Dosa: Melakukan Kejahatan atau Tidak Melakukan Kebaikan?

PADA AWALNYA

Tanah diambil. Dibentuklah tubuh. Dihembusi nafas. Jadilah ia hidup. Dari adamah (“tanah”) dibentuklah adam (“manusia”). Karena nafas ilahi, manusia menjadi hidup. Manusia itu dibuat tidur lelap. Simbol keadaan pasif. Tidak terlibat dalam apa yang sedang terjadi. Satu tulang rusuk diambil. Dibangunlah sebuah tubuh. Terjaga dari tidur, manusia pertama mengenali, “Ini dia. Tulang dari tulangku. Daging dari dagingku,” (Kej 2:23). Artinya, “Ini dia, tubuh yang dibentuk dari tubuhku yang telah dihidupkan oleh hembusan nafas ilahi.”

Keduanya telanjang. Tak ada rasa malu. Keduanya sepenuhnya terserap dalam ketakjuban akan seluruh ciptaan. Hanya sikap hati menerima. Tak ada hasrat untuk mengambil. Hanya sikap hati terbuka. Tak ada gejolak untuk merampas. Hanya sikap hati berserah pada cinta. Tak ada dambaan untuk menggunakan yang lain demi diri sendiri. Sepenuhnya dipuaskan oleh cinta Sang Pencipta.

JATUH DALAM DOSA

Tiba-tiba ada suara. Ular licik menipu. “Kamu pasti ingin jadi seperti Allah. Iya kan?” Perempuan itu lupa. Ia diciptakan dari tubuh yang sudah dipenuhi hidup ilahi. Ia sudah penuh daya ilahi. Ia sudah menjadi seperti Allah. Tidak ada lagi yang perlu ditambahkan. Tapi, apa daya. Buah terlarang sungguh menggiurkan. Muncul gejolak. Cukup sudah. Saatnya mengambil apa yang memang memikat mata, menawan hati, mencengkeram fantasi.

Itulah DOSA. Mengambil apa yang tidak diberikan oleh Allah.

Manusia pertama ada bersama perempuan itu. Ialah yang menerima kuasa untuk menamai tiap jenis binatang. Yang bertubuh panjang meliuk-liuk itu dikenal sebagai “ular,” karena manusia pertama itulah yang menamainya “ular.” Manusia itulah yang memberinya identitas sebagai “ular.” Ia masih punya kuasa. Kalau ia mau, ia bisa mengubah nama binatang itu. Tragisnya, ia lupa akan semua itu. Ia hanya diam.

Itulah DOSA. Memilih diam saat harus memperjuangkan kebenaran.

Kedua manusia itu, laki-laki dan perempuan itu, sama-sama berdosa dengan cara mereka sendiri. Hawa berdosa dengan MENGAMBIL. Adam berdosa dengan BERSIKAP DIAM. Ada dosa “perbuatan” (commission), ada dosa “kelalaian” (omission). Hawa “melakukan” kejahatan. Adam “tidak melakukan” kebaikan. Itulah dua sisi dosa pertama. Itulah yang kita sadari kembali di awal Ekaristi: “Saya mengaku . . . , saya telah berdosa, . . . dengan perbuatan dan kelalaian . . .

SETELAH DOSA

Kemampuan “melihat” langsung tercemar. Kini mata manusia memandang manusia lain dengan gejolak hasrat untuk “mengambil” demi kepuasan diri. Lahirlah rasa malu. Tubuh telanjang harus ditutupi. Rantai dosa dalam bentuk “perbuatan” dan “kelalaian” juga kita lanjutkan.

KITA DI ZAMAN INI

Di masa Prapaskah, banyak orang memusatkan perhatian pada pertobatan dalam arti tidak lagi melakukan kejahatan. Namun, tidak banyak orang menaruh perhatian pada pertobatan dalam arti melakukan apa yang baik yang selama ini belum dilakukan. Banyak yang lebih menghayati pertobatan dengan memandang “perbuatan” Hawa, tetapi sedikit yang memandang “kelalaian” Adam.

Melakukan kejahatan dan tidak melakukan kebaikan adalah sama-sama dosa. Jadi, kalau kamu mau, cobalah bentuk pertobatan ini:

Kurangi satu perbuatan jahat, dan tambah dua tindakan baik.

Jika hari ini kamu bisa tidak marah satu kali, lakukan dua perbuatan penuh cinta dengan menyapa dua orang yang selama ini tidak kamu sapa. Jika hari ini kamu bisa tidak mengumpat di jalan satu kali, lakukan tindakan penuh cinta dengan menolong dua orang. Semoga dengan itu jumlah kebaikan menjadi lebih banyak dalam daftar perbuatan kita.

About Tano Shirani

Tano Shirani adalah lulusan program teologi Santa Clara University, California, Amerika Serikat. Sudah sejak lama, ia memiliki mimpi untuk ikut melayani orang muda melalui tulisan-tulisan rohani. Tano telah menerbitkan buku Namaku Lazarus: Merangkul Bisikan Kerahiman (Kanisius, 2016) dan Pendosa Jadi Pendoa: Gejolak Pertobatan Tujuh Pemazmur (Kanisius, 2017). Di tengah kesibukan menulis, menerjemahkan, dan menyunting berbagai tulisan, Tano juga melatih penulis-penulis rohani dalam komunitas Domus Cordis. Ia gemar melahap buku, dan sungguh percaya akan the power of words untuk mengubah dunia dan perjalanan seluruh sejarah umat manusia.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top