Ini Gue, Bro: Belajar Tertawa di Minggu Paskah

Berapa kali perasaanmu tersentuh saat Jumat Agung? Ada yang menangis ketika menyaksikan drama penyaliban. Beberapa orang menyembah salib dengan mata berkaca-kaca. Ada pula yang banjir air mata setelah menonton film The Passion. Nah, coba ingat baik-baik, saat Minggu Paskah atau Malam Paskah, pernahkah kamu tertawa terbahak-bahak, sungguh bergirang, bersorak senang, dengan hati yang berbunga-bunga penuh sukacita?

Sungguh aneh. Lebih mudah menangis di hari Jumat Agung daripada tertawa pada Minggu Paskah atau Malam Paskah! Bahkan, seandainya kamu tertawa girang saat mengikuti perayaan Paskah, kamu akan diplototin dengan tatapan heran penuh curiga. Kamu akan dianggap aneh oleh orang-orang yang mengikuti perayaan itu dengan santun, saleh, penuh rasa bakti, tetapi dengan air muka serba berkerut, seolah sedang mengikuti Misa pemakaman.

Kok bisa begini ya? Coba bayangin! Ketika Yesus menampakkan diri kepada para murid, kira-kira gimana ekspresi Yesus? Yesus nggak muncul dengan muka sedih. Dia nggak ngomong dengan suara berat dan lambat. Yesus pasti muncul dengan muka serba ceria, senyum lebar, pandangan mata berbinar, penuh sukacita. Dengan akrabnya, Yesus menyapa murid-murid yang masih kaget, “Ini gue, Bro!

Yesus yang tertawa

Yesus yang gembira

Injil emang nggak pernah cerita bahwa Yesus tertawa. Yesus menangis saat Lazarus wafat. Tapi, tertawa? Tidak pernah disebut. Tapi, coba pikir, Yesus membawa kabar sukacita. Ia memberi kepercayaan kepada para murid-Nya untuk mewartakan kabar sukacita. Ia memikat banyak pengikut. Yesus pasti orang yang bisa ceria, bergurau, konyol, jahil, kadang iseng. Yesus pasti banyak tertawa juga ketika Ia melayani banyak orang, ketika Ia berkotbah, ketika Ia membina murid-murid-Nya secara khusus.

Apakah benar kita sudah lupa untuk tertawa senang bersama Yesus dalam merayakan kemenangan di hari kebangkitan-Nya? Atau, apakah ada larangan tak tertulis untuk tidak terlalu jujur mengungkapkan kegembiraan Paskah? Benarkah hanya muka muram yang bisa diterima dalam konteks liturgi? Sungguhkah kita hanya boleh menyanyikan Aleluya dengan tetap murung?

Mungkin juga di Jumat Agung kita mudah menangis karena kita sebenarnya senang bersembunyi dari tanggung jawab kita, dengan terus memainkan peran sebagai korban dari keadaan. Mungkin kita tak mampu tertawa karena kita tahu bahwa kita ini penuh dengan kepalsuan yang kita sembunyikan. Kita merasa nyaman di Jumat Agung hidup kita, dan kita enggan beranjak menuju kebangkitan. Kita merasa nyaman dengan menangis bersama Yesus, tetapi kita takut untuk tertawa bersama Yesus.

Kontras Jumat Agung dan Minggu Paskah

Kalau pada Minggu Paskah atau Malam Paskah kita tidak lagi bisa atau tidak lagi boleh tertawa gembira, mungkin kita telah jauh melenceng dan melupakan seruan Yesus untuk menjadi pembawa kabar gembira itu. Paus Fransiskus sudah mengingatkan hal serupa dalam ensikliknya, Evengelii Gaudium, The Joy of the Gospel, Sukacita Injil.

Tentu kamu tidak pelu memaksakan agar liturgi di parokimu saat Minggu Paskah atau Malam Paskah menjadi seperti acara Stand Up Comedy. Dalam Latihan Rohani Santo Ignasius Loyola dianjurkan agar orang merasakan betapa tajam kontras antara Jumat Agung dan Minggu Paskah. Anugerah tertawa di hari Paskah mungkin sungguh perlu kamu mohon. Cobalah belajar sungguh tertawa girang di hari Paskah, dengan mengingat kembali betapa tajam kontras antara saat kamu masih “mati” terkurung dalam persoalanmu, dan saat kamu kembali “bangkit hidup” terbebaskan dari kesulitanmu itu.

Tertawa dan Bahagia

Selamat tertawa bersama Yesus yang bangkit!

“Doa pujian adalah doa Kristiani yang berlaku bagi kita semua. Mengapa kamu bisa bersorak ketika tim favoritmu mencetak gol, tetapi kamu tidak bisa menyanyikan pujian bagi Tuhan?” (Paus Fransiskus)

About Tano Shirani

Tano Shirani adalah lulusan program teologi Santa Clara University, California, Amerika Serikat. Sudah sejak lama, ia memiliki mimpi untuk ikut melayani orang muda melalui tulisan-tulisan rohani. Tano telah menerbitkan buku Namaku Lazarus: Merangkul Bisikan Kerahiman (Kanisius, 2016) dan Pendosa Jadi Pendoa: Gejolak Pertobatan Tujuh Pemazmur (Kanisius, 2017). Di tengah kesibukan menulis, menerjemahkan, dan menyunting berbagai tulisan, Tano juga melatih penulis-penulis rohani dalam komunitas Domus Cordis. Ia gemar melahap buku, dan sungguh percaya akan the power of words untuk mengubah dunia dan perjalanan seluruh sejarah umat manusia.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top