Gaudete! Bergiranglah!

Sejak subuh aku menanti. Untuk bisa dapat tempat enak, aku harus datang lebih awal. Nyatanya, aku masih kalah cepat. Sudah banyak yang menanti sejak malam. Tidak mengapa. Ini pengurbananku untuk bisa bertemu pujaanku. Sedikit penderitaan tak ada artinya. Tabunganku sudah kurelakan untuk membayar tiket ini. Aku harus bisa melihatnya dari dekat. Aku harus bisa selfie dengannya.

Kurasakan gelisah orang-orang di sekitarku. Semua memandang ke satu titik. Dari sanakah ia akan tampil? Kuarahkan pandanganku. Tak ingin sedikit pun luput. Aku harus jadi salah satu dari yang pertama, melihat kehadiran orang istimewa itu. Orang berdiri. Aku ikut berdiri. Orang bertepuk. Aku ikut bertepuk. Orang bersorak. Aku ikut bersorak. Tapi, mengapa belum muncul juga? Aku ikut dalam kegirangan orang banyak, meskipun aku belum melihat pujaanku. Satu demi satu, orang mulai muncul dari titik itu. Aku tahu, cepat atau lambat, setelah orang-orang itu, pujaanku akhirnya akan tampil juga.

Empat lilin. Tiga berwarna ungu tua, satu berwarna merah mawar. Itu lambang penantianku di masa Adven ini. Dua lilin ungu tua sudah kunyalakan. Hanya tersisa dua lilin. Aku tak sabar lagi. Sudah lama kunantikan saat ini. Pujaanku akan segera datang. Aku belum tahu pasti Dia akan datang lewat pintu mana. Aku terhanyut. Berdiri bersama. Bertepuk bersama. Bersorak bersama. Jauh di dalam hatiku, bersatu dengan sukacita banyak orang, aku tahu, Yesus pujaanku pasti segera datang.

Satu lilin yang berbeda warna kuambil. Merah mawar. Kusalurkan sukacitaku lewat simbol warna yang lebih cerah ini. Dalam hatiku ada lilin berwarna cerah itu. Berbeda dari tiga ungu gelap yang lain. Kunyalakan. Bukan dengan korek, tetapi dengan api harapan yang berkobar. Kusatukan harapanku yang kembali mekar. Kugabungkan sukacitaku dengan sukacita banyak orang.

Dari corong terdengar seruan: “Bersukacitalah! Gaudete! Bergembiralah! Gaudete! Bergiranglah! Gaudete!…” Di manakah aku? Suara itu terlalu jelas. Persoalan hidupku masih tetap sama. Kesulitan keuangan masih ada. Hubungan retak dengan keluargaku belum pulih. Sakitku belum sembuh. Rencanaku belum disetujui. Lamaranku masih ditolak. Permusuhan terhadapku belum berakhir. Cemburu masih mencabik duniaku.

Tapi, suara itu…, terlalu jelas untuk kuabaikan. GaudeteGaudeteGaudete! Aku bangkit. Berdiri. Bersorak. Bergirang. Kupeluk tiap lembar gelap dalam hidupku. Kubisikkan hal yang sama. GaudeteGaudeteGaudete! Aku yakin. Yang tergelap dalam hidupku saat ini akan didatangi oleh Sang Terang. Yang tersuram akan disirami oleh Sang Harapan. Yang terpuruk akan disapa oleh Sang Hidup.

Sudah hari Minggu ketiga Adven. Hatiku semakin siap. Yesus tak akan mengubah segalanya secara ajaib. Tapi aku tahu, Yesus akan berjalan bersamaku. Menyapa tiap titik gelap dengan terang yang baru. Aku mendengar undangan itu. Gaudete! Bergiranglah! Aku jawab dengan sepenuh diriku. Aku rangkul seruan itu. Aku melangkah dalam iman.

Aku bergirang bersama seluruh ciptaan. Bersama seluruh Gereja. Menyambut Yesus. Ia akan segera datang.

Happy Gaudete Sunday!

 

Tano Shirani, penulis buku Namaku Lazarus

About Tano Shirani

Tano Shirani adalah lulusan program teologi Santa Clara University, California, Amerika Serikat. Sudah sejak lama, ia memiliki mimpi untuk ikut melayani orang muda melalui tulisan-tulisan rohani. Tano telah menerbitkan buku Namaku Lazarus: Merangkul Bisikan Kerahiman (Kanisius, 2016) dan Pendosa Jadi Pendoa: Gejolak Pertobatan Tujuh Pemazmur (Kanisius, 2017). Di tengah kesibukan menulis, menerjemahkan, dan menyunting berbagai tulisan, Tano juga melatih penulis-penulis rohani dalam komunitas Domus Cordis. Ia gemar melahap buku, dan sungguh percaya akan the power of words untuk mengubah dunia dan perjalanan seluruh sejarah umat manusia.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top