Jujur Bawa Masalah?

“Bagus ya . . . Sekarang kamu mulai belajar bohong sama aku!” kata Devi setengah berteriak kepada Mario, pacarnya.

“Aku bohong apa sih, Say?” sambut Mario, kebingungan.

“Kayak gitu kamu bilang nggak bohong? Kamu pergi sama temen-temen kamu, tapi bilangnya lembur. Lembur apaan coba?!” lanjut Devi terus nyerocos dengan murka. Mario pun berusaha berdalih sambil menenangkan Devi.

Sounds familiar?

Situasi kayak gini mungkin pernah terjadi pada kita dan orang-orang di sekitar kita. Kita tahu kalau jujur memang baik dilakukan dalam sebuah hubungan, tetapi banyak juga yang bilang kalau terlalu jujur malah bisa membuat masalah dan keributan. Gara-gara ini, kita dengar juga istilah “nggak bohong, tetapi nggak sepenuhnya jujur”.

Kejujuran adalah landasan dari kepercayaan dan keintiman.

Kadang-kadang, yang terjadi malah sebaliknya, kejujuran mendatangkan keributan bahkan ketidakpercayaan di antara pasangan. Hal-hal seperti ini malah membuat kita merasa lebih aman menyimpan rahasia masa lalu, atau pun kejadian sekarang yang nggak mau kita singkapkan kepada pasangan.

Sebenarnya kita perlu belajar soal gimana caranya mengungkapkan sebuah kejujuran, tanpa perlu membuat keributan, ketidakpercayaan, atau pun sakit hati. Berkata atau mengungkapkan kejujuran perlu dilatih sama halnya seperti saat kita melatih keterampilan yang lain.

Beberapa tips di bawah ini adalah cara mengungkapkan kejujuran tanpa membuat pasangan kita menjadi sakit hati dan bebas dari keributan:

1. Pilih atau cari waktu yang tepat

 

Untuk memulai, carilah waktu dan tempat di mana pasangan kita akan terbuka mendengar kejujuran yang tidak menyenangkan. Menentukan waktu sangat penting, karena pasangan kita membutuhkan kesabaran, energi, dan ketabahan saat mendengar cerita kita. Sebaiknya tidak dilakukan setelah seharian lelah beraktivitas atau jika pasangan mengalami ketidaknyaman pada hari tersebut, karena pada saat itu kita akan lebih sulit untuk mengontrol diri. Maka, pilihlah hari saat kita berdua berada dalam keadaan yang fresh dan tidak terburu-buru. Perlu diperhatikan juga untuk tidak memilih tempat yang ramai.   

2. Jelaskan motivasimu

Sakit hati bisa terjadi waktu pasangan merasa dikritik, dihakimi, atau pun dibohongi. Untuk menghindarinya, kita perlu menjelaskan kalau motivasi kita bukan untuk menyakitinya, tetapi ingin membuat hubungan lebih baik. Ada baiknya sebelum kita berbicara kepada pasangan, kita mengambil waktu untuk menanyakan kepada diri kita sendiri, berefleksi, apakah motivasi dan intensi kita sungguh baik, atau jangan-jangan tujuan kita adalah untuk melampiaskan ganjalan di hati kita kepada pasangan kita.

3. Pilihlah kata-kata yang tepat

Mulailah dengan kata ‘aku’ dan bukan ‘kamu’. Contohnya, “Aku merasa kesepian kalau nggak ada kamu,” dan bukannya “kamu fokus banget sama urusanmu dan sering meninggalkan aku.” Hindari kata-kata “tidak pernah” atau “selalu”. Usahakan memberi kalimat sefaktual mungkin, misalnya “Saya merasa sedih kalau . . . ” dibandingkan kalimat seperti, “Kamu selalu menyakiti saya kalau . . . ” Ada baiknya kata-kata yang mau kita sampaikan dirangkai dan dilatih terlebih dahulu sebelum kita sampaikan kepada pasangan kita.

4. Fokus kepada solusi dan bukan masalah

Bila memang tujuan kita adalah membuat hubungan menjadi lebih baik dan langgeng, maka sebaiknya tidak berkutat di masalah. Saat sudah mengungkapkan kejujuran, ambillah waktu untuk membicarakan hal tersebut dan mencari solusi atau jalan tengah yang saling menenangkan.

5. Meminta kejujuran pasangan sebagai timbal balik

Bila kita sudah siap berbicara jujur dengan pasangan kita, maka bersiaplah juga mereka akan mengatakan sesuatu tentang kita. Apapun masalah dalam sebuah hubungan, mungkin kita juga perlu mengakui kalau kita juga ambil bagian dalam permasalahan tersebut. Mengakui hal tersebut akan meredam kemarahan, tidak saling menyalahkan dan semakin belajar terbuka satu sama lain.

Kitab Suci bilang apa soal ini?

“Orang yang dusta bibirnya adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi orang yang berlaku setia dikenan-Nya.” (Ams 12:22)

“Saksi dusta tidak akan luput dari hukuman, orang yang menyembur-nyemburkan kebohongan tidak akan terhindar.” (Ams 19:5)

“Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain.” (Ef 4:25)

Ketidakjujuran berlawanan dengan Tuhan karena Ia adalah Kebenaran. Mengatakan kebohongan sama dengan melawan Tuhan. Kalau sebuah hubungan memang didasari oleh cinta, harusnya sih tidak ada ruang untuk ketidakjujuran. Kalau kita berani mengatakan cinta pada pasangan kita, maka secara tidak langsung kita mengatakan kalau kita akan selalu jujur dengan pasangan kita. Berkata jujur nggak selalu mudah, tetapi kalau kita mengasihi dengan tulus, dengan motivasi yang baik dan positif, kejujuran akan mendatangkan kebaikan untuk hubungan tersebut.

 Let’s say YES to HONESTY!

About Lucia Luliana

Lucia Luliana menempuh pendidikan spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi di Universitas Indonesia. Dokter yang akrab dipanggil "Zhen" ini menjadi praktisi perkembangan anak-anak berkebutuhan khusus. Perjumpaan dengan Tuhan membawa perubahan dalam hati dan hidup Zhen, sehingga membuatnya ambil bagian dalam melayani Tuhan.

Dalam komunitas Domus Cordis, ia ambil bagian dalam bidang formasi orang muda. Zhen ingin berbagi lebih banyak lagi melalui tulisan-tulisannya, supaya orang muda juga melihat wajah Tuhan, dan ikut mengalami perubahan.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top