Mengapa Tuhan kadang terasa kejam, kadang terasa baik? (Bagian 1 dari 3)

Tuhan itu kejam, hakim galak, suka menuntut ini-itu, menunggu sampai kita bersalah dan selalu siap menghukum. Tuhan itu baik, manis, lembut, sabar, tidak pernah marah, selalu mengampuni, tidak menuntut, penuh pengertian. Kita bingung. Tuhan itu sebenarnya seperti apa? Satu bagian dalam kisah penciptaan bisa sedikit memberi terang.

Siapakah “penolong yang sepadan”?

Adam and Eve in the Garden, Lucas Cranach the Elder

Setelah menciptakan Adam, dalam Kejadian 2:18 Tuhan mengatakan dua hal. Pertama, “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja.” Kedua, “Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Kita mulai dengan yang kedua.

Dalam bahasa Ibrani, “penolong yang sepadan dengan dia” adalah ezer kenegdo.

Kata ezer berarti “penolong.” Bayangkan saja seseorang yang selalu hadir di dekatmu, yang siap sedia membantumu untuk bersama melakukan apa yang tidak mampu kamu lakukan seorang diri, bahkan yang bisa melakukan sendiri apa yang sama sekali tidak bisa kamu lakukan. Itulah ezer. Itulah penolong yang melengkapimu saat kemampuanmu terbatas.

Ungkapan kenegdo tidak mudah diterjemahkan. Dalam bahasa Ibrani kata ini terbentuk dari gabungan tiga kata. Ada gambaran tentang kesetaraan, ada gambaran tentang tindakan berhadapan atau berada di depan. Dalam arti ini, bagian kenegdo menunjuk pada peran orang lain yang bisa dan berani memberi pertanyaan kepadamu, membantu meluruskan jalan pikiranmu, mempertajam pertimbanganmu, bahkan memberi kritik pedas jika ada yang salah. Singkatnya, bagian kenegdo bisa kita terjemahkan menjadi “penantang.”

Tuhan memberi Adam seorang “penolong” yang setara, yang juga berperan sebagai “penantang.” Seorang “penolong-penantang” itu adalah Hawa. Panggilan hidup Hawa adalah untuk menjadi “penolong-penantang” bagi Adam, ezer kenegdo. Demikian pula, Adam dipanggil untuk menjadi “penolong-penantang” bagi Hawa, yang dalam bahasa Ibrani akan berbunyi ezer kenegdah.

Mengapa tidak baik seorang diri?

Tuhan melihat bahwa tidaklah baik jika Adam dibiarkan seorang diri. Ada dua hal di sini. Pertama, Tuhan saja belumlah “cukup” bagi Adam untuk bisa hidup secara penuh. Dengan segala kekuasaan-Nya, Tuhan menyadari bahwa Ia tidak bisa menjadi segalanya bagi Adam. Artinya, Tuhan membatasi kekuasaan-Nya sendiri. Kedua, yang lebih penting, Tuhan melihat bahwa Adam perlu “dibatasi.” Kalau dibiarkan seorang diri saja, Adam bisa gegabah melakukan apa pun yang ia mau. Ini jelas tidak baik bagi Adam. Ia perlu dibatasi oleh orang lain yang bisa “menolong” sekaligus “menantang” sesuai dengan situasi nyata yang ada.

Gagal sejak awal

Adam and Eve, Lucas Cranach the Elder

Adam gagal sebagai ezer kenegdah bagi Hawa. Ketika Hawa sedang digoda oleh ular yang licik, Adam tidak menolong Hawa. Ia diam saja, sama sekali tidak menolong Hawa. Adam juga tidak menantang Hawa yang sedang berpikir untuk mengambil buah terlarang. Ia membiarkan Hawa terjerumus. Demikian pula, Hawa gagal menjadi ezer kenegdo bagi Adam. Bukannya menolong, Hawa bahkan memberi buah itu kepada Adam. Hawa tidak pula menantang Adam dengan kritik dan pertanyaan yang membangun.

Lebih parah lagi, Adam dan Hawa tidak menyadari bahwa kegagalan mereka dalam menjadi “penolong-penantang” membawa akibat serius. Gema kegagalan itu terus kita rasakan dan kita alami hingga hari ini. Banyak persoalan terjadi di antara kita, karena kita tidak mampu dan tidak mau sungguh menjadi “penolong-penantang” bagi satu sama lain. Akibatnya, sejak itu, sampai hari ini, tanpa disadari kita bingung memahami gambaran wajah Tuhan yang utuh. Bagaimana ini bisa terjadi? (Dilanjutkan ke bagian kedua)

About Tano Shirani

Tano Shirani adalah lulusan program teologi Santa Clara University, California, Amerika Serikat. Sudah sejak lama, ia memiliki mimpi untuk ikut melayani orang muda melalui tulisan-tulisan rohani. Tano telah menerbitkan buku Namaku Lazarus: Merangkul Bisikan Kerahiman (Kanisius, 2016) dan Pendosa Jadi Pendoa: Gejolak Pertobatan Tujuh Pemazmur (Kanisius, 2017). Di tengah kesibukan menulis, menerjemahkan, dan menyunting berbagai tulisan, Tano juga melatih penulis-penulis rohani dalam komunitas Domus Cordis. Ia gemar melahap buku, dan sungguh percaya akan the power of words untuk mengubah dunia dan perjalanan seluruh sejarah umat manusia.





2 comments on Mengapa Tuhan kadang terasa kejam, kadang terasa baik? (Bagian 1 dari 3)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top