Mission (I’m)Possible: LGBT?

 

Pernah ga sih ngebayangin liat langsung cowok sama cowok ciuman? Ato cewek menikah sama cewek? Kalo gue pribadi agak aneh sih. Buat masyarakat yang tinggal di negara dengan western culture menganggap hal itu sudah biasa, namun masyarakat Indonesia masih menilai negatif orang-orang lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Dalam Inspire Young People kemarin, dihadirkan Anggi dan Samuel yang pernah mengalami sendiri kehidupan sebagai kaum LGBT. Mereka membagikan pengalaman bagaimana Tuhan merangkul dan bisa mengubah hidup mereka. Sharing mereka menegur gue, siapakah gue ini sampai bisa dengan mudahnya men-judge mereka dengan label-label negatif? Dunia boleh saja memberi label “gay” dan “lesbian”, namun, bagi Tuhan, identitas semua orang adalah anak-anak kesayangan-Nya. Identitas kita tidak ditentukan oleh apa yang kita lakukan, ataupun ketertarikan seksual saja.

Kalo Allah mengasihi anak-anak-Nya, kenapa Gereja ga menyetujui pernikahan sesama jenis? Bagi Gereja Katolik, Sakramen Perkawinan merupakan persatuan kudus antara pria dan wanita, sehingga menjadi role model bagi sakramen yang lain. Tuhan menciptakan pernikahan sebagai tanda cinta Tuhan terhadap jemaat-Nya. Dalam pernikahan, suami dilambangkan sebagai Kristus dan istri merupakan jemaat bagi suaminya. Hal ini tidak dapat diubah-ubah lagi.

Lalu gimana orang-orang “gay” dapat mengungkapkan cinta mereka kalo ga boleh melakukan seks? SEX does not equal with LOVE. Seseorang yang menahan diri untuk tidak berhubungan seks dengan pasangannya sebelum menikah merupakan tanda cinta sejati untuk kebaikan pasangannya. Orang-orang yang memiliki ketertarikan dengan sesama jenis justru memiliki panggilan istimewa untuk hidup selalu dekat dengan Tuhan. Susah? Banget! But, possible lho! Kalo kata Samuel, “You’ve to be stupidly and crazily in love with Jesus,” cinta Tuhan sendiri lah yang mengisi hati kita.

Lewat sharing Anggi dan Samuel, gue belajar bersyukur kalo masih banyak orang lain yang hidupnya lebih struggle daripada gue. Kesaksian mereka membuktikan semakin mereka belajar untuk lebih dekat dengan Tuhan, iblis ga akan tinggal diam dan godaan untuk kembali ke dosa lama semakin kuat. Dengan terus melekat dan minta tolong sama Tuhan, mereka dapat melewati prosesnya. Meskipun mereka sering jatuh, ternyata Tuhan menyediakan orang-orang yang tidak pernah mereka pikirkan untuk mendukung mereka kembali kepada Tuhan. Talk kali ini membuka cara pandang baru gue tentang kaum LGBT dan menginspirasi gue to be friend with them. Seperti yang Samuel katakan “Jangan benci orangnya, tetapi bencilah dosanya.” Buat kalian yang punya ketertarikan dengan sesama jenis, jangan pernah takut untuk ikut Tuhan yah dan belajar hidup kudus. You always have a place inside the Church. (Written by @inggridnugroho, edited by@kevinandreant).

Saksikan video Inspire Young People:

Video talkshow Inspire Young People:





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top