GASLIGHTING DAN 5 LANGKAH UNTUK MENGATASINYA

Young People, ada berita, karena physical distancing dan #dirumahaja, kejadian KDRT meningkat dua kali lipat. Sebelumnya, ada kasus tentang seseorang perempuan yang mengalami kekerasan, baik fisik, emosional, bahkan secara seksual dari pacarnya sendiri. Selama berhubungan dengan pria tersebut, perempuan ini beberapa kali memberikan protes atas tindakan abusif pacarnya itu, tetapi sang laki-laki berkali-kali balik marah, ngambek, atau balik menuduh perempuan itu, sampai sang perempuan meragukan dirinya sendiri dan realita yang ia alami.

Ketika ada suatu kenyataan yang terjadi di depan mata dan ketahui oleh kedua belah pihak, tetapi salah satu pihak—biasanya pihak yang lebih berkuasa—secara sadar atau tidak sadar berusaha memanipulasi pasangannya dengan menyangkal, memutarbalikkan fakta, atau membuatnya bingung dan ragu akan kenyataan yang terjadi, hal ini dinamakan gaslighting. Istilah gaslight mulai populer setelah ada film berjudul serupa di tahun 1944. Dalam film itu, diceritakan bahwa tokoh sang suami melakukan kekerasan psikologis dan memanipulasi istrinya hingga istrinya sendiri meragukan dirinya sendiri dan kewarasannya.

Gaslight biasanya terjadi di dalam hubungan yang tidak seimbang, yang di dalamnya terjadi usaha untuk mengontrol pihak lainnya. Pihak yang mengontrol ini biasanya selalu berpikir, entah sadar atau tidak, bahwa hanya dirinyalah yang benar, atau tindakannya bisa dibenarkan. Mereka melakukannya dengan berbohong, menyangkal kenyataan yang terjadi, mempergunakan kelemahanmu, membingungkanmu, menyematkan kenyataan yang terjadi yang sebetulnya ia lakukan kepadamu, dan sebagainya.

GASLIGHTING, KEKERASAN PSIKOLOGIS YANG TIDAK HANYA TERJADI DALAM RELASI ROMANTIS

Bukan hanya di dalam relasi romantis, gaslighting juga bisa terjadi dalam relasi pekerjaan, komunitas, pertemanan, bahkan keluarga. Gaslighting termasuk kekerasan psikologis, dan merupakan hubungan yang tidak sehat atau toksik (toxic relationship). Dengan adanya perendahan, manipulasi, dan perusakan terhadap orang lain, gaslighting menjadi bertentangan dengan kasih yang diajarkan Yesus, karena kasih adalah tindakan yang memikirkan dan mengusahakan apa yang baik bagi orang lain. Selanjutnya, karena diwarnai kebohongan dan penyangkalan, tindakan ini juga bertentangan dengan kebenaran. Lagipula, hubungan semacam ini menjadi tidak sehat karena kurang keterbukaan dan kejujuran yang merupakan bagian dari dasar yang baik pada sebuah hubungan.

Beberapa akibat yang sering terjadi karena gaslight, misalnya seseorang merasa dirinya terlalu sensitif (karena sering dikomentari demikian oleh lawan bicaranya), atau sering meminta maaf (karena lawan bicaranya selalu membuatnya merasa bersalah). Mereka juga mungkin merasa cemas akan berbuat kesalahan, hingga merasa terisolasi karena tidak bisa mencari bantuan.

BAGAIMANA MENGATASI GASLIGHTING?

Lalu, harus bagaimana jika kita adalah korban gaslight ini? Ini dia 5 langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasinya:

1. Menyadari masalah yang terjadi.

Kita perlu menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak benar yang sedang terjadi. Kalau lawan bicara kita sudah terlalu sering meremehkan dan menolak perasaan, pikiran, atau bahkan diri kita sendiri, sadarilah bahwa itu bukanlah suatu hubungan yang sehat. Hubungan yang sehat adalah hubungan yang mampu mendengarkan, menghargai, dan menghormati lawan bicaranya untuk tujuan dan hasil yang berbuah baik (terutama tidak bertentangan dengan moral).

2. Memahami bahwa diri kita adalah manusia biasa.

Manusia secara umum terbentuk oleh tiga komponen, yaitu pikiran, perasaan, dan perilaku. Hal ini berarti pikiran dan perasaan kita merupakan hal yang valid dan manusiawi. Emosi yang kita rasakan terhadap suatu hal adalah sesuatu yang sangat wajar terjadi. Emosi tidak membuat kita menjadi bersalah, selama kita memiliki pengendalian diri dari berperilaku yang memang salah. Tidak ada satu orang pun yang memiliki hak untuk meniadakan emosi yang kita rasakan. (Saran: kalau kita belajar memahami dengan baik tentang pikiran, perasaan, dan perilaku, kita juga bisa meningkatkan penerimaan terhadap diri sendiri lho!)

3. Mencari bantuan.

Berceritalah kepada orang-orang yang bisa dipercaya, misalnya keluarga, sahabat dekat, atau teman komunitas. Jika diperlukan, kita juga bisa mencari pertolongan profesional seperti psikolog atau psikiater, sampai ke pihak berwajib, terutama jika kekerasan yang terjadi sudah masuk ke ranah hukum. Jangan takut untuk meminta bantuan, karena bantuan yang diberikan oleh orang lain hanya akan bisa terjadi ketika kita mau mengambil langkah pertamanya.

4. Mengizinkan dirimu untuk melepaskan hal yang buruk.

Tidak semua hal harus kita pertahankan. It’s okay kalau kamu putus dengan pacarmu, it’s okay untuk menjaga jarak dengan orang lain jika orang itu membahayakanmu. Kita mungkin berpikir bahwa mengasihi berarti harus menerima seseorang apa adanya, yang bisa saja betul, tetapi bukan berarti menerima segala bentuk perlakuan yang jahat dan berbahaya. Kalau kita memutuskan untuk berpisah atau menjaga jarak dari orang tersebut, kita menerima kenyataan bahwa orang tersebut sedang dalam kondisi yang amat parah, dan kita memberikan sinyal bahwa perilaku tersebut tidak baik dan tidak dapat diterima, sehingga ia bisa memperoleh kesempatan untuk memperbaikinya.

5. Tidak usah terburu-buru menerima kembali pasangan yang meminta maaf.

Mungkin kamu masih mencintai dia. Kemudian dia datang kepadamu meminta maaf setelah melakukan hal yang parah padamu. Kamu tidak perlu terburu-buru menerimanya kembali karena ada kemungkinan ia melakukan itu dengan tujuan untuk memanipulasimu, agar kamu tetap bersamanya dan menjagamu dalam kendali kontrolnya. Ia perlu waktu untuk memulihkan dirinya sendiri, berusaha membangun dirinya menjadi pribadi yang lebih baik, sebelum siap membangun sebuah hubungan lagi. Kamu juga tidak memiliki kewajiban apapun kepadanya kalau kamu belum terikat dalam relasi perkawinan.

Satu lagi, hal yang terpenting dari semuanya adalah memohon rahmat Tuhan untuk menuntun kita melewati hal ini. Terimalah bahwa semuanya benar terjadi, bahwa kita pernah menjadi korban gaslight, bahwa kita pernah jatuh cinta dengan orang yang salah, bahwa kita pernah berteman dengan orang yang salah, bahwa kita terlahir dengan orang tua yang kurang mampu mengasihi kita dengan baik, bahwa kita memiliki atasan yang semena-mena—bahwa kita melewati proses pemulihan yang tidak mudah. Pada akhirnya, biarkan Tuhan Yesus sendiri yang menyembuhkan kita dengan kasih-Nya yang membebaskan dan utuh diberikan kepada kita.

Tuhan memberkatimu.

Referensi lain:
https://kumparan.com/curhatan-perempuan/curhat-perempuan-yang-jadi-budak-seks-and-korban-kekerasan-seksual-selama-2-tahun-1t52PXaKNNl
https://www.vox.com/first-person/2018/12/19/18140830/gaslighting-relationships-politics-explained
https://www.healthline.com/health/gaslighting#getting-help

About Aufa Putri Suryanto

Aufa Putri Suryanto adalah seorang psikolog klinis. Setelah menjalani 22 tahun kehidupannya, ia akhirnya menemukan Tuhan melalui bunda-Nya. Pertemuannya dengan Tuhan sangat mengubah hidupnya, sehingga ia ingin lebih banyak orang merasakan hal yang sama. Selama belajar mendalami iman Katolik, ia menemukan bahwa spiritualitas Katolik bisa berjalan beriringan dengan ilmu psikologi yang dipelajarinya. Walaupun saat ini terdampar di bidang industri, ia percaya bahwa pelayanannya lebih dari sekedar bertemu klien.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top