Kenapa Takut Bertempur dalam Doa?

Christ in Gethsemane, lukisan oleh Carl Heinrich Bloch (1834-1890, Denmark)

Dua kalimat.

Pertama: “Bapa, ambil cawan ini jauh-jauh dari-Ku.”
Kedua: “Bapa, terjadilah kehendak-Mu.”

Malam itu, di taman itu, dengan dua kalimat itu, Yesus mengubah sejarah manusia. Yesus berani blak-blakan, minta sejelas-jelasnya apa yang Ia mau. Tapi, Yesus juga bersikap seolah nggak ambil pusing yang diminta-Nya itu bakal dikabulin oleh Bapa-Nya atau nggak.

Gampangnya, Yesus bilang gini: “Bapa, kasih aku ini. Please, please, please, kabulin doaku.” Terus Yesus lanjutin gini: “Bapa, terserah deh, mau ngabulin doaku apa nggak.”

Di sini hebatnya Yesus. Seperti ini orang yang bertempur dalam doa. Ia nggak menyerah pada keadaan. Ia tahu apa yang Ia mau, dan Ia tahu apa yang penting bagi-Nya. Namun, Yesus juga tahu kalau apa yang Ia inginkan mungkin nggak sepenting rencana Bapa-Nya.

 

Kayak kontradiksi ya?

Mungkin banyak dari kita terjebak dalam kontradiksi. Ada yang bilang kalau dia beriman banget bahwa Tuhan tahu apa yang dia butuhin, sebetulnya nggak usahlah doa-doa segala minta ini-itu. Yang lain, doa terus, kasih ke Tuhan daftar panjang apa saja yang dia butuhin.

Emang gini kalau pertempuran doa dilihat sebagai kontradiksi. Tapi, ini bisa dilihat secara lain. Istilah kerennya: paradoks. Dari contoh doa Yesus di taman Getsemani di malam sebelum Ia disiksa, kita bisa lihat paradoks itu. Maksudnya gini: Hanya kalau elo bener-bener tahu apa yang elo butuhin, dan bener-bener minta itu ke Tuhan, elo bakal bisa bersikap nggak lagi peduli apa itu dikabulin apa nggak. Sekaligus juga, hanya kalau elo bener bisa bersikap seolah acuh tak acuh pada apa yang mau Tuhan kasih, elo bakal punya keberanian untuk bener-bener minta apa yang elo mau.

Mungkin kalau gaya in English, jadi gini:

Only when you can say ‘I really want it,’ you can also say ‘whatever God wants.’

Kalau elo nggak berani bilang elo butuh apa, karena elo sendiri nggak tahu maunya apa dari Tuhan, ucapan elo yang bilang “Gue sih terserah Tuhan aja” jadi nggak ada artinya. Elo bilang gitu karena elo takut bertempur dalam doa. Elo nggak mau lagi buat berdoa, karena elo kira sedang ngadepin kontradiksi, padahal sebenernya elo lagi diundang Tuhan buat memeluk erat-erat indahnya paradoks.

Nggak gampang, karena kita semua udah terlalu lama terjebak, seolah seluruh kenyataan hidup cuma selalu soal “ini” atau “itu”, cuma soal “hitam” atau “putih”, cuma soal “berdoa hanya kalau pas yakin pasti dikabulin” atau “nggak usah doa aja karena nggak jelas dikabulin apa nggak.” Yang kayak gini ini semua soal pola pikir “either or” sedangkan paradoks mau ngundang kita untuk masuk ke pola pikir “both and”. Artinya, yang “ini” iya, yang “itu” juga iya. Contohnya, ya tadi itu. Kita bertempur dalam doa, dan kita bilang yang “ini” (“Tuhan, please kabulin doaku ini, aku bener-bener tergantung pada ini”) dan juga yang “itu” (“Tuhan, terserah deh, mau ngabulin apa nggak”).

Mau contoh lain? Lihat aja, Yesus bilang, “yang kehilangan nyawa demi Aku, akan mendapatkannya.” Welcome to paradox! Jadi, gimana sekarang? Ya, kita harus terus berlatih. Mungkin elo takut bertempur dalam doa, karena elo ngerasa nggak nyaman ada dalam tegangan paradoks kayak ini. Tapi, mau gimana lagi, itu contoh pertempuran doa yang dijalanin oleh Yesus sendiri.

About Tano Shirani

Tano Shirani adalah lulusan program teologi Santa Clara University, California, Amerika Serikat. Sudah sejak lama, ia memiliki mimpi untuk ikut melayani orang muda melalui tulisan-tulisan rohani. Tano telah menerbitkan buku Namaku Lazarus: Merangkul Bisikan Kerahiman (Kanisius, 2016) dan Pendosa Jadi Pendoa: Gejolak Pertobatan Tujuh Pemazmur (Kanisius, 2017). Di tengah kesibukan menulis, menerjemahkan, dan menyunting berbagai tulisan, Tano juga melatih penulis-penulis rohani dalam komunitas Domus Cordis. Ia gemar melahap buku, dan sungguh percaya akan the power of words untuk mengubah dunia dan perjalanan seluruh sejarah umat manusia.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top