Maunya Tuhan yang mana sih? Simak cara praktis berdasarkan metode diskresi St. Ignasius Loyola

Kita selalu mau hal yang terbaik dalam hidup kita. Kita juga tahu bahwa Tuhan lebih tahu soal yang terbaik. Masalahnya, kita suka bingung mendengar suara Tuhan, dan kita ingin mendapatkan tanda-tanda nyata, apakah itu ke kiri atau kekanan, sebelum kita melangkah. Kenyataannya tidak semudah yang kita harapkan. Dalam situasi seperti ini, iman kita berperan penting.

Beriman artinya mengetahui bahwa jika kita sudah berusaha yang terbaik untuk mengikuti kehendak Tuhan, dalam situasi apapun, Tuhan masih memegang kendali atas hidup kita, sehingga ketika kita mau melangkah, kita bisa melangkah dengan lega. Kita percaya kepada prinsip pentingnya, yaitu Tuhan yang menyertai kita, walaupun langkahnya belum terlihat jelas. Ibarat seseorang yang berpergian ke kota yang belum pernah dikunjungi sebelumnya dengan membawa sebuah peta. Kota itu sudah dipastikan ada, tetapi ini adalah kali pertama orang itu berkunjung dengan menggunakan peta tersebut. Ada rasa deg-degan, “Nyampe nggak yah?” Atau merasa, “Ini jalannya bener atau salah?” St. Paulus berkata, “… sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat,” (2 Korintus 5:7).

Belajar dari pengalaman-pengalaman Santo Ignatius Loyola mengenai diskresi (dalam bahasa Inggris, “discernment”), yaitu usaha untuk mengenali kehendak Tuhan melalui gerak-gerik batin kita, ada beberapa hal-hal praktis yang bisa kita rangkum dan praktikkan, supaya kita bisa menjadi manusia terbaik sesuai dengan panggilan kita masing-masing. Yuk, simak poin-poin di bawah ini yang akan membantu kita berjalan dalam kehendak Tuhan.

1. Keterbukaan

Waktu kita berdoa kepada Tuhan agar Ia menunjukkan yang terbaik, kita harus punya sikap terbuka dan tidak ada syarat. Artinya kita mungkin menginginkan suatu hal, tetapi kita tetap memilih untuk rela berganti pilihan ketika Tuhan menginginkan hal tersebut dikerjakan secara berbeda di dalam hidup kita. Sebagai contoh, jika kita berdoa untuk mendapatkan pekerjaan yang terbaik, walaupun kita mungkin berdoa agar diterima di dalam kota, kita perlu terbuka akan kemungkinan diterima di luar kota.

2. Keberanian

Seringkali kita takut untuk membuat pilihan tertentu karena tidak tahu apa yang akan terjadi di ujung jalan sana. Karena takut, kita membuat banyak syarat yang harus Tuhan penuhi. Kita perlu melepas kendali kehidupan kita, dan membiarkan Tuhan yang memegang kendali. Masalahnya, kadang kita selalu ingin memegang stir. Di sinilah kita harus berani melepaskannya, dan memberikannya kepada Tuhan.

3. Kemurahan hati

Untuk mengikuti kehendak Tuhan, kita membutuhkan kemurahan hati. Mungkin ada yang dikorbankan, tetapi itu semua harus dilakukan kalau kita mau dituntun Tuhan untuk menjadi yang terbaik. Sebagai contoh, kadang kita perlu memberikan waktu, tenaga, uang, ketika Tuhan memanggil kita untuk melayani anak-anak-Nya yang berkekurangan.

4. Kebebasan

Jiwa kita harus bebas untuk memilih.  Kadang, kita condong untuk memilih hal-hal tertentu, bukan dengan bebas karena tulus menginginkan hal tersebut, melainkan karena ada keterikatan atau ketakutan-ketakutan di belakang kita. Sebagai contoh, kita memilih pekerjaan karena alasan yang terutama gaji yang lebih besar, bukan karena kita memang menyukai pekerjaan tersebut, sebagai akibat dari ketakutan finansial yang sering membayangi kita.

St. Ignasius Loyola memberikan contoh tentang 3 tipe orang dalam mengambil keputusan:

  1. Orang yang terlalu banyak pertimbangan, akhirnya tidak atau telat memutuskan, karena sibuk dengan hal-hal yang lain selain dari Tuhan.
  2. Orang yang sibuk melakukan berbagai macam hal, tetapi hal yang terpenting luput dari perhatiannya atau tidak berani dikerjakan. Dikerjakan kalau mudah saja dan tidak banyak tantangan.
  3. Orang yang benar-benar bebas yang berani memutuskan sesuai kehendak Tuhan, biarpun itu bukan sesuai rencana dia awal mulanya. Jadilah orang yang seperti ini.

5. Rajin berdoa

Tak kenal maka tak sayang.  Kalau seseorang jarang berdoa, ia akan mengalami kesulitan untuk mengenal karakter Tuhan dan sifat-sifat-Nya. Sama halnya jika kamu jarang ngobrol dengan temanmu, kamu tidak akan bisa dekat dengan dia. Dengan semakin sering berdoa, seseorang akan mengenali sifat-sifat Tuhan dan kehendak-Nya yang Ia inginkan untuk kita jalani.

6. Tujuan

Ketika kita berdoa kepada Tuhan untuk memohon sesuatu, kita perlu tujuan yang jelas, sesuai dengan panggilan kita. Panggilan kita yang terutama adalah untuk mengenal dan mencintai Tuhan dengan segenap pikiran, hati, jiwa, dan kekuatan kita, dan mengasihi sesama seperti Tuhan telah mengasihi kita. Semuanya dalam hidup kita berputar pada prinsip ini. Jadi, ketika mendoakan sesuatu, kita perlu melihat apakah yang kita doakan sesuai dengan tujuan ini atau tidak. Sebagai contoh, kalau berdoa supaya menang lotre, kita harus berpikir, apakah hal itu untuk Tuhan dan sesama, atau bukan? Kalau hanya untuk diri kita sendiri, maka hal ini sudah jelas tidak sesuai dengan panggilan kita yang utama. 

7. Prioritas

Beberapa orang bingung dengan prioritas hidupnya karena masih belum mengerti akan tujuan hidupnya, seperti di poin nomor 6. Sebagai contoh, kadang orang suka berkata, “Nanti kalau sudah kaya dan sukses, baru saya mau melayani dan menyumbang banyak orang-orang miskin.” Orang ini tidak sadar bahwa prioritas pertama hidupnya adalah kaya dan kedua adalah amal, pelayanan, dan Tuhan. Padahal, kalau kita melihat poin no. 6 di atas, prioritas pertama adalah Tuhan, bukan diri sendiri menjadi kaya.  Jadi, prioritasnya harus diubah. Kita bisa beramal sambil bekerja untuk sukses, sehingga Tuhan selalu ada di nomor satu dalam segala sesuatu yang kita kerjakan.

Catatan akhir

Proses diskresi digunakan bukan untuk memilih good (baik) vs evil (jahat), tetapi untuk memilih mana yang good (baik) dan mana yang God (Tuhan), artinya dari antara dua pilihan yang baik itu, yang mana yang Tuhan kehendaki.

Namun, keberhasilan dari proses diskresi pertama-tama bukanlah mendapatkan jawaban pasti mengenai hal yang harus kita pilih. Terkadang, dalam prosesnya, kita menemukan bahwa kita masih memiliki banyak sekali keterikatan di dalam hidup, yang membuat kita tidak bebas untuk memilih. Jika kita menemukan hal-hal tersebut, kita bisa belajar untuk melepaskannya dengan bantuan rahmat Tuhan. Maka, diskresi berhasil ketika kita bisa membuat pilihan-pilihan yang menjadi respon cinta kita terhadap Tuhan, ketika diri kita bisa menjadi lebih dekat dengan Tuhan.

Silakan mencoba!

About Ernest Basarah

Ernest Basarah aktif melayani orang muda sejak tahun 1997. Ia pernah bertanggung jawab sebagai Koordinator Muda-mudi Katolik Indonesia di Orange County, California, Amerika Serikat, lalu menjadi Head of Formation/Spiritual Ministry komunitas orang muda Indonesia di Keuskupan Los Angeles. Ernest yang pernah mengambil studi Kitab Suci selama 3 tahun di Catholic Bible Institute, Loyola Marymount University, menjadikannya seorang Certified Bible Study Facilitator di Keuskupan Los Angeles. Kalau ada waktu luang, ayah dari tiga orang anak ini bisa dicari di driving range, asyik bermain golf.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top