Nama Yesus emang bikin rempong!

Pernah denger cerita soal cewek Latina yang namanya Iloveny? Sebelum dia lahir, bokapnya bingung musti kasih nama apa, karena cuma ngerti bahasa Spanyol dan bahasa Inggrisnya masih pas-pasan. Waktu lagi bingung, dia lihat billboard besar bertuliskan I LOVE NY. Bingo! Karena bunyinya bagus, dan nggak tau artinya apa, anaknya dikasih nama ILOVENY.

Tiap nama punya arti.

Pendiri Pizza Hut, misalnya, punya alasan kenapa milih nama itu. Dalam kisah Natal, Yusuf nggak perlu pusing cari nama. Malaikat yang kasih tau: Bayi itu harus diberi nama Yesus. Di dalam nama itu, ada kata kerja bahasa Ibrani yang artinya, “menyelamatkan.” Memang betul tuh nama pasaran waktu itu. Tapi lihat setelah Pentakosta, para murid Yesus sadar kalau Nama yang Satu ini bisa bikin rempong. Di Bait Allah, jam tiga sore, Petrus dan Yohanes dicegat pengemis. “Kita mah nggak punya emas, nggak punya perak. Kita sama-sama miskin, Bro. Tapi, yang kita punya, kita kasih sekarang juga. Dalam NAMA YESUS, berjalanlah!” (lih. Kis 3:6). Pengemis lumpuh itu berdiri, loncat-loncat, lari-lari keliling, sambil muji-muji Tuhan.

Untuk orang Karismatik, ini nampar banget.

Kita bisa jadi lebih asik ngajak orang untuk terima karisma Roh Kudus. Kita doain supaya orang disembuhin, supaya dibebasin dari ikatan roh jahat, supaya terbuka pada karunia bahasa Roh, supaya dibaptis dalam Roh. Ya, nggak salah sih, karena banyak orang masih tertutup pada karunia-karunia Roh Kudus. Pertanyaannya, apa kita kasih Yesus ke mereka? Apa kita udah ngalamin kuasa dalam Nama Yesus itu? Lihat aja contohnya, kita bisa berbahasa Roh, tapi begitu ketemu sama “orang pinter” yang ngomong dan meramalkan ini-itu, langsung kita ciut, jiper, ababil. Kita bisa tiba-tiba amnesia kalau dalam Nama Yesus ada kuasa luar biasa.

Nama Yesus gak perlu disebut-sebut?

Kembali ke Petrus dan Yohanes. Saat Pentakosta baru saja dialami. Mereka ngomong berbagai bahasa. Petrus kotbah, tiga ribu orang dibaptis! Jumlah terus nambah. Tapi kenapa ke pengemis yang ketemu sama Petrus dan Yohanes, Petrus nggak bilang, “Terimalah Roh Kudus” aja? Petrus dan Yohanes diadili. Diancam keras: JANGAN LAGI BAWA-BAWA NAMA ITU! Nama Yesus emang bikin rempong. Semua tau itu. Kalau Nama Yesus terus dibawa-bawa, bisa-bisa makin banyak orang jadi pengikutNya. So, para murid boleh ngapain aja, boleh ngomong apa aja, boleh pergi ke mana aja, asal mereka nggak sebut Nama Yesus.

Ironisnya, di lembaga-lembaga Katolik yang gembar-gembor sikap inklusif, mau ngomong tentang iman Katolik justru dikasih nasihat: “Supaya yang non-Kristiani nggak merasa terasing, baiknya nggak usah banyak-banyak nyebut Nama Yesus.” Kalau kita nggak lagi yakin akan kuasa dahsyat dalam Nama Yesus, dan kalau demi sikap inklusif, kita nggak boleh dan nggak berani lagi nyebut Nama Yesus, kita — orang Katolik — bakal jadi loyo.

Ayo, lebih serius sama Nama Yesus!

Kalau nggak tau mau doa apa, sebut Nama Yesus. Kalau nggak tau kasih solusi apa, bilang, “Gue nggak punya solusi, tapi gue kasih yang gue punya. Dalam Nama Yesus . . . !” Dengan nyebut Nama Yesus, seluruh daya, kebenaran, misteri, kehadiran terkait pribadi Yesus, semuanya menjadi nyata dan punya efek. Yesus selalu siap “menyelamatkan,” sesuai dengan arti NamaNya. Mungkin kitanya yang nggak serius dan nggak siap nyebut Nama Yesus, karena kita sendiri takut rempong. Siap nggak siap, Nama Yesus pasti bikin rempong!

Kita perlu lebih serius sama Nama Yesus. Biarlah Nama Yesus tetap Yesus.
Tapi, kalau ada yang ngubah nama Pizza Hut jadi Fitsa Hats, nah, itu cerita lain.


Inspire Facts

Kristogram IHS adalah simbol Yesus Kristus dalam bentuk akronim (singkatan) dari nama Yesus yang dalam bahasa Yunani bertuliskan IHΣΟΥΣ, dibaca iēsous (Yesus).

St. Ignasius dari Loyola, pendiri Ordo Serikat Yesus (Society of Jesus, SJ) mengadopsi simbol IHS sebagai emblem resminya pada abad ke-17. Dalam emblem ini, terdapat Tanda Salib, IHS, dan tiga buah paku, sehingga seolah-olah bertuliskan IHSV. IHSV sendiri merupakan singkatan pepatah bahasa Latin In Hoc Signo Vinces, “Dalam Tanda (Salib) ini, kamu akan menang.”

Disajikan oleh admin, dari berbagai sumber.

 

About Tano Shirani

Tano Shirani adalah lulusan program teologi Santa Clara University, California, Amerika Serikat. Sudah sejak lama, ia memiliki mimpi untuk ikut melayani orang muda melalui tulisan-tulisan rohani. Tano telah menerbitkan buku Namaku Lazarus: Merangkul Bisikan Kerahiman (Kanisius, 2016) dan Pendosa Jadi Pendoa: Gejolak Pertobatan Tujuh Pemazmur (Kanisius, 2017). Di tengah kesibukan menulis, menerjemahkan, dan menyunting berbagai tulisan, Tano juga melatih penulis-penulis rohani dalam komunitas Domus Cordis. Ia gemar melahap buku, dan sungguh percaya akan the power of words untuk mengubah dunia dan perjalanan seluruh sejarah umat manusia.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top