Nekad Melampaui Logika dengan Mengampuni

“Pokoknya gue nggak bakalan pernah ngampunin bokap gue. Enak aja, dulu dia ninggalin keluarga, sekarang tau-tau balik mau minta maap.” “Biar tau rasa dia. Orang-orang di sekitarnya gue kasih tau masa lalunya yang gelap. Biar dia tau gimana rasanya ditolak, kayak dulu dia nolak gue.” “Kesalahan anak gue nggak bakalan gue maapin. Sampe mati, buat gue, dia udah bukan lagi anak gue.”

Ujaran-ujaran seperti itu sering kita dengar. Mungkin kita termasuk orang yang mengucapkannya. Contoh serupa masih banyak, dan semuanya menyuarakan hal yang sama: Orang yang pernah disakiti merasa puas bisa membalas kesalahan dengan sengaja tidak mengampuni, dengan sengaja mengungkit kesalahan, dengan sengaja membuat orang lain itu menderita. Singkatnya, dengan tidak mengampuni, banyak dari kita merasa diri sebagai pemenang atas orang yang bersalah terhadap kita.

Divine Mercy Sunday

Hari Minggu Paskah II, yang menutup Oktaf Paskah, kita kenal juga sebagai Hari Minggu Kerahiman Ilahi, Divine Mercy Sunday. Ada dua hal yang bisa kita petik dari sini.

Penampakan Kristus

Appearance of Christ to His Disciples, Anthony van Dyke (1955-1641)

Pertama, sesudah Yesus bangkit, Ia menampakkan diri kepada para murid-Nya. Sungguh luar biasa! Belum lama sebelumnya, ketika Yesus berdoa dalam kepedihan, tiga murid pilihan-Nya justru tidur pulas. Nggak ada yang kuat berjaga bersama Dia. Ketika Yesus ditangkap, mereka melarikan diri. Bahkan Petrus, orang kepercayaan-Nya, nggak berani ngaku kalau dia adalah pengikut-Nya.

Ada cukup alasan bagi Yesus untuk melupakan saja para murid-Nya itu. Ada alasan logis untuk menampakkan diri kepada mereka dan langsung melabrak mereka dengan berbagai makian: “Kenapa pada ngabur semua?! Kenapa kamu, Petrus, menyangkal Aku?! Kenapa semua jadi pengecut?! Kalian bener-bener mengecewakan. Nggak ada gunanya semua yang sudah Kuajarkan! Aku nggak punya harapan lagi sama kalian!”

Ternyata bukan itu yang Yesus lakukan. Ia menampakkan diri kepada mereka, tersenyum, membuat mereka merasa tetap dicintai, sungguh memahami situasi mereka. Ia menyapa: “Damai bagimu”, “Ampunilah dosa orang lain”, “Pergilah dan berceritalah tentang Aku”, “Kamu adalah saksi-saksi-Ku.” Dengan kata lain, Yesus bilang ke mereka, “Aku mengampuni kamu semua, dan Aku tetap percaya akan adanya kebaikan dalam dirimu masing-masing.”

Kedua, “kerahiman” disoroti secara khusus sesudah “kebangkitan”. Artinya, kalau kamu ingin mengalami kebangkitan bersama Yesus yang sudah mengalahkan maut, ampunilah semua yang telah bersalah kepadamu! Tanpa kamu sadari, dengan sengaja menahan pengampunan, sebenarnya kamu membiarkan dirimu terperangkap terus dalam kubur gelapmu. Yesus berbisik: “Apa pun dosamu, Aku mengampunimu. Bangkitlah bersama-Ku. Terimalah rahmat-Ku, agar dengan cinta-Ku kamu bisa mengampuni.”

Kebangkitan yang disertai kerahiman

Merayakan kebangkitan di hari Paskah tidak akan lengkap tanpa tindakan kerahiman secara nyata. Jangan biarkan dirimu terus digerogoti oleh dendam. Jangan terjebak dalam rasa menang palsu karena kamu tidak mau mengampuni mereka. Jangan berusaha menambah kebahagiaanmu dengan sengaja membiarkan orang yang pernah bersalah terhadapmu terus menderita.

Untuk bisa mengampuni, dibutuhkan rahmat Tuhan. Kalau kamu merasa ada bagian dari dirimu yang masih dilumpuhkan oleh kesalahan orang lain terhadapmu, inilah saatnya menyirami orang tersebut dengan kerahiman dari Tuhan sendiri. Dengan itulah kamu akan dibebaskan dari kelumpuhanmu selama ini.

Pengampunan itu illogical (tidak logis), karena pengampunan itu trans-logical (melampaui yang logis). Itulah yang terus dilakukan Yesus terhadapmu. Itu pulalah yang perlu terus kamu lakukan bersama Yesus bagi orang lain.

Selamat merayakan Hari Minggu Kerahiman Ilahi!

About Tano Shirani

Tano Shirani adalah lulusan program teologi Santa Clara University, California, Amerika Serikat. Sudah sejak lama, ia memiliki mimpi untuk ikut melayani orang muda melalui tulisan-tulisan rohani. Tano telah menerbitkan buku Namaku Lazarus: Merangkul Bisikan Kerahiman (Kanisius, 2016) dan Pendosa Jadi Pendoa: Gejolak Pertobatan Tujuh Pemazmur (Kanisius, 2017). Di tengah kesibukan menulis, menerjemahkan, dan menyunting berbagai tulisan, Tano juga melatih penulis-penulis rohani dalam komunitas Domus Cordis. Ia gemar melahap buku, dan sungguh percaya akan the power of words untuk mengubah dunia dan perjalanan seluruh sejarah umat manusia.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top