Mengapa Tuhan kadang terasa kejam, kadang terasa baik? (Bagian 3 dari 3)

Melihat kisah Adam dan Hawa di bagian pertama, kita akhirnya melihat bahwa kita masih kerap gagal mewujudkan nilai ezer kenegdo secara utuh. Di bagian kedua, kita melihat keluarga dan perkawinan yang hancur gara-gara mereka gagal mengungkapkan keutuhan nilai ezer kenegdo; komunitas dan relasi pertemanan rusak karena tidak ada kemampuan dan kemauan untuk saling menjadi “penolong-penantang”. Maka, kita harus bertanya, mengapa Tuhan sendirilah yang melihat bahwa tidaklah baik jika Adam seorang diri saja sehingga harus ada seorang ezer kenegdo?

Gambar dan rupa Allah

Dalam Kejadian 1 dikisahkan bahwa Allah menciptakan manusia sebagai gambar dan rupa Allah sendiri, lelaki dan perempuan. Lalu dalam Kejadian 2 dikisahkan bahwa Allah menciptakan Hawa untuk menjadi ezer kenegdo bagi Adam.

Adam dan Hawa

Adam and Eve in the Garden, Lucas Cranach the Elder

Sebenarnya diharapkan agar kepenuhan gambar dan rupa Allah itu terlihat dalam kemampuan Hawa untuk menjadi ezer kenegdo bagi Adam, dan secara timbal balik juga dalam kemampuan Adam sebagai ezer kenegdah bagi Hawa. Hal yang sama dilakukan oleh Tuhan terhadap manusia. Tuhan adalah “penolong” sekaligus “penantang” bagi manusia. Tuhan selalu siap turun tangan untuk membantu kita, tetapi Tuhan juga siap memberi kritik pedas kepada kita jika perlu.

Pertolongan Tuhan

taemen.co.kr

Ini terlihat jelas dalam diri Yesus. Ketika Petrus mulai tenggelam saat berjalan di atas air, Yesus mengulurkan tangan-Nya untuk menolongnya. Pada saat yang sama, Yesus menegur Petrus yang kurang percaya (Matius 14:31). Yesus memperlihatkan kepada kita keutuhan dan keseimbangan peran sebagai “penolong-penantang.” Bahkan, Yesus tidak segan-segan menegur Petrus secara keras, “Enyahlah iblis!” (Matius 16:23).

Sayangnya, ketidakmampuan sebagai “penolong-penantang” bagi satu sama lain membuat kita sulit memiliki gambaran utuh wajah Tuhan. Kita mau agar Tuhan menjadi ezer bagi kita, tetapi kita menolak bagian kenegdo itu.

Gambaran Tuhan seperti apa?

Orang yang semasa kecil diperlakukan keras oleh ayah yang hanya menuntut tanpa pernah membantu, akhirnya punya gambaran sama tentang Tuhan. Bagi mereka Tuhan itu kejam, keras, hanya bisa menuntut, tidak pernah puas, siap mengamati tiap tindakan mereka, dan segera menghukum ketika mereka bersalah. Ini adalah gema luka mendalam karena orang yang punya kuasa hanya memainkan bagian kenegdo, tanpa pernah mau menjadi ezer.

Gambaran Diri

Photo: ST

Ada pula orangtua yang selalu membantu anaknya, tanpa pernah menegur, mengikuti kemauan anaknya, tak pernah menuntut. Setelah dewasa, anak itu berharap bahwa demikian juga seharusnya Tuhan bersikap terhadapnya. Ia ingin agar Tuhan selalu manis terhadapnya, penuh senyum, menerima semua tindakannya, tidak pernah ada teguran, tidak pernah ada hukuman. Sedikit penolakan dari Tuhan sudah cukup baginya untuk menganggap Tuhan itu kejam.

Tuhan sebagai penolong-penantang

Tuhan itu maharahim, siap mengampuni, siap menolong tanpa kenal lelah. Tuhan punya kuasa tak tertandingi untuk memberi bantuan apa pun yang kita butuhkan. Namun demikian, janganlah kita lupa, bahwa Tuhan tidak bisa kita dikte supaya selalu memenuhi apa yang kita mau. Tuhan berhak menuntut dari kita, menolak, bahkan jika perlu menegur secara keras.

Kalau Tuhan sedang menjadi “penantang” bagi kita, janganlah kita buru-buru baper. Mungkin ada sesuatu yang serius yang tidak mau kita lihat. Ketika kita kecewa karena Tuhan tidak mengabulkan doa kita, janganlah kita buru-buru memberi cap bahwa Tuhan pilih kasih dan tidak mau membantu. Singkatnya, Tuhan bisa “menolong”, tetapi juga bisa “menantang”. (Selesai)

“Sungguh sebuah kelemahan besar, jika kita mengasihi Yesus Kristus hanya ketika ia membelai kita, dan segera menjadi acuh tak acuh ketika ia menghajar kita. Yang seperti ini bukan cinta sejati. Mereka yang mengasihi dengan cara demikian terlalu mengasihi diri mereka sendiri, sehingga tidak mampu mengasihi Allah dengan segenap hati.” (St. Margaret Mary Alacoque)

About Tano Shirani

Tano Shirani adalah lulusan program teologi Santa Clara University, California, Amerika Serikat. Sudah sejak lama, ia memiliki mimpi untuk ikut melayani orang muda melalui tulisan-tulisan rohani. Tano telah menerbitkan buku Namaku Lazarus: Merangkul Bisikan Kerahiman (Kanisius, 2016) dan Pendosa Jadi Pendoa: Gejolak Pertobatan Tujuh Pemazmur (Kanisius, 2017). Di tengah kesibukan menulis, menerjemahkan, dan menyunting berbagai tulisan, Tano juga melatih penulis-penulis rohani dalam komunitas Domus Cordis. Ia gemar melahap buku, dan sungguh percaya akan the power of words untuk mengubah dunia dan perjalanan seluruh sejarah umat manusia.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top