Mengapa Tuhan kadang terasa kejam, kadang terasa baik? (Bagian 2 dari 3)

Adam dan Hawa telah gagal sebagai “penolong-penantang” bagi satu sama lain, seperti yang kita baca di bagian pertama. Gema kegagalan itu terus kita rasakan dan kita alami hingga hari ini. Tidak selalu mudah menggabungkan tegangan antara peran sebagai “penolong” dan “penantang.”

Menuntut orang lain sebagai ezer

Tangan kita cuma dua, kaki kita cuma dua, tenaga kita terbatas. Secara fisik, kita butuh bantuan orang lain ketika harus membawa barang besar atau berat. Kita pun tahu bahwa kemampuan otak kita terbatas. Ada banyak orang lain yang ahli di bidang mereka. Bantuan dari mereka sangat dibutuhkan. Kita tidak enggan minta bantuan dari mereka.

Namun, tidak sedikit dari kita pernah cedera karena memaksa diri mengangkat barang berat tanpa minta bantuan. Ada masalah dengan komputermu, tetapi kamu sok tau, klik sana, klik sini, dan akhirnya komputermu semakin kusut. Orang yang ahli datang, dan hanya dengan sedikit tindakan, segalanya beres. Jadi, jelas, secara fisik maupun non-fisik, kita butuh seorang ezer dalam hidup kita.

Masalahnya, kita tidak selalu siap untuk menjadi ezer bagi orang lain. Ada suami yang minta agar isteri siap menolong, menjadi ezer baginya, tetapi suami itu tak pernah mau menjadi ezer bagi isterinya. Singkatnya, kita lebih senang “ditolong” daripada “menolong”; lebih senang “dilayani” daripada “melayani”.

Tak suka dikritik

Sebaliknya, betapa kita mudah tersinggung, marah, baper, ketika orang lain yang membantu itu juga memberi kritik kepada kita. Kamu punya rencana, kamu minta tolong temanmu, dan temanmu melihat ada yang tidak baik dalam rencanamu, dan ia menegurmu secara terus-terang, dan kamu sakit hati. Kamu anggap temanmu itu sotoy, cerewet, sirik, bahkan tak berguna.

Lucunya, kamu pun bersikap seperti itu terhadap temanmu. Kamu melihat ada yang tidak beres dan kamu tergerak untuk mengingatkan temanmu itu. Kamu ingin didengarkan, dan betapa sakit hatimu ketika kritik tulusmu itu tidak digubris oleh temanmu itu. Kamu tidak mudah menerima kritik, tetapi kamu sakit hati kalau kritikmu ditolak.

Memang lebih enak jika temanmu tidak pernah menantangmu. Namun, teman yang baik, akan dengan tulus “menantang” kamu. Sayangnya, kita senang “menantang”, tetapi tidak senang “ditantang”. Seperti kisah Adam dan Hawa, terhadap orang lain kita lebih menyukai bagian kenegdo, tetapi enggan menjadi ezer. Sebaliknya, kita berharap agar orang lain tak memperhatikan bagian kenegdo, tetapi sungguh menjadi ezer bagi kita.

Luka mendalam

Tidak sedikit orang tua yang lebih senang menekankan bagian kenegdo, tetapi tidak menjadi ezer bagi anaknya. Mereka hanya menuntut, memarahi, menegur, bahkan memukul, tetapi tidak pernah sungguh hadir dalam hidup anaknya. Luka yang diciptakan dalam diri anak itu bisa sangat serius.

Figur yang punya kekuasaan lebih besar bisa jatuh dalam perangkap kesalahan yang sama. Boss hanya terus marah, tetapi tidak pernah membantu. Cowok senang terus menuntut ceweknya ini-itu, tetapi tak mau menyediakan waktu dan perhatian untuk menolong. Ingin terus ditolong, tetapi tak mau ditegur. Senang memberi kritik, tetapi tak suka dikritik.

Banyak kekusutan terjadi karena kita tidak menaruh perhatian pada gambaran ezer kenegdo secara utuh. Kita tidak mau menjadi “penolong-penantang” dalam tegangan yang seimbang. Bagaimana ini menyebabkan kebingungan kita tentang gambaran wajah Tuhan? (Dilanjutkan ke bagian ketiga)

About Tano Shirani

Tano Shirani adalah lulusan program teologi Santa Clara University, California, Amerika Serikat. Sudah sejak lama, ia memiliki mimpi untuk ikut melayani orang muda melalui tulisan-tulisan rohani. Tano telah menerbitkan buku Namaku Lazarus: Merangkul Bisikan Kerahiman (Kanisius, 2016) dan Pendosa Jadi Pendoa: Gejolak Pertobatan Tujuh Pemazmur (Kanisius, 2017). Di tengah kesibukan menulis, menerjemahkan, dan menyunting berbagai tulisan, Tano juga melatih penulis-penulis rohani dalam komunitas Domus Cordis. Ia gemar melahap buku, dan sungguh percaya akan the power of words untuk mengubah dunia dan perjalanan seluruh sejarah umat manusia.





One comment on “Mengapa Tuhan kadang terasa kejam, kadang terasa baik? (Bagian 2 dari 3)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top