Keluarga di Dunia Modern: Gadget untuk Melawan Kebosanan

Rasanya internet merupakan sebuah temuan yang sangat luar biasa di abad ke-21 ini, mungkin yang terbesar setelah penemuan telepon! Internet mengubah bagaimana manusia berinteraksi di seluruh dunia dan membuka peluang-peluang yang belum pernah terciptakan sebelumnya, sehingga ratusan, ribuan, bahkan jutaan informasi dapat kita peroleh setiap harinya.

Dulu, kalau perlu riset, kita perlu pergi ke perpustakaan untuk membaca buku-buku sumber, sekarang bisa lewat handphone. Dulu kalau kita mau transfer uang ke nasabah lain kita perlu datang ke bank, sekarang juga bisa lewat handphone. Dulu kalau mau kirim surat, kita harus tulis tangan dan pergi ke kotak pos. Surat bisa diterima sehari sampai 3 hari kemudian. Sekarang? Instan bisa dikirim dan diterima lewat handphone juga.

Ini membuat manusia modern semakin efisien dan membuat manusia modern semakin “available” dalam segala waktu. Manusia modern juga akibatnya semakin sibuk karena menerima serbuan informasi setiap harinya.

Gambaran keluarga modern?

Kita bisa lihat kalau kita pergi ke restoran, satu keluarga duduk dan masing-masing bukan melihat menu restoran atau saling bercakap-cakap melainkan melihat handphone masing-masing. Mereka boleh duduk bersama-sama di sofa dan menyetel TV, tetapi masing-masing sibuk dengan gadget masing-masing dan siaran TV pun tetap nyala tanpa ada yang menonton.

Tanpa kebijaksanaan, maka kemajuan teknologi bisa merampas komunikasi antar anggota keluarga dan juga bisa membuat anggota keluarga menjadi individualistis dan egois.

Anak-anak vs. gadgets!

Di keluarga saya, anak-anak juga tidak luput dari serangan teknologi dalam rupa gadgets, terutama iPad atau smartphone. Mereka asik bermain games dan nonton Youtube Kids. Lama kelamaan kami sebagai orang tua merasa ada yang tidak beres, saya setiap pulang kerja merasa risih melihat anak-anak tangannya menempel pada gadgets masing-masing setiap hari.

Games zaman sekarang mengajarkan anak-anak serta orang dewasa untuk tidak sabar menunggu. Games dibuat sedemikian rupa sehingga kita selalu pengen tahu apa kelanjutannya, kita selalu dibuat penasaran, kita dibuat amat penasaran sehingga kita tidak bisa lagi menunggu, sehingga kita harus membayar untuk melanjutkan game-nya. Memang ini trik dari marketing mereka, tetapi apa akibatnya kalau ini dimainkan tanpa wisdom? Anak-anak menjadi tidak sabar, selalu ingin melihat yang lebih wah, tidak bisa menunggu, numb atau kebal melihat hal-hal yang biasa. Ini bahaya bagi generasi anak-anak kita.

Para ahli bahkan menganjurkan agar anak-anak kita belajar untuk bosan.

Maksudnya adalah belajar untuk menghadapi kebosanan. Orang tua tidak dianjurkan untuk memberikan solusi yang cepat, seperti memberikan gadgets atau TV show agar anaknya tidak bosan. Justru anak kita harus diajarkan bagaimana cara menghadapi quietness atau kesepian dan kesunyian. Karena dalam kesepian ini, si anak dapat menemukan jati dirinya dengan eksperimen-eksperimen sendiri. Misalnya dengan membuat mobil-mobilan dari kardus, membangun lego, atau berinteraksi dengan orang lain dengan bermain permainan tradisional atau permainan yang diciptakan sendiri oleh mereka. Kebosanan membuka kesempatan-kesempatan baru dalam diri mereka, sehingga mereka bisa menemukan jati diri masing-masing. Sebaliknya, apabila mereka terus dihibur oleh TV shows, games di internet, maka mereka menjadi pasif, kurang sosial, dan egois.

Saya bersama istri juga telah melakukan hal yang sama seperti di atas, dan hasilnya pun juga sama dengan teorinya. Kami sekarang hanya memperbolehkan mereka main gadget saat libur saja dan mengajar mereka untuk enjoy saat bosan, enjoy the boredom. There is nothing wrong with boredom! Tidak ada yang salah dengan kebosanan! Sekarang nyatanya anak-anak kami lebih kreatif bermain dengan apapun sesuai imajinasinya. Mereka bermain bersama, tertawa bersama, menghadapi konflik yang biasa terjadi pada kakak-adik, dan mereka bosan bersama.

Apa rumus keluarga yang kuat?

Di zaman modern, ini diperlukan strong family value. Nilai keluarga yang kuat ini dimulai dari hubungan suami-istri. Saat hubungan suami-istri ini kuat, maka satu keluarga pun akan ikut kuat dan sebaliknya. Bagaimana mempunyai hubungan suami istri yang kuat? Tuhan sudah mempunyai rumus matematikanya. Kalian pasti pernah mendengar ayat yang berbunyi, “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” (Kej. 2:24).

Kalau ditulis dalam bahasa matematika: suami + istri = 1. Kalau suami kita beri nilai 1, dan istri juga kita beri nilai 1, sehingga kita bisa menjumlahkannya, bagaimana caranya agar 1 + 1 = 1? Jawabannya adalah suami/2 + istri/2 = 1 atau ½ + ½ = 1.

Maksudnya? Suami harus mengalah setengah dan istri harus mengalah setengah untuk menjadi satu. Suami harus mengosongkan diri setengah, dan istri juga harus mengosongkan diri setengah agar satu sama lain saling mengisi.  Kalau tidak demikian, maka perkawinan itu selalu 1 + 1 = 2 dan selalu “elo-elo, gue-gue” atau “maunya lo, maunya gw”. Sejarah telah membuktikan rumus matematikanya Tuhan paling cocok untuk perkawinan yang kuat!

Keluarga, Gereja kecil.

Selain itu, keluarga juga adalah Gereja kecil di tengah-tengah masyarakat. Yang namanya Gereja, di dalamnya harus ada pewartaan firman, puji-pujian, salam damai, amal kasih (charity), saling mengampuni, dan thanksgiving. Suami sebagai imam keluarga harus menjamin semua unsur di atas hadir dalam keluarga. Dalam keluarga, haruslah ada doa bersama, ucapan syukur bersama, saling mengampuni, dan amal kasih.

Hal-hal di atas bisa dengan mudah terlewat ketika kita terlalu melekatkan diri pada teknologi. Waktu yang seharusnya bisa kita pakai untuk berdoa bersama, bersama-sama beribadah dan mengucap syukur, atau bahkan melakukan pelayanan bersama sebagai sebuah keluarga, jadi terabaikan. Karenanya, jangan takut untuk mengalami kebosanan di dalam keluarga, karena kebosanan yang tercipta ketika kita tidak melekatkan diri pada teknologi, sesungguhnya bisa menciptakan kesempatan yang begitu baik untuk melekatkan keluarga kita sendiri!

About Ernest Basarah

Ernest Basarah aktif melayani orang muda sejak tahun 1997. Ia pernah bertanggung jawab sebagai Koordinator Muda-mudi Katolik Indonesia di Orange County, California, Amerika Serikat, lalu menjadi Head of Formation/Spiritual Ministry komunitas orang muda Indonesia di Keuskupan Los Angeles. Ernest yang pernah mengambil studi Kitab Suci selama 3 tahun di Catholic Bible Institute, Loyola Marymount University, menjadikannya seorang Certified Bible Study Facilitator di Keuskupan Los Angeles. Kalau ada waktu luang, ayah dari tiga orang anak ini bisa dicari di driving range, asyik bermain golf.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top