Menjadi Pemimpin yang Tegas

Menjadi seorang pemimpin memang tidaklah mudah. Terima kasih buat kamu yang telah mengambil kesempatan, komitmen, dan tanggung jawab dalam sebuah kepemimpinan. Berbicara tentang kepemimpinan, ada beberapa hal yang tampaknya perlu ditegaskan jika kamu adalah seorang pemimpin. Saya melihat para klien saya menutup mata terhadap hal-hal yang mereka tangani, mereka terlihat begitu “baik”, nice, yang bukannya membawa dampak positif, malah bisa membawa dampak buruk, karena nice itu bisa berarti nothing inside me cares enough (saya sebenarnya tidak peduli).

Kamu mungkin menganggap bahwa dengan bertindak demikian, berarti kamu berlaku baik kepada rekan-rekan kerjamu, yaitu dengan tidak menunjukkan kesalahan mereka, dengan tidak memecat atau mengeluarkan mereka, atau pun dengan tidak mempekerjakan mereka lebih keras lagi. Padahal, kalau kamu melakukan itu, yang sedang kamu lakukan sebenarnya adalah menciptakan generasi yang lembek, karyawan yang manja, yang tidak akan melakukan lebih dari apa yang diminta kepada mereka, dan saya rasa hal seperti ini sebenarnya mengingkari tujuan kepemimpinanmu.

Sebelum saya bagikan 3 (tiga) hal yang bisa dilakukan dalam kepemimpinanmu agar lebih tegas, saya ingin berbicara sedikit mengenai tujuan kepemimpinan.

Apa artinya kepemimpinan yang memiliki tujuan dan makna?

Untuk alasan tertentu, Tuhan telah menempatkan dan memberikan kepadamu kesempatan untuk memimpin. Tidak semua orang bisa melakukan apa yang sedang kamu lakukan sekarang, tidak semua orang memiliki kemampuan yang kamu miliki. Karena alasan tertentu, kamu ini istimewa. Kamu telah dikaruniai sedikit lebih banyak daripada orang lainnya. Sekarang, kalau kamu menggunakan karunia itu hanya demi dirimu sendiri, hanya untuk menikmati keuntungan-keuntungan tertentu seperti karier yang lebih baik, gaji yang lebih baik, atau mendapatkan lebih banyak pengakuan dan penghormatan, biasanya itu dilakukan oleh para pemimpin yang baru terpilih. Namun, seiring dengan perkembanganmu dalam pendewasaan kepemimpinan, kamu akan belajar bahwa semuanya bukan melulu tentang kamu, dirimu, atau bagaimana kariermu.

Dengan kepemimpinan, kamu diberikan sebuah kesempatan untuk membuat dampak. Kamu diberikan kemampuan untuk mempengaruhi orang lain, supaya mereka bisa menjadi orang-orang yang lebih baik daripada sebelum mereka bekerja untukmu. Ketika orang-orang baru bergabung dengan departemenmu, ketika mereka baru kamu pimpin, mungkin mereka belum begitu bagus, tetapi sewaktu mereka mengakhiri masa kerja mereka denganmu, mereka sudah menjadi orang yang lebih baik lagi. Atau mungkin, mereka sudah baik sekarang, tetapi di kemudian hari menjadi lebih baik lagi. Itulah tujuan kepemimpinan yang harus selalu kamu ingat, karena tidak semua orang bisa melakukan apa yang kamu lakukan.

Jika kamu memutuskan untuk benar-benar menghidupi kepemimpinanmu, bertekad untuk melakukan apa yang benar, jika orang yang kamu pimpin performanya tidak baik, tidak melakukan apa yang seharusnya, maka untuk membangun dirinya, kamu berkewajiban untuk menegur. Jika orang itu terus-menerus mengulanginya, maka, demi menjamin kualitas dan mutu, kamu berkewajiban untuk mengizinkan dia meninggalkan organisasimu. Sedangkan jika seseorang mampu melakukan lebih banyak pekerjaan dan tanggung jawab, kamu berkewajiban untuk mendorong mereka.

Jika kamu melakukannya, maka kamu mengambil risiko untuk tidak disukai. Menjadi seorang pemimpin mungkin menjadikanmu sebagai salah seorang yang tidak populer. Namun, akan ada orang yang datang kepadamu dan mengatakan, “Jika bukan karenamu, aku tidak akan bisa mengembangkan potensiku. Kamu sudah menunjukkan kepadaku apa yang bisa aku lakukan.” Hal ini pernah terjadi kepada saya, dan mendengar kata-kata tersebut benar-benar membuat saya puas. Itulah tujuan kepemimpinan: Melihat bawahan naik menjadi atasan, dan atasan berkembang lebih jauh daripada apa yang bisa mereka bayangkan.

Sekarang, saya akan membagikan 3 (tiga) hal yang bisa kamu lakukan dengan lebih tegas sebagai seorang pemimpin.

  1. Segera memberikan koreksi

il8.picdn.net

Jika kita tidak memberikan koreksi segera setelah seseorang melakukan kesalahan, maka ia akan melupakan kalau ia telah melakukan kesalahan itu, move on dan mengulangi kesalahan yang sama. Karena nothing inside me cares enough, kamu sebenarnya tidak peduli dengan waktu mereka. Kalau kamu peduli dengan waktu yang mereka miliki, kamu akan peduli bagaimana mereka bisa segera berhenti melakukan kesalahan dan tidak membuang waktu mereka dengan mengulangi kesalahan yang sama. Dengan menegur orang yang bersalah segera dan lebih cepat, maka kamu menghemat waktu mereka dengan tidak melakukan kesalahan yang sama di masa depan. Kamu juga menghemat waktu mereka dengan mencari solusi yang terbaik demi membantu mereka untuk mencapai performa yang mereka butuhkan.

  1. Berani memecat seseorang

talentshunter.com

Banyak orang tidak berani memecat pegawainya karena hal itu tidak nice. Kalau kamu melihat tindakan pemecatan terhadap seseorang sebagai tindakan yang tidak menguntungkan orang tersebut, kamu akan menggunakan berbagai alasan untuk tidak melakukannya. Namun, kenyataannya, alasan mendasar mengapa kamu tidak ingin memecat seseorang bukanlah karena kamu mengasihani orang tersebut, melainkan karena kamu tidak ingin merasa bersalah, dan alasan ini adalah alasan yang egois.

Bagi saya, alasan untuk memecat seseorang adalah untuk membantu orang itu menemukan pekerjaan lain yang lebih cocok baginya. Tidak ada seorang pun yang bangun pagi dengan niat untuk gagal melakukan pekerjaannya, tidak ada yang merasa senang karena kegagalan, dan tidak ada yang ingin satu kantor menertawakannya karena kegagalannya. Namun, ada orang-orang yang berada di posisi tersebut, mungkin karena recruitment yang buruk, tidak tersedianya pengembangan bagi dirinya, atau ia sendiri memilih untuk menghentikan performanya. Jika kamu tidak melakukan sesuatu terhadapnya, kamu menciptakan seseorang yang sangat tidak termotivasi, yang bisa membuat orang itu merasa buruk terhadap dirinya sendiri hingga mempengaruhi aspek hidupnya yang lain. Apakah kamu akan membiarkan hal itu demi terlihat baik, nice, di hadapan semua orang?

Kalau kamu harus memecat mereka, pecatlah dengan tunjangan yang baik. Kamu bisa membantu mereka mencari pekerjaan, kalau kamu mau. Pecatlah, bahkan jika mereka sudah berumur 45 tahun. Mereka masih memiliki waktu 20 tahun lagi, dan bisakah kamu bayangkan waktu selama 20 tahun merasa payah dan tidak berguna? Carikanlah mereka tempat yang bisa membuat mereka merasa diri mereka baik dan berguna. Atau berikanlah mereka bantuan untuk mengembangkan diri, karena mungkin alasan mereka begitu payah adalah karena kamu tidak mengembangkan diri mereka. Antara kamu mau memecat mereka, atau mengembangkan mereka, pilihlah salah satu yang harus kamu lakukan.

  1. Berikan beban pekerjaan yang lebih banyak

www.managersareheroes.com

Di negara kita, dibutuhkan 5 (lima) orang untuk mengerjakan pekerjaan yang sama yang seharusnya bisa dilakukan 1 (satu) orang di Singapura. Kebanyakan orang terbiasa untuk bekerja dengan lambat karena memiliki banyak rekan sekerja. Mereka tidak mengerti bagaimana bekerja dalam organisasi yang ramping. Kita merekrut orang baru lebih banyak. Namun, alasannya mungkin karena kita tidak percaya kalau mereka bisa melakukan lebih banyak pekerjaan.

Kamu perlu terbuka terhadap karyawanmu dan mempersiapkan mereka untuk persaingan global. Persaingan sekarang ini bukan hanya antara Indonesia dan Indonesia. Ada lebih banyak orang di Asia Tenggara yang bekerja dengan lebih efektif dan efisien daripada orang-orang di Indonesia. Kalau karyawanmu tidak sanggup bersaing, maka mereka akan kalah dari orang-orang Asia Tenggara yang lain. Kalau alasan kita menjadi pemimpin adalah untuk memberikan kontribusi bagi mereka yang bekerja pada kita, maka ajarkanlah kepada mereka agar tidak kalah dalam persaingan ini, termasuk kalau kamu perlu mengurangi jumlah karyawanmu, janganlah mencari pengganti dari orang-orang yang dipecat supaya sisa karyawanmu bisa bekerja lebih cepat. Hal seperti ini akan membuat karyawanmu lebih siap bersaing secara global.

Saya tidak pernah merasa buruk dalam meningkatkan beban kerja seseorang. Tentu saja saya tahu batas kemampuan saya, saya tahu kapan harus memperkerjakan orang baru. Namun, kita bisa melihat bagaimana orang-orang menggunakan waktu mereka dalam bekerja. Kamu memberi mereka banyak waktu karena kamu memberikan mereka sedikit pekerjaan dan mereka dengan senang hati mengambil apa yang kamu berikan, dan mereka pikir mereka sudah sibuk. Kamu memberikan mereka dua pekerjaan dalam sehari dan mereka akan mengatakan kalau mereka sibuk. Kamu memberikan mereka lima pekerjaan dalam sehari dan mereka akan melakukannya walaupun mereka mengatakan bahwa mereka sibuk. Sibuk akhirnya menjadi sebuah kata yang relatif.

So…

Itulah 3 (tiga) hal yang bisa kamu lakukan dengan lebih tegas sebagai seorang pemimpin. Tentunya dengan mengingat tujuanmu sebagai seorang pemimpin, bahwa kamu ada di sini dengan sebuah tujuan, kamu ada di sini untuk membuat hidup orang lain menjadi lebih baik, kamu akan menjadi semakin tegas dalam memimpin karena kamu tahu apa yang kamu perlukan untuk membangun diri orang lain.

Hal inipun bisa kita pelajari dari sosok Yesus, yang berani melakukan apa yang harus dilakukan, ketika Ia mengusir para pedagang di Bait Allah. “Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati,” (Mat 21:12). Saat itu, Yesus mungkin tidak terlihat baik, nice, tetapi Ia berani melakukannya demi kebaikan.

So, jadilah pemimpin yang tegas, berani bertindak untuk kebaikan. Bukan menjadi pemimpin yang hanya terlihat nice.

About Cynthia Wihardja

Cynthia adalah seorang top-ranked international business coach yang memiliki misi menuntun orang muda menjadi pemimpin-pemimpin yang sukses. Ia percaya bahwa kepemimpinan adalah sebuah panggilan, bukan hanya sebuah pekerjaan. Keahliannya di bidang bisnis dan psikologi akan menolongmu melihat banyak hal, seperti tujuan personal, life balance, komunikasi, pengelolaan emosi, dan performa yang tinggi, dari sudut pandang yang lebih kaya.

Saat ini, Cynthia melayani sebagai Board Member in the British Chamber of Commerce di Indonesia dan melayani komunitas-komunitas nirlaba. Iman Katolik menolongnya menemukan tujuan, kepenuhan, dan kedamaian hidup. Melalui pengalaman-pengalaman dalam hidupnya, ia mulai mengerti kenapa Tuhan memberikannya talenta yang demikian, serta mempertemukannya dengan orang-orang di sekelilingnya. Cynthia juga percaya kalau ajaran Gereja dan bisnis bisa berjalan bersamaan, karena menolong orang lain akan membutuhkan uang dan perbaikan sistem.





One comment on “Menjadi Pemimpin yang Tegas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top