Melamun di Depan Kotak

Di mata orang luar mungkin terlihat aneh. Orang Katolik bisa duduk, mata tertutup, kepala tertunduk, membungkuk ke lantai, berlutut, membuka mata, dan menatap sebuah kotak! Ada kotak kayu, ada kotak logam berlapis emas, ada kotak sederhana, ada kotak mahal, ada kotak polos, ada kotak berbatu pualam. Lebih mengejutkan lagi, seraya menatap kotak itu, orang Katolik kadang tersenyum sendiri, menangis sendiri, komat-kamit sendiri, bersenandung sendiri, bahkan berujar dengan suara-suara yang tak bisa pahami!

Ini bukan sembarang kotak. Ada sejarah panjang sejak peristiwa di Sinai. Setelah mendapat perintah terperinci, setelah penyembahan berhala Lembu Emas, setelah perjanjian diperbarui, Musa menaati perintah untuk membuat kemah tempat kediaman Tuhan. Setelah siap, Tuhan melakukan sebuah perjalanan besar untuk akhirnya masuk ke tempat kediaman-Nya itu di tengah umat-Nya.

Sejarah Kotak

Dalam bahasa Ibrani dikenal kata kerja shākan, yang artinya “menempati tempat kediaman,” “menetap,” “berdiam.” Karena itu, tempat kediaman Tuhan dinamakan mishkan. Menyadari bahwa nama YHWH adalah kudus, mereka tak mengucapkannya. Salah satunya adalah dengan menyingkatnya menjadi yah. Ketika ingin berkisah bahwa “Tuhan menempati tempat kediaman-Nya,” mereka akan berkata, shakan yah. Setelah peristiwa shakan yah itu, kemuliaan Tuhan memenuhi kemah tempat kediaman-Nya (lih. Keluaran 40:34-38). Kalimat shakan yah dalam prosesnya melahirkan istilah shekinah, yang kerap diartikan sebagai “kemuliaan Tuhan.”

Injil Yohanes menjelaskan datangnya Yesus ke dunia, sebagai Allah yang menjadi manusia, dengan mengatakan ini: “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya” (Yohanes 1:14a). Kata “diam” dalam bahasa Yunani di ayat itu adalah kata kerja yang berasal dari kata benda skēnē, yang berarti “kemah.” Secara harfiah, ayat itu berbunyi, “Firman telah memancang kemah di antara manusia.” Kata Yunani skēnē itu adalah padanan untuk kata Ibrani mishkan (bahkan bunyinya punya kemiripan).

Kata Ibrani mishkan, dan kata Yunani skēnē, kemudian diterjemahkan dalam bahasa Latin sebagai tabernaculum. Dari sanalah kita punya kata tabernakel. Inilah nama yang kita pakai untuk menyebut “kotak” itu. Misteri Inkarnasi bisa disebut sebagai peristiwa “Allah yang bertabernakel di tengah manusia.”

Dalam perjalanan Gereja, semula “Tubuh Kristus” disantap seluruhnya dalam tiap perayaan Ekaristi. Kemudian disadari, bahwa ada orang sakit yang tidak bisa hadir. Maka, muncullah kebiasaan untuk “menyimpan” sebagian Tubuh Kristus agar bisa diantar ke oang sakit. Demikianlah, sejarah panjang tabernakel mendapat arti yang baru. Ini bukan sembarang kotak. Ini ruang Mahakudus, tempat Yesus sendiri berdiam secara nyata, dalam rupa Tubuh-Nya.

Orang Katolik dan Kotak

Mungkin di dalam tubuh Kekristenan, hanya orang Katolik yang bersikukuh mempertahankan sejarah panjang Kemah Suci, mishkan, skēnē, tabernaculum, tabernakel, hingga hari ini. Ada kisah panjang yang sedang didengar oleh orang Katolik dari dalam “kotak” itu, yakni kisah perjalanan Tuhan yang selalu menyertai umat-Nya, melalui berbagai ketidaksetiaan, kegagalan, kesalahan, dan kekerasan hati manusia. Pada hari Kamis Putih, untuk “tuguran” atau “berjaga” bersama Yesus yang berduka di Taman Getsemani, di beberapa tempat bahkan ditakhtakan Tubuh Yesus dalam rupa Roti, dan Darah Yesus dalam rupa Anggur. Orang Katolik pun semakin terlihat “aneh” menatap itu semua. Namun, itulah identitas kita; itulah kebanggaan kita; itulah keseriusan kita terhadap perjalanan panjang Tuhan sendiri.

Selamat Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus!

About Tano Shirani

Tano Shirani adalah lulusan program teologi Santa Clara University, California, Amerika Serikat. Sudah sejak lama, ia memiliki mimpi untuk ikut melayani orang muda melalui tulisan-tulisan rohani. Tano telah menerbitkan buku Namaku Lazarus: Merangkul Bisikan Kerahiman (Kanisius, 2016) dan Pendosa Jadi Pendoa: Gejolak Pertobatan Tujuh Pemazmur (Kanisius, 2017). Di tengah kesibukan menulis, menerjemahkan, dan menyunting berbagai tulisan, Tano juga melatih penulis-penulis rohani dalam komunitas Domus Cordis. Ia gemar melahap buku, dan sungguh percaya akan the power of words untuk mengubah dunia dan perjalanan seluruh sejarah umat manusia.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top