Me Me Me Generation: “I-right-ional”

Bayangin deh kalau suatu hari kamu punya setumpuk kerjaan, yang sampai jam makan siang belum juga dapet approval, padahal kamu udah bikin sesuai maunya atasan. Begitu kamu lagi antri untuk beli makan siang, ada 1 orang yang protes ke penjual karena uang kembaliannya kurang Rp800,- dan itu membuat antrian jadi stuck. Kira-kira, ucapan apa yang kamu pikirkan atau bahkan sampai terucap pada orang itu? Lebih banyak yang positif atau yang negatif?

Kita seringkali memberikan penilaian terhadap orang lain secara otomatis, meskipun kita tidak berinteraksi langsung dengan orang tersebut. Tapi, coba bayangin deh kalau kamu yang diberi cap tertentu oleh orang lain tanpa dia tau ada suatu hal yang membuat kamu berperilaku seperti itu. Merasa fair gak sih?

Ternyata, kebiasaan kita yang cenderung menilai orang lain tanpa klarifikasi terlebih dahulu itu bisa termasuk dalam kategori orang yang I-right-ional, yaitu merasa kalau dirinya paling benar.

Violison Martheo dalam Inspire Young People bulan April 2016 memberikan 3 cara untuk mengetahui apakah kita termasuk dalam pribadi yang I-right-ional: (1) blame others, dimana kita merasa semua kegagalan maupun kesalahan terjadi karena orang lain; (2) judge others, yaitu kecenderungan untuk langsung memberikan penilaian pada orang lain tanpa melihat kejadian atau hal lain yang melatarbelakanginya; dan (3) deny others, yaitu kita meniadakan keberadaan orang lain. Ketika berada pada kondisi I-right-ional, kita secara tidak sadar menempatkan fokus kepada diri sendiri (self-centered). Padahal, Tuhan mau kita menjadi pribadi yang love-centered. Dia terlebih dahulu memberikan diri-Nya dengan rela mati di kayu salib demi menebus dosa kita semua. Gimana ya caranya berubah dari self-centered ke love-centered?

Cek langsung videonya di sini:

Mengubah diri dari self-centered menjadi love-centered tentunya tidak mudah. Tapi, cerita dari Igor Saykoji memberikan inspirasi dan harapan baru bagi kita. Mampu memaafkan dan berbesar hati pada orang-orang yang berperilaku tidak menyenangkan terhadapnya adalah langkah awal Igor mengubah diri menjadi pribadi yang love-centered. Tentunya proses yang dialami Igor tidak mudah dan singkat.

Cerita selengkapnya bisa dilihat di sini:

“Memaafkan itu berarti melewati garis pemisah di antara kita dan orang yang membenci kita, sampai kita berada di posisi orang tersebut” (Igor Saykoji).

Kita selalu punya pilihan untuk menentukan tindakan. Maukah kita mulai melangkah menjadi pribadi yang love-centered, seperti yang telah Tuhan lakukan?





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top