Masih Nekad Bikin Tanda Salib?

Ada sensasi yang sulit dirumuskan dengan kata-kata. Pemain sepakbola pujaanku itu masuk ke lapangan dengan membuat tanda salib. Setelah mencetak gol, ia langsung membuat tanda salib. Rasanya langsung ada ikatan batin antara aku dengan dia. Sensasi yang serupa kurasakan juga ketika sedang makan di sebuah resto, dan orang di meja sebelah berdoa dengan membuat tanda salib. Seketika rasanya ada tembok pemisah yang langsung hancur berkeping-keping. Wow, pemain bola itu orang Katolik. Wow, yang makan di meja sebelah itu orang Katolik.

Yang Kita Yakini

Dalam acara-acara Katolik sering kita dengar orang mengawali doa dengan sebuah ajakan, “Mari kita awali dengan tanda kemenangan Kristus,” atau “Mari kita tandai diri kita dengan tanda kemenangan Kristus,” atau rumusan lain yang serupa. Ketika mendengarnya, kita segera menggerakkan tangan kita. Sayangnya, ada hal penting yang kurang diperhatikan oleh banyak orang Katolik. Saat membuat tanda salib, kita sebenarnya mengatakan, “Dalam nama Bapa, dalam nama Putra, dalam nama Roh Kudus.” Kita pun menegaskan kembali keyakinan kita dengan mengatakan “Amin.”

Tak diragukan lagi, sebuah nama mampu menghadirkan seluruh realitas pribadi yang namanya kita sebut. Jadi, setiap kali membuat tanda salib, kita tidak hanya menandai diri kita dengan tanda kemenangan Kristus. Dengan membuat tanda salib, berarti kita juga menandai diri kita dengan sebuah keyakinan kokoh yang berakar dalam NAMA Bapa, NAMA Putra, dan NAMA Roh Kudus. Identitas orang Katolik diperlihatkan dengan membawa seluruh kerapuhan kita sebagai manusia dan menyatukannya dengan seluruh daya ilahi yang terkandung dalam NAMA Bapa, NAMA Putra, dan NAMA Roh Kudus. Dengan kata lain, kita menandai diri kita dengan seluruh kepenuhan Allah Tritunggal.

Kenekadan Iman

Betapa nekadnya kita orang Katolik ini, yang berani-beraninya tiap kali sebelum dan sesudah berdoa menandai diri kita dengan seluruh kepenuhan realitas Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus. Dengan itu, kita memperbarui lagi tekad kita untuk bermurah hati, agar segala keterbatasan kita sebagai manusia dilebur dalam kesempurnaan kesatuan cinta Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus. Kenekadan seperti ini tak ubahnya dengan ulah seorang rakyat jelata yang tak berpendidikan, tetapi selalu mengenakan sederet gelar bangsawan di depan namanya dan gelar akademis segambreng di belakang namanya. Itulah kenekadan iman yang terus kita perbarui saat membuat tanda salib, tanda Tritunggal.

Jika memang kita berada dalam situasi yang memang akan sangat bijaksana untuk tidak menggerakkan tangan kita dan membuat tanda salib yang terlihat, kita tetap mengawali dan mengakhiri doa kita dengan rumusan yang sama. Yang mendorong kita untuk membuat tanda salib bukan hanya keyakinan kita akan salib Kristus sebagai tanda kemenangan. Kita membuat tanda salib, karena dengan itu kita juga kembali mengingatkan diri kita dengan tanda Tritunggal. Maka, coba saja belajar mengubah ajakan untuk berdoa dengan berkata seperti ini: “Mari kita memperbarui kembali kenekadan kita untuk dilebur di dalam kesempurnaan dan kepenuhan Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus. Mari kita kembali lagi ke dalam kesatuan cinta sempurna Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus. Mari kita memberi kesaksian sebagai manusia-manusia rapuh yang ditopang dan dimampukan oleh kepenuhan daya ilahi Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus.”

Selamat nekad di Hari Raya Tritunggal Mahakudus!

About Tano Shirani

Tano Shirani adalah lulusan program teologi Santa Clara University, California, Amerika Serikat. Sudah sejak lama, ia memiliki mimpi untuk ikut melayani orang muda melalui tulisan-tulisan rohani. Tano telah menerbitkan buku Namaku Lazarus: Merangkul Bisikan Kerahiman (Kanisius, 2016) dan Pendosa Jadi Pendoa: Gejolak Pertobatan Tujuh Pemazmur (Kanisius, 2017). Di tengah kesibukan menulis, menerjemahkan, dan menyunting berbagai tulisan, Tano juga melatih penulis-penulis rohani dalam komunitas Domus Cordis. Ia gemar melahap buku, dan sungguh percaya akan the power of words untuk mengubah dunia dan perjalanan seluruh sejarah umat manusia.





3 comments on Masih Nekad Bikin Tanda Salib?

  1. Aris says:

    Benarkah penyebutan Allah Bapa, Allah Putra, Allah Roh Kudus? Jadi 3 Allah?
    Setahu saya penyebutannya Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus untuk menyatakan ketiganya sebagai entitas Allah yang tunggal (Esa).

  2. Luar Biasa.
    Terpujilah Nama Tuhan!

  3. Jinov says:

    Penyebutannya sudah benar, Pak Aris. Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Roh Kudus menunjukkan 3 Pribadi Allah. Bukan entitas nya yang menjadi 3.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top