diri.

Vonis hampir dijatuhkan. Untunglah ada Daniel. Dengan lihai, ia menanyai keduanya secara terpisah, “Di bawah pohon apa mereka terpergok sedang bermesraan?” Yang satu menjawab mantap, “Di bawah pohon mesui.” Yang lain lebih yakin lagi menjawab, “Di bawah pohon berangan.” Dengan itu, terbongkarlah kebusukan kedua orang tua yang memoles nafsu dengan kesalehan beragama. “Sesuai dengan Taurat Musa, kedua orang itu dibunuh. Demikian pada hari itu diselamatkan darah yang tak bersalah” (Daniel 13:62).

Kisah Indonesia

Aku tersentak dibawa kembali ke negeriku sendiri. Hatiku tercabik-cabik. Betapa banyak orang telah menjadi lihai memoles nafsu dengan pita emas kesalehan beragama. Betapa mudah kesaksian palsu dipercaya, sejauh itu dihidangkan secara lezat di piring emas agama. Betapa banyak orang seperti Susana dikorbankan. Betapa sungguh kefasikan datang dari orang-orang yang seharusnya membela kebenaran.

The Judgement of Daniel, Valentin de Boulogne (1591–1632)

Kalbuku basah oleh tetes-tetes air mata. Di manakah engkau, Daniel? Mengapa engkau bisa tiba-tiba muncul di saat Susana hampir saja dijadikan korban nafsu berbungkus agama itu, tetapi engkau tidak kunjung muncul di negeriku?

Aku tahu, di sudut-sudut tersembunyi, ada banyak orang yang dipanggil untuk menjadi Daniel bagi negeriku yang semakin tersayat oleh kepalsuan berbungkus keilahian. Namun, aku juga tahu, di negeri ini, wacana indah tentang Yang Ilahi masih dianggap lebih penting daripada pengalaman tulus perjumpaan dengan Yang Ilahi yang melembutkan hati manusia.

Tuhan, mengapa Engkau diam saja? Tuhan, mengapa Engkau membiarkan orang secara paksa menyetubuhi kebenaran? Tuhan, kapankah ada Daniel bagi bangsa kami? Tuhan, temanilah para Susana negeri kami. Tuhan, bongkarlah segera kebusukan nafsu berpoles madah pujian bagi-Mu.

Hai, para Susana negeri ini, ketahuilah, aku terus mengagumi kalian. Babak baru perjuangan telah dimulai. Kita terus melangkah bersama. Terima kasih atas pesan keberanian memeluk kebenaran yang terus diperlihatkan tanpa lelah.

About Tano Shirani

Tano Shirani adalah lulusan program teologi Santa Clara University, California, Amerika Serikat. Sudah sejak lama, ia memiliki mimpi untuk ikut melayani orang muda melalui tulisan-tulisan rohani. Tano telah menerbitkan buku Namaku Lazarus: Merangkul Bisikan Kerahiman (Kanisius, 2016) dan Pendosa Jadi Pendoa: Gejolak Pertobatan Tujuh Pemazmur (Kanisius, 2017). Di tengah kesibukan menulis, menerjemahkan, dan menyunting berbagai tulisan, Tano juga melatih penulis-penulis rohani dalam komunitas Domus Cordis. Ia gemar melahap buku, dan sungguh percaya akan the power of words untuk mengubah dunia dan perjalanan seluruh sejarah umat manusia.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top