Kalau Tuhan baik, mengapa ada penderitaan?

Salah satu pertanyaan yang biasa ditanyakan (dan mungkin juga kita sering menanyakannya!) ialah: Kalau Tuhan itu ada dan Dia adalah Bapa yang baik, kenapa sih kok ada penderitaan di dunia ini? Kalau kita ini orangtua, kita nggak mungkin kan membiarkan anak-anak kita sengsara? Justru sebaliknya, kita bakalan ngasih mereka yang terbaik, sekolah yang oke punya, makanan yang sehat, atau mainan yang kekinian. Nah, kalau memang semua manusia adalah anak-anak Tuhan, kenapa kok masih ada anak-anak yang mati kelaparan? Kenapa Tuhan nggak pakai kuasa-Nya buat menurunkan hujan supaya panen berhasil? Gimana kalau Tuhan sekalian menurunkan roti dari langit supaya nggak ada lagi yang kelaparan?

Dua hal yang perlu kita ketahui.

  1. Tuhan menciptakan kita untuk kebahagiaan, karena kasih-Nya. Kita tahu bahwa kita diciptakan karena kasih. Surat Yohanes mengatakan, “Allah adalah kasih” (1 Yoh 4:8). Kasih, memiliki karakter atau kodrat yang memberi, berbagi, untuk kebaikan orang lain. Kita semata-mata diciptakan Tuhan karena Tuhan ingin berbagi kasih, berbagi kebahagiaan, agar ciptaan-Nya pun merasakan apa yang dirasakan oleh-Nya. Ada perkataan yang mengatakan, “Yang paling menyedihkan bukanlah pada saat kita sedih dan tidak bisa berbagi rasa dengan seseorang, tetapi yang paling menyedihkan adalah saat kita bahagia tetapi tidak bisa berbagi rasa dengan seseorang.” Bahagia menjadi bermakna, kalau kita bisa berbagi kebahagiaan itu dengan orang yang kita cintai, seperti keluarga atau pasangan. Tuhan pun ingin berbagi rasa atas kesempurnaan-Nya. Itulah sebabnya kita berada di dunia ini! Jadi, kita diciptakan Tuhan untuk berbagi kesempurnaan, kebahagiaan dan sukacita.
  2. Tuhan sudah melakukan bagian-Nya. Kita sering menyalahkan orang lain, bahkan Tuhan, untuk penderitaan yang terjadi. Namun terkadang, diri kita yang tidak melakukan apa yang seharusnya kita lakukan, malah berkontribusi terhadap penderitaan orang lain. Sebagai contoh, kita tahu bahwa bumi ini diciptakan dalam segala kelimpahan. Produksi pangan sedunia diperkirakan cukup untuk kurang lebih 10 milyar orang, lebih 3 milyar dari jumlah penduduk dunia saat ini. Kita diberikan kelimpahan meskipun kita hidup hanya sementara di dunia ini. Kemiskinan, bisa jadi disebabkan karena kita pelit, serakah, dan tidak mau berbagi.

Empat cerita dari Kitab Suci

Dalam Kitab Suci, ada empat cerita yang berkisah seputar penderitaan.

  1. Injil Yohanes 9:2-7. Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?”Jawab Yesus: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia. Setelah Ia mengatakan semuanya itu, Ia meludah ke tanah, dan mengaduk ludahnya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadidan berkata kepadanya: “Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam.”Siloam artinya: “Yang diutus.” Maka pergilah orang itu, ia membasuh dirinya lalu kembali dengan matanya sudah melek.
  2. Injil Lukas 13:4-5. “Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.”
  3. Kitab Ayub. Kita bisa belajar tentang penderitaan dari kitab Ayub. Sekilas tentang cerita Ayub. Dia adalah seorang yang takut akan Tuhan, benar dalam iman dan kelakuannya, diberkati pekerjaan dan keluarganya. Pada suatu waktu, Tuhan mengijinkan iblis untuk mencobai Ayub dan melihat apakah Ayub setia pada Tuhan karena semata-mata karena berkat yang melimpah dari Tuhan: bagaimana kalau diambil semuanya, apakah dia masih setia pada Tuhan? Dan itu yang terjadi pada Ayub, semuanya diambil, yaitu kekayaannya, rumahnya, bahkan beberapa anggota keluarganya pun meninggal. Ayub sendiri pun terkena penyakit. Teman-teman Ayub mengatakan bahwa Ayub telah melakukan pelanggaran atau dosa, sehingga Tuhan mendatangkan semuanya ini. Namun, Ayub tetap pada pendiriannya, tidak mencaci maki Tuhan atau hilang harapan. Ayub tahu bahwa dirinya benar, dia membawa keluh kesahnya ke Tuhan dan tetap setia. Singkat cerita, Tuhan mengembalikan semua yang hilang berkali-kali lipat, dan Tuhan justru ‘marah’ terhadap mereka yang menghakimi Ayub.
  4. Kisah sengsara Yesus. Kita juga bisa belajar dari kisah Sengsara Yesus sendiri, yaitu “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah. (2 Korintus 5:21)”Murid-murid Yesus pun pada awalnya tidak mengerti akan sengsara dan wafat Guru mereka. Mengapa orang baik seperti Yesus bisa mati di kayu salib? Padahal Yesus yang diandalkan sebagai mesias, yang akan menyatukan seluruh suku bangsa Israel.  Mengapa akhirnya seperti ini?
Kristus setelah diturunkan dari Salib

The Burial of Christ, Carl Heinrich Bloch (1834-1890)

Apa yang bisa kita pelajari dari keempat kisah di atas?

Dari semua cerita di atas, kita bisa melihat tiga hal mendasar serta kesamaan yang ada di antaranya, yakni:

  1. Kadang, penderitaan merupakan sebuah misteri, dan ada karya Tuhan yang hendak dinyatakan kepada kita kelak. Penderitaan itu belum tentu bisa dipahami atau diberikan jawaban langsung, dan bukan semata-mata karena dosa dan akibat. Bahkan, penderitaan nggak boleh direduksi begitu aja menjadi dampak dosa. Lihat aja teman-teman Ayub!
  2. Fokus kita bukanlah mencari jawaban atas pertanyaan “Mengapa penderitaan ini terjadi?”
  3. Penderitaan yang diserahkan ke dalam tangan Tuhan selalu berakhir dengan kemenangan dan pemulihan. Menjadikan sesuatu jauh lebih baik dari sebelumnya. Lihat cerita Ayub yang dipulihkan kembali kekayaannya dan semuanya yang hilang. Lihat juga cerita orang yang buta sejak lahir yang akhirnya disembuhkan oleh Yesus. Lihat cerita Yesus yang bangkit dari maut dan kesengsaraan-Nya, dan oleh karena Salib-Nya, keselamatan boleh datang bagi seluruh umat manusia.

Penderitaan bukan akhir dari segalanya.

Contoh nyata ada pada kebangkitan Kristus. Kebangkitan-Nya menjadi bukti konkret bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan ada kehidupan setelahnya. Kehidupan setelah kematian menjadi jawaban yang sangat konkret bagi orang-orang yang bertanya-tanya mengenai keadilan di dunia ini.

Banyak orang yang lahir dalam kemiskinan, dan mati pun masih dalam kemiskinan. Banyak orang yang dilahirkan cacat, atau dilahirkan dalam situasi perang yang membuatnya mengalami banyak kesusahan. Tanpa kebangkitan Kristus, maka keadilan ini tidak bisa dipenuhi. Tanpa kebangkitan Kristus, kita menjadi bertanya-tanya, untuk apa kita diciptakan di dunia ini kalau ada penderitaan. Tanpa kebangkitan dan kemenangan Kristus, keberadaan kita di dunia akan menjadi sesuatu yang sia-sia. Kehidupan menjadi tanpa arti, bahkan beberapa orang akan bertanya-tanya untuk apa mereka dilahirkan.

Kemenangan dan pemulihan ada di dalam Kristus!

Dengan kebangkitan Kristus, kita tidak boleh berkecil hati. Kita sudah melihat bukti bahwa penderitaan yang kita persatukan dalam Kristus akan selalu berakhir dalam kemenangan dan pemulihan, bahkan penderitaan yang sebelumnya tidak akan teringat lagi.

Penderitaan tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan Tuhan

Kebangkitan Yesus sangatlah berharga bagi keselamatan umat manusia. Inilah yang menjadi kabar gembira yang perlu kita wartakan. Karenanya, sudah sepatutnya kita gencar menyebarkan kabar gembira ini kepada semua orang, sekarang juga!

We are the Easter people and alleluia is our song!” (Pope John Paul II)

About Ernest Basarah

Ernest Basarah aktif melayani orang muda sejak tahun 1997. Ia pernah bertanggung jawab sebagai Koordinator Muda-mudi Katolik Indonesia di Orange County, California, Amerika Serikat, lalu menjadi Head of Formation/Spiritual Ministry komunitas orang muda Indonesia di Keuskupan Los Angeles. Ernest yang pernah mengambil studi Kitab Suci selama 3 tahun di Catholic Bible Institute, Loyola Marymount University, menjadikannya seorang Certified Bible Study Facilitator di Keuskupan Los Angeles. Kalau ada waktu luang, ayah dari tiga orang anak ini bisa dicari di driving range, asyik bermain golf.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top