Jebakan “Nanti Juga Ada yang Lain”

Pertengahan April 2011. Menjelang fajar. Di daerah Queens, New York. Hugo Alfredo Tale-Yax, seorang tunawisma, berusaha merelai pertikaian antara seorang lelaki dan seorang perempuan. Malang baginya, ia ditusuk berkali-kali oleh lelaki yang semakin kalap. Selama 90 menit, Hugo tergeletak meregang nyawa di tepi jalan. Orang lalu lalang. Ada yang menengok sejenak, ada yang mengambil foto, tapi tak ada yang berhenti untuk menolong Hugo. Ketika tim medis datang, Hugo sudah tak bernafas.

Di tahun 1964, juga di Queens, New York, hiduplah Kitty Genovese. Sekitar pukul 3 dini hari, Kitty ditusuk di depan gedung apartemennya. Banyak orang melihat penyerangan itu dari apartemen mereka. Selama 30 menit Kitty dibiarkan diserang, tanpa ada satu orang pun berusah menolong atau menelepon polisi. Kitty meninggal dalam ambulans.

Prinsip Penguraian Tanggung Jawab

Studi, riset, survei, kemudian memperlihatkan dua contoh peristiwa naas itu sebagai akibat dari apa yang disebut, “prinsip penguraian tanggung jawab” (diffusion-of-responsibility principle). Jika kamu sedang seorang diri dan melihat ada orang lain yang tiba-tiba pingsan, kamu akan segera berbuat sesuatu. Jika peristiwa yang sama terjadi di tengah keramaian, banyak orang yang melihatnya, mungkin termasuk kamu, akan tanpa sadar memberlakukan prinsip itu. Pikirmu, “Nanti juga ada yang lain yang nolongin dia.” Kamu pun merasa nyaman untuk tidak menolong.

Di jalur antara Yerusalem dan Yerikho. Seorang manusia diserang gerombolan begal. Dibiarkan terluka parah di tepi jalan. Lewatlah seorang imam. Ketika melihat orang yang terluka itu, ia terus melangkah di seberang jalan. Ia tahu, itu jalur ramai. Pasti banyak orang lain lewat situ. Kemungkinan besar, ia juga berkata dalam hatinya, “Nanti juga ada yang lain yang nolongin dia.” Lalu lewatlah seorang Lewi. Hal yang sama terjadi. Ia mungkin juga berkata, “Nanti juga ada yang lain yang nolongin dia.”

Akhirnya, lewatlah seorang Samaria. Ia melihat sesama manusia yang terluka. Tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Segera ia sibuk menolong, mengobati, membawa ke penginapan terdekat, mengeluarkan uang ekstra untuk perawatannya. Dorongan belas kasihan lebih kuat dari jebakan “Nanti juga ada yang lain.” Ia terlalu sibuk digerakkan oleh belas kasihan, sehingga tak lagi punya waktu untuk masuk dalam jebakan nyaman yang normal dan manusiawi itu. Demikianlah gejolak dalam salah satu perumpamaan Yesus (Lukas 10:25-37).

Belas Kasih

Belas kasihan, compassion, bela rasa, mampu mengubah caranya melihat, bahkan mendobrak dorongan psikologis yang sangat normal sekali pun. Orang Samaria itu menolong, karena ia bersedia berhenti dan melihat dengan hati. Ia didesak oleh hatinya untuk rela mengorbankan waktu. Ia punya hati yang tidak sama seperti hati imam dan orang Lewi, dan mungkin banyak orang lain yang sudah lewat di situ. Hatinya bersedia ikut tercabik.

Seperti ini pula hati Tuhan terhadap tiap manusia. Ini pula yang diharapkan oleh Tuhan agar nyata juga dalam hati kita. Penghormatan kepada Hati Yesus Yang Mahakudus kerap diisi dengan permohonan doa, “Ya Yesus, jadikanlah hatiku seperti hati-Mu.” Bagaimana doa itu dikabulkan oleh Yesus? Salah satunya adalah dengan belajar berhenti, belajar melihat, dan belajar untuk melawan jebakan “nanti juga ada yang lain” itu. Tanpa ini, permohonan kita hanya jadi kata-kata manis. Kita hanya jadi pengagum Hati Yesus tanpa pernah memiliki hati seperti hati-Nya.

About Tano Shirani

Tano Shirani adalah lulusan program teologi Santa Clara University, California, Amerika Serikat. Sudah sejak lama, ia memiliki mimpi untuk ikut melayani orang muda melalui tulisan-tulisan rohani. Tano telah menerbitkan buku Namaku Lazarus: Merangkul Bisikan Kerahiman (Kanisius, 2016) dan Pendosa Jadi Pendoa: Gejolak Pertobatan Tujuh Pemazmur (Kanisius, 2017). Di tengah kesibukan menulis, menerjemahkan, dan menyunting berbagai tulisan, Tano juga melatih penulis-penulis rohani dalam komunitas Domus Cordis. Ia gemar melahap buku, dan sungguh percaya akan the power of words untuk mengubah dunia dan perjalanan seluruh sejarah umat manusia.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top