Mission (I’m)Possible: “Kapan Kaya Nih?”

Duh, padahal baru gajian tapi cuman numpang lewat buat bayar tagihan kartu kredit, bayar ini dan itu! Kapan nabungnya? Kalo gini terus kapan gue kayanya? Uang, uang, dan uang, sehari-hari masalah kita berhubungan dengan uang, maka tak heran sebagian orang menganggap bahwa “money is everything”. Dengan uang kita bisa lakukan apa saja yang kita mau. Sebaliknya, uang juga dapat menyebabkan perceraian dan pertengkaran antar saudara. Powerful kan uang itu! Tidak dapat disangkal lagi, dalam hidup kita memerlukan uang. Ada banyak cara mendapatkan uang, lewat income aktif/pasif, investasi, dan tabungan. Kita juga seringkali berdoa meminta uang lebih untuk kenyamanan hidup kita. Namun pernahkah kita bertanya, “Seberapa pantas kita menerima uang lebih tersebut?” Dalam Inspire Young People, Cynthia mengajukan pertanyaan bagus: “Apakah kita sudah memberikan nilai lebih pada apa yang kita kerjakan?” Beranikah kita bikin list kualifikasi dan cross check apakah menurut kita sudah masuk dalam kualifikasi tersebut. So, uang merupakan hasil yang kita dapatkan setelah kita melalui proses yang membuat kita pantas mendapatkan sejumlah uang tersebut. Pertanyaan-pertanyaan ini membuat gue tersadar bahwa seringkali gue memaksa Tuhan untuk memberikan rezeki tanpa introspeksi lebih dulu.

Salah satu hal yang menginspirasi gue adalah penjelasan mengenai bagaimana mengelola keuangan dengan bijak. Menurut salah satu rumusan dalam buku Rich Dad Poor Dad, kita bisa coba mengalokasikan penghasilan kita dengan pembagian 50% untuk kebutuhan sehari-hari, 20% untuk investasi, dan 30% untuk tabungan. Selain bisa menghasilkan uang, kita juga harus belajar menggandakan uang lewat investasi, sehingga akhirnya uang yang akan bekerja untuk kita. Inspire Young People kali ini menghadirkan 2 narasumber istimewa: Bryan Tilaar (Martha Tilaar Group) dan Jody Dharmawan (CEO Lee Cooper Indonesia). Gue belajar banyak dari mereka. Karena Bryan gue jadi mengerti bahwa dalam menjalankan bisnis kita harus punya etika, sehingga dapat memberkati kehidupan orang lain. Uang kas memang diperlukan untuk kesejahteraan hidup kita. Tapi apakah berkat yang telah Tuhan berikan hanya mandeg di kita saja ato kita sudah menjadi saluran berkat bagi orang lain? Dari Jody gue belajar bahwa uang bukanlah segalanya. Semakin banyak uang dia punyai, dia merasa semakin takut kehilangan. Bagaimana sikap hati kita dalam memberikan persembahan di gereja atau menyumbang anak yatim piatu? Ada satu quote yang bagus dari Cynthia: “Berikanlah apa yang takut kamu berikan”.

Sebagian besar orang menganggap bahwa kekayaan adalah seberapa banyak uang yang kita miliki. Tapi realitanya, selamanya uang tidak akan pernah cukup dan kita tidak akan bebas jika terikat pada uang tersebut. Kaya adalah sebuah mindset! Bagi Tuhan, kaya yang sesungguhnya adalah saat kita dengan rela memberi kepada orang lain yang membutuhkan pertolongan kita. Kita kaya karena kita bersyukur atas banyaknya berkat yang kita punya, sehingga kita dapat membagikan buat orang lain. Semakin banyak uang kita punyai semakin besar tanggung jawab untuk membantu sesama kita. So, kaya bukan melulu soal uang lho! Namun, ada banyak aspek kehidupan lain yang perlu diperhatikan seperti keuangan, ilmu pengetahuan dan keterampilan, kesehatan, keluarga, relationship, kehidupan sosial, etika, dan pekerjaan. Sudahkah kita menyeimbangkan aspek-aspek ini? Dan sudahkah kita siap memberi lebih banyak lagi untuk sesama?

Tonton tayangannya di sini:

Dan berikut talkshow bersama 2 narasumber:





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top