Haruskah Engkau Pergi, Ya Yesus?

Selama beberapa waktu terakhir ini, aku mudah bersedih. Ada terlalu banyak kekecewaan terhadap Tuhan. Sekian banyak permohonanku ditolak. Harapan tulus dari sekian juta insan tak membuat Tuhan bertindak membela orang yang teraniaya. Kini, lain dari perayaan-perayaan serupa sebelumnya, gigitan kepedihan kembali menyayat kalbu saat, bersama Gereja, aku merayakan Hari Raya Kenaikan Tuhan. Mengapa perpisahan yang sangat pedih ini harus dipestakan sebagai hari raya?

Aku yakin, aku tidak sendiri. Gejolak rasa ini ada dalam diri banyak orang yang berkehendak baik. Yesus berkata, “Aku tidak akan meninggalkan kalian sebagai yatim piatu” (Yoh 14:18). Kini, kadang janji itu terasa palsu. Aku bisa merasakan betapa galaunya para murid saat itu. Mereka sangat terpukul ketika Yesus diambil dari antara mereka, ditangkap, disiksa, wafat, dan dimakamkan. Tiba-tiba hati mereka disemarakkan lagi oleh Yesus yang bangkit dan hidup. Selama minggu-minggu setelah kebangkitan itu, hidup terasa sangat ringan. Yesus sungguh telah mengalahkan maut. Yesus sungguh hadir bersama mereka dengan cara yang baru. Yesus sungguh memberi harapan besar.

Ternyata, tidak selamanya seperti itu. Mengapa harus ada perpisahan lagi? Tidakkah Yesus tahu bahwa gejolak perlawanan dari pihak pembenci kebenaran dan keadilan justru sedang semakin gencar? Tidakkah Yesus tahu ada banyak berita bohong dan fitnah yang ditabur untuk membuta-tuli-bodohkan hati banyak orang? Tidakkah Yesus tahu bahwa Ia seharusnya jangan meninggalkan para murid begitu saja?

Aku tak bisa memahami. Bercampur aduk rasa ini. Aku merasa dicintai, ditemani, disemangati, tetapi juga merasa ditinggalkan, dibiarkan, ditelantarkan. Tak bisa kuingkari, Hari Raya Kenaikan Tuhan tahun ini terasa sangat pedih. Bagaimanakah aku dan banyak orang lain bisa membiarkan Yesus pergi dan merayakannya?

Ascensione di Cristo, Pietro Perugino (1448–1523)

Di tengah gejolak ini aku melihat, pasti perpisahan itu juga sangat berat bagi Yesus. Mungkin Yesus punya kerinduan untuk bisa terus menemani para murid-Nya tanpa harus naik ke surga. Pada saat yang sama, dalam diri Yesus ada keyakinan kokoh tak tergoyahkan, bahwa para murid sudah cukup kuat untuk melangkah lebih jauh tanpa kehadiran-Nya yang bisa dicerna dengan mata indrawi.

Kenaikan Yesus adalah juga saat aku dan semua pengikut-Nya diberi kepercayaan besar untuk “naik” ke tingkat iman yang lebih tinggi. Aku dan tiap pengikut-Nya dipercaya untuk terus mengalami kehadiran-Nya yang nyata, jauh melampaui sekat-sekat indera insani. Tidak mudah saat ini meyakini hal yang sama. Namun demikian, inilah anugerah istimewa dari Yesus. Sangat istimewa, sehingga aku tak berani membuka bungkusnya.

Semakin kehadiran Yesus tidak lagi tertangkap indra, semakin kuatlah keyakinan imanku akan kehadiran-Nya dengan cara yang melampaui nalarku. Inilah paradoks iman yang tidak mudah. Mungkin aku tak akan pernah memahaminya secara utuh. Yang bisa kulakukan hanyalah terus melangkah, terus melihat, terus menyuarakan pesan-pesan kebenaran, keadilan, cinta kasih, pengampunan-Nya, seraya juga terus melibatkan diri di berbagai ruang untuk menjadikan negeriku ini negeri yang “sungguh amat baik” seperti saat semesta ini diciptakan.

Aku belajar percaya, hanya setelah aku melangkah, jalan itu akan terlihat jelas. Hanya setelah aku melangkah dalam rasa ditinggalkan oleh Yesus, pada saat itulah Yesus sungguh hadir melampaui kemampuanku untuk merasakannya.

Di Hari Raya Kenaikan Tuhan ini, bersediakah kita kembali diberanikan untuk menapak ke dalam ruang yang diterangi oleh banyak ketidakpastian hidup?

About Tano Shirani

Tano Shirani adalah lulusan program teologi Santa Clara University, California, Amerika Serikat. Sudah sejak lama, ia memiliki mimpi untuk ikut melayani orang muda melalui tulisan-tulisan rohani. Tano telah menerbitkan buku Namaku Lazarus: Merangkul Bisikan Kerahiman (Kanisius, 2016) dan Pendosa Jadi Pendoa: Gejolak Pertobatan Tujuh Pemazmur (Kanisius, 2017). Di tengah kesibukan menulis, menerjemahkan, dan menyunting berbagai tulisan, Tano juga melatih penulis-penulis rohani dalam komunitas Domus Cordis. Ia gemar melahap buku, dan sungguh percaya akan the power of words untuk mengubah dunia dan perjalanan seluruh sejarah umat manusia.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top