Mengapa kita menyerukan Hosana dan Aleluya?

Tolong selamatkan!

“Tolong selamatkan aku! Tolong selamatkan kami! Tolong selamatkan . . .” Itu seruan tak berdaya. Jika tak ada yang datang untuk menyelamatkan, orang akan mati. Seruan “Tolong selamatkan…” dalam bahasa Ibrani adalah hosia-na. Dalam perjalanan waktu, seruan kita kepada Tuhan yang berisi ungkapan minta tolong akhirnya menjadi seruan pujian kepada Tuhan sebagai Sang Penyelamat.

Ketika Yesus masuk Yerusalem, orang-orang berseru. “Hosana! Hosana! Hosana!” Dengan kata Hosana itu, kita juga mengakui, bahwa Tuhan telah datang untuk menyelamatkan kita, dan cara hidup kita yang baru sebagai orang-orang yang telah diselamatkan itu menjadi pujian bagi Tuhan. Tanpa cara hidup yang baru, kata Hosana tak lagi punya isi.

Hai, kamu sekalian, pujilah!

Di Bait Allah, pemimpin ibadat berseru, “Hai, kamu sekalian, pujilah . . .” Dalam bahasa Ibrani, seruan itu adalah hallelu. Yang menjadi sasaran pujian adalah Tuhan, yang dalam bahasa Ibrani adalah nama suci Yahweh, yang disebut sepenggal pertama saja sebagai Yah. “Hai kamu sekalian, pujilah Tuhan!” dalam bahasa Ibrani berbunyi hallelu-Yah.

Seruan ajakan hallelu-Yah itu dalam perjalanan waktu menjadi pujian kepada Tuhan. Kita menyerukan Aleluya, karena kita sungguh ingin memusatkan perhatian hanya pada Tuhan, terlepas dari kenyataan apakah Tuhan telah melakukan sesuatu yang khusus bagi kita atau tidak. Ini adalah ungkapan tulus dari manusia yang terpana pada kenyataan Tuhan yang Mahakuasa.

Tiap kali kita berseru Aleluya, sebenarnya kita mengatakan sebuah janji, “Apa pun pengalaman hidupku, apa pun yang telah dilakukan oleh Tuhan, apakah doaku dikabulkan atau tidak oleh Tuhan, aku akan tetap mengagumi Tuhan yang Mahakuasa yang melampaui kemampuanku untuk memahami-Nya.”

Singkatnya, Aleluya bukanlah seruan mudah. Kata ini adalah sebuah seruan penuh komitmen batin untuk selalu terpesona pada Tuhan.

Memuji Tuhan - Inspire Young People

Tradisi Katolik, masa Prapaskah

Dalam tradisi liturgi Katolik, selama masa Prapaskah kita sengaja tidak mengucapkan kata Aleluya. Pada hari raya Paskah ada seruan Aleluya yang agung (yang sayangnya sering tidak terungkap karena imam yang memimpin perayaan tidak bisa melantunkannya secara indah dan tepat).

Namun demikian, kita menahan kata Aleluya bukan hanya supaya kita bisa menyerukan Aleluya itu secara meriah. Selama kita tidak mengucapkan kata Aleluya, kita diundang untuk kembali ke kenyataan diri kita. Apakah aku sungguh siap mengucapkan kata Aleluya? Apakah aku siap untuk kembali membuat komitmen tegas, bahwa apa pun yang dilakukan oleh Tuhan dalam hidupku, aku akan tetap menyadari kekecilanku, dan aku akan tetap terkagum-kagum pada Tuhan?

Hosana dan Aleluya

Kedua kata ini merupakan kata-kata yang padat dengan komitmen pada kerendahan hati di hadapan Tuhan yang tindakan-Nya kadang tidak kita pahami. Bangsa Israel berseru hosia-na, berharap bahwa sang pembebas yang dinantikan akan datang dengan kekuatan tak tertandingi. Ternyata, Yesus mati disalibkan, agar bisa menaklukkan kematian. Dengan menyerukan Hosana, kita mengatakan kepada Tuhan bahwa kita ingin hidup sebagai orang-orang yang telah diselamatkan dan terus bersedia ditolong dengan cara Tuhan, bukan cara kita.

Bangsa Israel mendengar ajakan hallelu-Yah untuk mengungkapkan kekaguman akan Tuhan yang mahadahsyat. Ternyata, Tuhan merelakan diri untuk memperlihatkan kekuasaan dan kedahsyatan-Nya dengan mengosongkan diri agar dengan itu muncul sebagai pemenang. Dengan menyerukan Aleluya, kita memperbarui kemampuan kita untuk tetap terkagum-kagum pada Tuhan, apapun yang Tuhan lakukan terhadap kita.

Apakah Hosana-mu dan Aleluya-mu masih punya bobot komitmen penting itu?

About Tano Shirani

Tano Shirani adalah lulusan program teologi Santa Clara University, California, Amerika Serikat. Sudah sejak lama, ia memiliki mimpi untuk ikut melayani orang muda melalui tulisan-tulisan rohani. Tano telah menerbitkan buku Namaku Lazarus: Merangkul Bisikan Kerahiman (Kanisius, 2016) dan Pendosa Jadi Pendoa: Gejolak Pertobatan Tujuh Pemazmur (Kanisius, 2017). Di tengah kesibukan menulis, menerjemahkan, dan menyunting berbagai tulisan, Tano juga melatih penulis-penulis rohani dalam komunitas Domus Cordis. Ia gemar melahap buku, dan sungguh percaya akan the power of words untuk mengubah dunia dan perjalanan seluruh sejarah umat manusia.





2 comments on Mengapa kita menyerukan Hosana dan Aleluya?

  1. Japinson Sinaga says:

    Jika mengandung makna yang agung, lalu kenapa tidak mempertahankan kata aslinya / asalnya?
    Dalam keseharian hosia-na menjadi hosana, hosanna. Dan hallelu-Yah menjadi halleluya, alleluya, hallelujah.
    Apa artinya tidak menjadi bias dari maksud awal..?
    Terima kasih

    1. Tano Shirani says:

      Halo, Japinson. Terima kasih untuk tanggapannya. Untuk memahami hal tersebut, kita perlu melihat beberapa hal.

        Pertama, salah satu gejala bahasa adalah perubahan menuju cara penulisan dan pengucapan yang lebih mudah. Misalnya, kata kwalitas sekarang dibakukan menjadi kualitas.
        Kedua, serapan dari kosa kata asing akan mengalami perubahan dalam penulisannya seturut cara kata itu diucapkan dalam bahasa setempat. Demikianlah, kata dari bahasa Belanda untuk bagian-bagian mobil kita kenal dalam penulisan dan pengucapan gaya Indonesia. Misalnya, kopling dan persneling. Seluruh realitas objek yang dirujuk tidak berubah sedikit pun dengan penyesuaian penulisan dan pengucapannya.
        Ketiga, Yang Ilahi memiliki kekuasaan dan keagungan melampaui bahasa manusia. Perubahan cara penulisan dalam berbagai bahasa tidak mengurangi sedikit pun keagungan dan kekuasaan Yang Ilahi. Misalnya, Iesus (Latin), Gesù (Italia), Jesus (Inggris), Yesus (Indonesia).
        Keempat, beberapa bahasa tidak mengenal huruf “h”. Demikianlah, hosia-na, yang menjadi hosana (Indonesia) atau hosanna (Inggris), dalam bahasa Italia adalah osanna. Gejala serupa terjadi juga dengan hallelu-Yah. Bahasa Latin tidak mengenal huruf ‘h’ dan huruf ‘y’, sehingga halleluyah menjadi alleluia. Dua huruf ‘l’ dalam beberapa bahasa disederhanakan menjadi satu ‘l’ saja. Kita memiliki aleluya dalam bahasa Indonesia.
        Kelima, bahasa dalam liturgi, yang membawa manusia berkontak dengan Yang Ilahi memiliki keluhuran tersendiri. Dalam Gereja Katolik, dulu semua liturgi dilakukan hanya dalam bahasa Latin. Sekarang semua bisa dilakukan dalam bahasa setempat. Perdebatan tentang apakah bahasa Latin lebih sakral daripada bahasa setempat masih berlanjut hingga detik ini.

      Demikian. Semoga pertanyaannya terjawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top