Masa Adven: What is The Big Deal?

Sebentar lagi kita akan memasuki masa Adven. Yang biasanya kita tahu, masa ini merupakan masa persiapan sebelum Natal, yakni saat dimana kita mempersiapkan hati untuk menerima Yesus yang diutus ke dunia. Memang betul dalam arti atau konteks yang umum, tetapi kita harus lebih meresapi lagi apa sih arti Adven yang terdalam dan mengapa kita penuh sukacita dalam masa Adven ini.

Tidak lepas dari salvation history (karya kesalamatan) secara menyeluruh dari Tuhan kita.

Saya berharap kita semua dalam keadaan baik, sehat, dan sukacita. Namun, tengoklah dunia di kanan dan kiri kita. Apakah kita melihat kemiskinan? Kesusahan? Ketidakadilan? Penindasan? Penyakit? Keputusasaan? Kita mungkin bersyukur karena kita tidak mengalami hal-hal di atas, tetapi bagaimana dengan saudara-saudari kita yang mengalaminya? Banyak orang yang sampai akhir hidupnya tidak mendapatkan keadilan. Ada yang sampai akhir hidupnya tetap miskin dan kesusahan. Ada orang yang sampai akhir hidupnya kesakitan, ada orang yang sampai akhir hidupnya tidak memperoleh haknya. Ibarat film, maka kehidupan mereka seperti sebuah film yang belum tuntas atau belum selesai, penonton masih mengharapkan happy ending.

Apakah hidup ini begitu tidak adil? Kalau iya, buat apa susah-susah dilahirkan? Mungkin mereka yang mengalami kesusahan banyak yang berpikir demikian—buat apa lahir kalau hanya hidup susah dan tertindas. Lahir di daerah konflik atau perang, misalnya.

Kita semua merindukan sosok yang bisa memerdekakan kita dari segala kesusahan di atas.

Bahkan, kita merindukan sosok yang bisa mengalahkan kematian. Musuh utama manusia adalah kematian. Telah berabad-abad lamanya, orang berusaha memperlambat kematian atau menghilangkan kematian. Kebetulan, saya pernah bekerja selama lima tahun di perusahaan bioteknologi yang melakukan penelitian cryopreservation—teknik pengawetan menggunakan nitrogen cair—yang berusaha menemukan jalan untuk “memperpanjang” kehidupan seratus atau dua ratus tahun lebih panjang. Contoh, apabila seseorang terkena kanker ganas dan belum ada obatnya, maka orang ini bisa di vitrifikasi (berada dalam keadaan inanimasi pada suhu yang sangat rendah, atau “dibekukan”) dan menunggu sampai teknologi kedokteran di masa mendatang bisa menyembuhkan kanker yang dideritanya. Sebagian dari mereka malah ada yang melakukan penelitian untuk memperpanjang kehidupan selama-lamanya.

Sosok yang kita tunggu-tunggu itu adalah māšîaḥ (dalam bahasa Ibrani), yang kita sering dengar dengan sebutan “Mesias”, artinya “yang diurapi”. Mesias ini adalah seorang yang akan memerdekakan kita dari kesusahan-kesusahan dunia ini. Dia yang akan datang untuk memerdekakan kita adalah Dia yang diurapi oleh Allah. Siapakah Dia? Tidak lain dan tidak bukan adalah Yesus Kristus, yang saat dipermandikan di sungai Yordan, Allah berkata, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Matius 3:17). Nama-Nya pun menyiratkan misi-Nya. Nama Yesus berasal dari kata Ibrani Yēšū́a yang artinya “menyelamatkan”! Jadi Siapa yang kita tunggu dalam masa Adven ini? Kita menunggu Dia yang diurapi oleh Tuhan, yang akan menyelamatkan kita!

Teman, jangan putus asa!

Hidup memang kadang-kadang susah, atau bahkan seringkali susah. Mungkin kita gagal dalam relationship, mungkin kita gagal dalam berkeluarga, mungkin kita gagal dalam pendidikan, gagal dalam finansial. Atau mungkin kita menderita sakit, mengalami penindasan—baik di tempat kerja atau di dalam keluarga sendiri. Mungkin kita mengalami ketidakadilan, semuanya itu menyakitkan! Namun, dalam semua peristiwa itu, kalau kita percaya kepada Dia yang telah datang, yang sedang datang, dan yang akan datang lagi, maka Dialah jawaban dari segala permasalahanmu!

Ingat peristiwa saat Yesus hendak dilahirkan? Bunda Maria dan Santo Yosef berkeliling mencari-cari tempat penginapan? Bunda Maria telah hamil tua. Bayangkan kalau hal itu terjadi pada kita, istri hamil tua dan mencari-cari rumah sakit untuk melahirkan, tapi semua kamar penuh. Walaupun kita sekarang punya mobil, tidak lagi menunggang hewan, keadaaan seperti itu membuat kita stres dan lelah. Pada masa itu, Bunda Maria pergi menunggang hewan lainnya untuk menghindari Raja Herodes yang mengincar bayinya. Mereka kesulitan mencari tempat untuk melahirkan, karena semua kamar penuh. Pada akhirnya, Bunda Maria melahirkan di kandang domba, dan Yesus dilahirkan di palungan, yaitu tempat makan hewan (manger).

Dalam masa Adven ini, maukah kita menjadi the manger—tempat bayi Yesus diletakkan di dalamnya? Bunda Maria dan Santo Yosef terus mencari tempat agar Anak mereka bisa dibaringkan, maukah hati kita menjadi tempatnya? Kalau iya, sudah selayaknya kita bersih-bersih, agar hati kita layak menjadi pembaringan Sang Bayi. Masa Adven ini adalah saatnya kita membersihkan hati kita. Sosok bayi adalah sosok yang rentan dan memerlukan tempat yang bersih, karena daya tahan tubuhnya masih lemah. Maka dari itu, kita harus serius “bersih-bersih” hati kita agar Dia mendapatkan tempat yang layak.

Tuhan, memang aku tidak bisa membalas kebaikan-Mu, tetapi, setidaknya, aku membuka hatiku untuk-Mu biar Kau dibaringkan dan diberi kehangatan di dalamnya. Terima kasih Engkau telah menyelamatkan aku!

About Ernest Basarah

Ernest Basarah aktif melayani orang muda sejak tahun 1997. Ia pernah bertanggung jawab sebagai Koordinator Muda-mudi Katolik Indonesia di Orange County, California, Amerika Serikat, lalu menjadi Head of Formation/Spiritual Ministry komunitas orang muda Indonesia di Keuskupan Los Angeles. Ernest yang pernah mengambil studi Kitab Suci selama 3 tahun di Catholic Bible Institute, Loyola Marymount University, menjadikannya seorang Certified Bible Study Facilitator di Keuskupan Los Angeles. Kalau ada waktu luang, ayah dari tiga orang anak ini bisa dicari di driving range, asyik bermain golf.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top